Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#59



“Apa kamu bahagia dengan hidupmu saat ini?” Juan kembali mengulangi pertanyaannya karena melihat Aurora hanya diam dan melihat ke arah luar jendela.


“Menurutmu?” Aurora menoleh dan menatap manik mata Juan yang kini menghentikan laju kendaraannya. Ia lebih memilih untuk menghentikan mobilnya daripada tidak fokus dan menyebabkan hal buruk terjadi.


Juan menoleh ke arah Aurora dan melihat senyuman Aurora, “Wajahmu memang tersenyum dan terlihat bahagia, tapi tidak dengan matamu.”


Aurora menundukkan kepalanya, kemudian tersenyum seakan mengejek dirinya sendiri. Apa yang dikatakan oleh Juan memang benar. Ia bahagia dengan kehidupannya saat ini, namun di dalam hatinya ia merasa kosong, seakan sebagian dari dirinya telah lenyap.


“Apa kita tidak jadi ke kota?” Aurora memecah keheningan di antara mereka.


Juan yang tersadar akhirnya kembali melajukan mobilnya. Kini benar-benar hanya keheningan yang ada di antara mereka, hingga sampai di kota.


Juan memarkirkan mobilnya di tempat parkir di mana di hadapannya terdapat berderet-deret kios yang menjual berbagai macam cindera mata dan keperluan sehari-hari. Desa Flam memang merupakan desa wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan.


Juan meraih tangan Aurora dan menggenggamnya. Ia tak akan membiarkan wanita itu sendirian, apalagi sedang dalam keadaan hamil.


“Kamu mau ke mana?” tanya Aurora karena Juan melewati kios-kios tersebut kemudian masuk ke sebuah jalan yang berada di tengah-tengah bangunan kios.


Mereka menyusuri jalan setapak dengan tanaman yang tidak terlalu tinggi di sebelah kiri dan kanan. Dari jalan setapak itu terlihat Desa Flam yang sangat indah dengan hamparan padang rumput yang luas. Aurora begitu senang melihatnya, hingga matanya berbinar-binar.


Juan tersenyum saat melihat bagaimana Aurora mengagumi keindahan Desa Flam, padahal ia sudah tinggal di sana selama beberapa bulan.


Juan mengajak Aurora memasuki salah satu bangunan bertingkat dua yang langsung menghadap ke arah Desa Flam.


“Selamat pagi, Juan!” sapa seorang wanita paruh baya yang sedang duduk sambil menikmatu secangkir teh, “Apa kamu sedang libur dari acara syuting?”


“Pagi Lucrezia! Bagaimana kabarmu?” tanya Juan.


“Tentu saja aku baik, apalagi hari ini bisa melihatmu di sini, rasanya aku ingin menari bersamamu,” ungkap Lucrezia senang.


“Kita akan menari bersama di Hari Sabtu nanti, bukankah kita akan mengadakan acara barbeque di peternakan?” tanya Juan.


“Ahhh kamu benar. Setiap tahun aku selalu menantikan kepulanganmu karena acara itu. Aku ingin berdansa denganmu.”


“Aku menantikannya,” Juan tersenyum saat menanggapi ucapan Lucrezia.


“Dan siapa yang kamu bawa bersamamu? Wahhh apa dia istrimu? Kamu pulang-pulang langsung membawa istrimu yang tengah hamil. Sungguh ini kejutan yang menyenangkan bagi seluruh penduduk Desa Flam.”


Juan mengajak Aurora berkeliling di dalam bangunan tersebut sambil memeriksanya. Tak ada satupun ruangan yang terlewatkan. Kini mereka berada dalam salah satu kamar tidur yang kosong, Juan memeriksa segala perlengkapan yang ada di sana. Aurora melihat ke arah jendela yang terbuka, terpaan angin menyentuh wajahnya dan menerbangkan rambutnya yang ikal.


Inilah yang ia sukai dari Desa Flam, pemandangan yang indah serta ketenangan dan kedamaian. Meskipun hatinya kosong, tapi Aurora masih bisa merasakan ketenangan yang sangat ia butuhkan.


“Sepertinya kamu sangat menikmatinya,” bisik Juan di telinga Aurora, membuat gelenyar berbeda kembali menelisik ke dalam dirinya.


Aurora menoleh dan membuat wajahnya dan wajah Juan begitu dekat, seakan tanpa jarak, “Apa kamu tidak merindukanku?” tanya Juan dengan tetap menatap manik mata milik Aurora.


“A-aku …,” tanpa banyak bicara, Juan langsung menyambar bibir Aurora dan memberikan lummatan di sana. Tangan sebelah kanan memegang pinggang Aurora, sementara sebelah kiri memegang tengkuk untuk memperdalam ciumannya.


Aurora yang merindukan sentuhan Juan pun membalas ciuman itu dengan membuka mulutnya dan memberikan akses untuk Juan mengeksplor lebih dalam.


Juan menuntun Aurora ke arah tempat tidur dan mengungkung wanita itu di bawahnya, “Kamu tahu, aku mencarimu, tapi tak pernah menemukanmu. Aku merindukanmu, merindukan anak kita.”


Ia memberikan sentuhan pada paha Aurora dan mengangkat bagian bawah dari dress Aurora, “Ahhh !!!” Sebuah ******* keluar dari mulut Aurora dan membuat Juan tersenyum.


Juan berjalan ke arah pintu, menutup kemudian menguncinya. Ia tak ingin aktivitasnya terganggu. Ia kembali berjalan ke arah Aurora, kemudian membuka kancing yang berada di bagian depan dress yang digunakan oleh Aurora, sambil kembali memberi ciuman yang dalam.


Ia meremas kedua bukit kembar milik Aurora yang terasa lebih padat dan berisi dari sebelumnya, membuat dirinya semakin merasa panas dan menginginkan hal yang lebih. Juan mengecup kedua bukit kembar milik Aurora hingga wanita itu mengeluarkan dessahannya kembali.


“”Aku menginginkanmu,” Aurora yang telah diselimuti oleh kabut gairrah pun menganggukkan kepalanya. Merasa mendapatkan kesempatan, Juan tak akan menolaknya. Ia langsung membuka celananya dan memulai penyatuan mereka.


“Kenapa milikmu jadi semakin sempit?” Juan merasakan kenikmatan yang berbeda. Ia kembali menghentakkan pinggulnya dan meremas aset kembar milik Aurora yang begitu padat. Sesekali ia mengelus perut Aurora yang masih ditutupi oleh dress wanita itu.


Mereka berdua benar-benar melampiaskan kerinduan mereka akan satu sama lain, hingga akhirnya mereka mencapai puncak bersama-sama. Juan mencium kening Aurora, sementara Aurora memalingkan wajahnya karena malu. Ia merasa dirinya begitu mudahnya menerima sentuhan pria, padahal ia tidak ingin lagi melakukannya ataupun bergantung pada pria.


Juan memegang dagu Aurora, agar melihat ke arahnya, “Apa kamu tak ingin melihatku? Maaf karena telah melakukan ini lagi padamu. Aku sangat merindukanmu,” kata Juan tanpa ragu. Ia mengucapkan semua yang ia rasakan dalam hati. Kepergian Aurora membuatnya merasakan kehilangan sesuatu di dalam hidupnya. Ada ruang yang kosong di dalam hatinya. Ia tahu kini ia tak bisa menganggap Aurora hanya sebagai penghangat ranjangnya saja, tapi ia membutuhkan Aurora sebagai pengisi ruang kosong di dalam hatinya.


“Aku akan membersihkan diriku terlebih dahulu,” Juan berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya, sementara Aurora kembali mengancingkan bagian atas dress-nya dan menunggu Juan.


Setelah Juan keluar dari kamar mandi, kini bergantian Aurora yang membersihkan diri. Ia keluar dengan rambut yang setengah basah, hal itu membuat sesuatu milik Juan kembali mencari jalan keluar, namun Juan berusaha menahannya.


“Ayo kita pulang, Mom pasti sudah menunggu,” Juan meraih tangan Aurora dan mengajaknya pulang. Ia sudah berjanji dalam hatinya tak akan pernah lagi melepaskan Aurora. Malam ini, ia akan mengatakan semuanya pada Dad Isacc dan Mom Diane. Ia akan mempertanggungjawabkan semuanya.


🌹🌹🌹