
Alessandro menampakkan senyuman sinis ketika ia sudah berhasil menyeret Aurora ke Rumah Sakit untuk melakukan test DNA. Ia tak peduli jika wanita itu terus memaki dan berteriak. Alessandro juga sudah memastikan para dokter agar tidak melakukan hal-hal licik yang menguntungkan Aurora atau karir dan keluarga mereka akan tamat.
“Berapa lama aku akan mendapatkan hasilnya?” tanya Alessandro.
“Sekitar 2 minggu,” jawab Dokter Gabby.
“Tidak bisa! Itu terlalu lama. Kerahkan semua SDM yang ada agar semua cepat selesai,” tutur Alessandro yang sudah tidak sabar untuk membungkam mulut Aurora dan juga mengatakan pada kedua orang tuanya bahwa ia tak pernah menyentuh wanita ular seperti Aurora.
“Kenapa kamu memaksa, Tuan Al. 2 minggu adalah waktu yang sudah kami majukan, jangan memaksa lagi atau aku akan melepas test ini pada dokter lain,” Alessandro yang tidak mempercayai dokter lain, akhirnya menerima jawaban Dokter Gabby. Ia akan menunggu selama 2 minggu untuk mendapatkan hasil test DNA tersebut.
Setelahnya, Alessandro kembali ke perusahaan Romano. Ia berdiri di depan jendrla kaca besar yang langsung mengarah ke pusat kota.
Tokk tokkk tokk …
“Masuklah!” Alessandro sudah tahu bahwa Javer lah yang akan menemuinya. Tak ada pegawai lain yang bisa masuk ke ruangannya kecuali Javer. Bahkan sekretarisnya sendiri harus memberikan laporan pada Javer untuk diserahkan pada Alessandro.
Kejadian pengkhianatan sahabat dan kekasihnya dulu sangat membekas dalam dirinya, hingga ia tak mempercayai siapapun. Namun, saat ini ia ingin menemui Raymond Costa. Meskipun ada gengsi besar di dalam dirinya, tapi … bayangan Bianca tak pernah bisa hilang dari dalam dirinya.
“Apa yang kamu dapatkan?”
“Raymond Costa tengah membangun perusahaannya kembali. Beberapa hari ini ia sedang sibuk melakukan beberapa pertemuan dengan rekan hisnisnya,” terang Javer.
“Lalu … Bianca?”
“Saat ini putri Raymond Costa sedang beristirahat di resort mereka di wilayah Acquafredda.”
“Siapkan helikopter untukku. Aku akan ke sana sekarang,” perintah Alessandro.
“T-tapi Al, setengah jam lagi kita akan mengadakan meeting.”
“Kamu gantikanlah aku untuk sementara waktu … dan jangan lupa untuk menyiapkan kebutuhanku,” Aessandro langsung menuju ke atap gedung untuk melakukan penerbangan dengan helikopter setelah Javer menghubungi mereka.
Perjalanan menuju Acquafredda ditempuh dengan waktu 30 menit saja. Alessandro langsung masuk ke dalam Villa milik keluarga Romano yang terletak di pinggir pantai. Pandangannya mengarah ke arah pantai, di mana deburan ombak memecah kesunyian.
Alessandro memegang kalung dengan kulit kerang yang selalu menemaninya hingga saat ini. Gadis kecil bermata biru itu adalah penyemangatnya saat itu, saat di mana kehampaan, kensunyian, sangat mendominasi hatinya.
Ia berjalan menyusuri tepi pantai, sesekali ia menendang pasir yang ada di hadapannya kemudian membuang tatapannya ke laut, sambil menikmati angin yang menerpa tubuh dan wajahnya. Alessandro menyugar rambutnya yang terkena terpaan angin, sambil melanjutkan langkahnya.
Alessandro hanya menggunakan kemeja yang ia gulung sampai ke siku dan membiarkan kancing bagian atasnya terbuka hingga memperlihatkan bagian dadanya. Celananya pun ia tekuk hingga sedikit di bawah lutut.
Kini tatapannya berhenti pada sebuah resort dengan seorang wanita cantik dengan dress berwarna putih tengah memandang ke arah pantai sambil menyelipkan rambutnya yang terkena terpaan angin ke belakang telinga. Alessandro tersenyum melihatnya.
Alessandro berjalan mendekat ke arah resort tersebut. Ia melihat sebuah mobil kemudian pergi menjauh dari resort dan ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Di dalam resort, Bianca tengah merapikan beberapa kertas desain miliknya yang sedikit tercecer. Tadi ia berjalan ke arah teras belakang untuk sekedar meluruskan pinggangnya karena terasa pegal. Usia kandungannya kini sudah berjalan 4 bulan, namun perutnya belum terlalu terlihat menonjol.
Saat ia memutar tubuhnya, ia melihat sosok yang sangat ia rindukan namun juga ia benci secara bersamaan. Ia berusaha menetralkan sikapnya.
“Ahhh Uncle!” sapanya saat melihat ke arah Alessandro, “Apa Uncle ingin bertemu dengan Daddy?”
Hati Alessandro terasa sakit ketika melihat Bianca benar-benar tak mengenalinya. Namun, ia juga tak tahu apa yang harus ia lakukan jika Bianca mengingat semuanya.
Alessandro menganggukkan kepalanya, “Apakah Raymond ada di sini?”
“Ahh tidak ada. Dad sedang mengurus usahanya. Mungkin Uncle bisa kembali lagi nanti. Aku akan memberitahu Dad bahwa Uncle datang kemari,” kata Bianca.
Alessandro berjalan mendekat ke arah Bianca, perasaannya tak bisa ditahan lagi. Ia begitu merindukan semua hal yang ada dalam diri Bianca. Saat jarak mereka dekat, Alessandro langsung merengkuh pinggang Bianca dan memeluknya.
“U-uncle, lepaskan aku!” teriak Bianca. Tubuhnya kembali merasa gemetar saat Alessandro begitu dekat bahkan menempel dengannya.
“Aku merindukanmu,” bisik Alessandro di telinga Bianca. Setelah banyak masalah yang ia lewati, memeluk Bianca merupakan kenyamanan tersendiri.
“L-lepaskan aku, Uncle,” Bianca berusaha menjauhkan dirinya dari Alessandro dengan mendorong tubuh Alessandro. Tenaga yang ia keluarkan juga cukup besar, namun semuanya akan tetap kalah dengan tenaga Alessandro yang terus memeluknya.
Saat Alessandro memeluk Bianca, mata Bianca menelisik tubuh Alessandro yang tepat berada di depan matanya. Matanya menangkap sesuatu yang rasanya ia kenal. Ia memegang buah kalung yang tergantung di leher Alessandro, “Kalungku,” bisiknya pelan.
Lau Bianca menengadahkan kepalanya sedikit ke atas dan matanya langsung bersirobok dengan mata Alessandro yang kini juga tengah menatapnya, “Kenapa kalungku ada pada Uncle?”
“Ini milikmu?” Alessandro kini mulai menyadari bahwa gadis kecil yang ia temui di pantai belasan tahun lalu adalah Bianca, si gadis bermata biru.
Alessandro memeluk Bianca lebih erat lagi, “Terima kasih.”
Bianca yang merasa bingung kembali ingin menjauhkan dirinya dari Alessandro. Meskipun ia juga merindukan Alessandro, tapi ia tak akan mengecewakan Dad Raymond untuk yang kesekian kalinya.
“Maaf Uncle, bisakah Uncle melepaskanku?” panggilan Uncle yang diberikan oleh Bianca terasa tak nyaman di telinganya. Ia berharap Bianca bisa memanggilnya dengan sebutan yang lebih akrab.
“Apa aku tidak boleh berteman denganmu?” tanya Alessandro. Alessandro berencana untuk mengambil hati Bianca perlahan-lahan. Misalkan nanti Bianca mengingatnya, Alessandro berharap hubungan baik yang ingin ia jalin mulai sekarang akan bisa menutupi kesalahannya di masa lalu.
“Tentu saja Uncle, kita berteman,” Bianca menyodorkan tangannya ke arah Alessandro untuk menghilangkan rasa canggungnya.
🌹🌹🌹