Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#43



Ditemani oleh Riana, Juan mendatangi rumah sakit. Meskipun sebenarnya ia tak ingin peduli lagi pada Aurora, tapi ia tak bisa begitu saja tak peduli pada bayi yang ada dalam kandungan Aurora. Bagaimanapun, ia sangat yakin bahwa bayi itu adalah miliknya.


Memasuki sebuah kamar rawat bersama, Juan langsung menghampiri tempat yang ditunjukkan oleh Riana. Juan menggunakan topi dan juga masker untuk menutupi wajahnya. Ia tak ingin orang-orang mengenalinya dan membuat kegaduhan.


Hati Juan seakan teriris melihat kondisi Aurora, “Mengapa dia bisa seperti ini?”


“Pada awal kehamilan, semua terlihat baik-baik saja. Namun, ketika mulai memasuki trimester kedua, mual dan sakit kepala yang dideritanya seakan tak pernah berhenti. Bahkan untuk makan saja ia merasa sulit, karena semua akan dikeluarkannya kembali. Aku sudah pernah membawa seorang dokter ke apartemen, mereka meresepkan vitamin dan obat mual, tapi semua itu tidak membuat perubahan apapun.”


“Minta pada bagian administrasi untuk memindahkannya ke kamar kelas 1. Di sana aku akan lebih mudah mengunjunginya. Aku yang akan membayarnya,” ujar Juan, karena melihat keraguan di mata Riana. Riana akhirnya mengangguk dan mengikuti semua perintah Juan.


Sementara Riana keluar, Juan mendekati brankar Aurora. Juan melihat bagaimana Aurora terlihat kurus, bahkan tulang pipinya terlihat dengan jelas. Ia menarik sebuah kursi dan meletakkannya di samping brankar.


“Ra, aku datang,” tanpa banyak kata, Juan mengelus perut Aurora. Ia merasakan sensasi yang berbeda dengan saat ia berhubungan dengan Aurora. Ia seperti ingin menangis saat telapak tangannya merasakan sesuatu yang sedikit bergejolak.


Tak berapa lama, beberapa perawat datang untuk memindahkan Aurora ke kamar rawat yang lain, kamar rawat kelas 1. Di kamar ini, hanya diperuntukkan untuk 1 orang pasien, dengan sebuah sofa dengan 2 seater dan sebuah kamar mandi.


Aurora masih tertidur karena pengaruh infus yang terpasang di lengannya. Wajahnya begitu tenang, seakan sudah lama tidak tertidur dengan nyenyak.


“Apa dia sudah pernah memeriksakan kandungannya?” tanya Juan pada Riana. Riana menggeleng. Aurora memang tak pernah keluar dari apartemen sejak Alessandro mengadakan konferensi pers. Ia seperti tertekan dengan pernyataan Alessandro.


Media sosial seakan terus menerus menghujatnya dan pemberitaan di televisi tak pernah berhenti, malah semakin dilebih-lebihkan dan mencari kesalahannya di masa-masa lalu.


“Buatkan janji dengan dokter kandungan hari ini. Cari yang bisa dipercaya. Aku tak mau ia bergosip di luar sana,” perintah Juan, dan Riana kembali menurutinya.


**


Hari ini Raymond secara khusus mengundang Alessandro ke kediaman Costa. Ini semua atas permintaan Bianca. Saat Bianca mengambil keputusan tersebut, Raymond tersenyum dan merasa bahagia. Ia tak ingin Bianca menyimpan dendam yang akan menyakiti hatinya.


Kini, mereka duduk bersama di ruang makan. Di meja makan sudah tersedia berbagai macam masakan. Raymond duduk di ujung meja, sementara Bianca dan Alessandro duduk berhadapan.


Jamuan makan malam ini tak akan ditolak oleh Alessandro karena ini adalah langkah untuk kembali dekat dengan Bianca. Meskipun mereka makan dalam keheningan, namun tatapan mata Alessandro selalu mengarah pada Bianca.


“Apa semua proyekmu berjalan dengan lancar, Al?” tanya Raymond membuka pembicaraan.


“Bisa dikatakan begitu. Hanya saja ada 1 proyek yang belum berhasil kutembus,” jawab Alessandro.


“Benarkah? Kukira semua proyek akan takluk denganmu. Tak mungkin ada yang menolak bekerja sama denganmu kan?”


“Benar, aku tidak berbohong. Kurasa ini akan menjadi proyek tersulitku.”


Raymond tertawa, “Katakanlah, jangan membuatku penasaran.”


Alessandro tersenyum, “Proyek … mendapatkan hati putrimu kembali.”


Uhuhhh uhukk uhukk …


Bianca juga mengusap punggung Dad Raymond. Bianca berusaha tetap cuek untuk menghilangkan kegugupan dalam dirinya karena pernyataan Alessandro.


Kalau aku yang batuk-batuk seperti itu, apa Bianca akan mengelus punggungku juga? - batin Alessandro penuh harap.


Raymond menoleh ke arah Alessandro kemudian berkata, “Jangan terlau berharap, nanti sakit lagi.”


Alessandro mencebik kesal, sementara Raymond terkekeh. Bianca yang melihatnya merasa bingung karena Alessandro tak mengatakan apa-apa, tapi Dad Raymond menimpali dan itu membuat Alessandro kesal.


Dari dulu dia selalu bisa membaca pikiranku. Menyebalkan sekali! Bagaimana bisa aku akan memiliki mertua seperti dia. - batin Alessandro lagi.


“Jangan terus mengumpatku, atau aku tak akan menyetujui dirimu lagi,” goda Raymond.


Alessandro membulatkan matanya. Bagaimana bisa Raymond kembali membaca pikirannya. Kalau saja dia yang memiliki kemampuan itu, pasti dengan mudahnya ia membaca apa yang ada di pikiran Raymond dan hubungan mereka tidak akan merenggang.


“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Bianca yang kebingungan karena melihat Dad Raymond dan juga Alessandro.


“Dad akan pergi ke ruang kerja. Ada yang ingin Dad bicarakan dengan Gio. Bi, bicaralah dengan Al. Keluarkan semua isi hatimu, agar hatimu merasa lebih lega dan tenang,” bisik Raymond pada Bianca.


“Aku mengerti, Dad,” Bianca menoleh ke arah Alessandro. Ia melihat pria itu terus melihat ke arah dirinya.


Bianca mengajak Alessandro ke taman belakang kediaman Costa. Ia menatap ke arah taman bunga milik Amadea yang senantiasa diterangi oleh cahaya lampu.


Kuatkan aku, Tuhan. Mom, bantu aku berbicara dengannya. - batin Bianca.


“Bi …,” Alessandro membuka mulutnya dan berusaha memulai.


“Aku ingat semuanya, tak ada satupun yang terlupa dari ingatanku. Bagaimana kamu mendekatiku, membuatku nyaman, membuatku menghancurkan perusahaan orang tuaku, dan mengambil milikku yang seharusnya adalah milik suamiku.”


“Bi, maafkan aku. Aku mengakui semua kesalahanku. Sejak awal, seharusnya aku meminta penjelasan dari Raymond. Hanya saja saat itu aku begitu marah karena melihat semua yang terjadi tepat di depan mataku. Bi … kalau saja waktu bisa diulang, aku tak akan melakukan kesalahan yang sama,” kata Alessandro.


“Waktu tak akan bisa terulang. Jika memang bisa diulang, hal yang paling kuinginkan adalah kehadiran Mom Dea kembali. Apa yang hilang saat ini, tidak akan pernah sebanding dengan kehilangan Mom Dea,” setitik bulir air jatuh dari ujung mata biru Bianca.


“Kamu tahu siapa yang membantuku menyadari semua kesalahanku?” tanya Alessandro.


Bianca menoleh dan menatap manik mata hazel milik Alessandro, “Mommymu.”


Bianca seakan tak percaya. Ia menatap lagi ke arah Alessandro, “bagaimana bisa?”


“Setelah apa yang kulakukan padamu, hatiku merasa tidak tenang. Aku bahkan membuang semua surat kepemilikan Perusahaan Costa saat Raymond mengembalikannya. Aku mengurung diriku di dalam kamar, hingga suatu waktu aku masuk kembali ke dalam ruang kerja. Ruangan itu selalu mengingatkanku akan hal buruk yang kulakukan padamu. Saat aku duduk di atas sofa, aku melihat sebuah tas di atas meja kerjaku, yang ternyata adalah milikmu. Ntah bisikan dari mana, dengan lancang tanganku membuka dan memeriksa isinya dan aku menemukan buku diary Amadea.”


“Mommy?”


🌹🌹🌹