
“Gio, bagaimana? Kamu sudah menyelidikinya?”
“Perusahaan Milenia tidak pernah bermasalah Tuan. Dengan klien, kontraktor lain, ataupun pekerjanya, mereka terlihat seperti perusahaan yang mengedepankan kredibilitas.”
“Baiklah, kalau menurutmu mereka seperti itu, berarti tak ada salahnya kita bekerja sama dengan mereka. Atur pertemuan dengan mereka segera,” kata Raymond.
“Baik, Tuan.”
Sementara itu di sisi lain,
“Mereka mulai mengatur pertemuan lagi dengan perusahaan Milenia.”
Alessandro tersenyum smirk, “Sepertinya kita berhasil menjerat mereka.”
“Aku penasaran Al. Apa yang sebenarnya terjadi antara dirimu dengan perusahaan Costa?”
“Kamu tidak perlu tahu akan hal itu. Ini adalah masalahku dan aku akan menyelesaikannya sebentar lagi.”
Javer pun keluar dari ruangan Alessandro, sementara Alessandro mengirimkan beberapa pesan singkat kepada Bianca.
‘Apa kamu sudah makan?’
‘Jangan lupa Sabtu ini aku menunggumu di tempat latihan.’
‘Aku merindukanmu. Aku akan meneleponmu nanti.’
Alessandro meletakkan ponselnya dan tersenyum, “sebentar lagi kita akan melihat kehancuran seorang Raymond Costa.”
**
“Mengapa dia mengirimiku pesan seperti ini?” Bianca memegang dadanya yang terasa berhenti, “apa Tuan Al menyukaiku?”
“Ada apa denganmu, Bi?” Tanya Bruno yang baru saja selesai berlatih, “mengapa kamu datang kemari, biasa hanya weekend saja.”
“Aku hanya sedang bosan. Jam kuliahku sungguh berantakan. 1 di pagi hari, dan 1 lagi di siang menjelang sore.”
“Ooo jadi kamu masih ada jam kuliah lagi nanti?” Bianca pun mengangguk.
“Kalau begitu lebih baik kamu menyimpan pakaianmu di sini. Kamu bisa memanfaatkan waktu dengan berlatih, bukankah itu lebih baik?” Kata Bruno yang kini duduk di sebelah Bianca.
“Tapi nanti aku berkeringat. Di kampus nanti tidak ada pria yang mau mendekatiku,” Bianca mencebikkan bibirnya.
“Aduhh!! Aduhh!!! Sakit, kak!” Teriak Bianca saat Bruno malah menarik bibirnya semakin ke depan.
“Itu kamar mandi, kamu tinggal mandi di sana setelah berlatih. Kayak baru pernah ke sini aja. Lagian kamu tuh masih kecil, mikirnya udah punya cowo aja,” kata Bruno kesal.
“Ishhh, Kak Bruno nggak tahu sih. Daddyku malah sudah menikah di usiaku saat ini, jadi tidak ada salahnya kan aku bercita-cita untuk juga menikah muda,” Bianca melirik lagi ke layar ponselnya.
“Apa kamu sedang menunggu telepon dari seseorang?”
“T-tidak, Kak,” Bianca berusaha mengelak.
“Lihat, kamu pasti berbohong. Dari wajahmu saja aku sudah tahu kalau kamu menunggu sesuatu. Mencurigakan,” Bruno terus melihat ke arah Bianca, membuat gadis itu salah tingkah.
Tak berselang lama, ponselnya berbunyi. Dengan cepat Bianca mengangkatnya,
“Halo.”
“Sepertinya kamu juga merindukanku, kamu mengangkatnya dengan sangat cepat,” Alessandro tertawa di ujung telepon.
“Tidak! Aku hanya sedang memegang ponselku saja,” Bianca mengelak.
“Ciee … cie …, gebetannya ya Bi? Atau kekasih?” goda Bruno yang masih berada di sebelah Bianca.
“Siapa itu?” Tanya Alessandro.
“Kak Bruno, temanku di tempat latihan.”
“Kamu ada di tempat latihan?”
“Jangan terlalu dekat dengan pria lain. Aku tidak suka,” ujar Alessandro.
“Mengapa? Apa kamu menyukaiku, Tuan?”
“Kalau iya, bagaimana?”
Wajah Bianca langsung memerah dan hal itu disadari oleh Bruno yang berada di sebelahnya. Ia menggoda Bianca dengan bahasa tubuh dan mimik wajahnya. Bianca benar-benar tak menyangka bahwa Tuan Al akan mengatakan suka pada dirinya.
Jujur, Bianca tertarik dengan Al. Tentu saja, siapa yang tidaj akan tertarik dengan pria tampan, gagah, mapan, dan penuh perhatian juga seperti Al. Namun, usia mereka yang terpaut jauh masih menjadi penghalang bagi Bianca. Ia berpikir apa yang akan Daddynya katakan jika ia memiliki hubungan dengan pria yang seusia dengan Daddynya.
“Bi?”
“Ahh maaf, aku harus perfi ke kampus dulu. Apa Tuan akan datang latihan di hari Sabtu?”
“Tentu saja aku akan datang. Aku ingin bertemu denganmu,” Al sedikit berbisik sehingga membuat suaranya terdengar lebih seksi, membuat kulit Bianca terasa meremang.
“Baiklah, sampai nanti,” Bianca langsung memutuskan sambungan ponselnya. Ia meraih tas, kemudian meninggalkan tempat latihan untuk kembali ke kampus.
**
Setelah sekian lama menolak debut di Italia, kini aktris cantik sekaligus model yang mengawali karirnya saat berusia 20 tahun, akan mengambil proyek film yang mengambil lokasi di Negara Italia, tepatnya di Kota Roma.
Sebuah drama romantis akan menjadi karya perdana Aurora Frederica bersama aktor kenamaan Italia, Juan Fernandez.
Malam ini akan diadakan konferensi pers untuk secara resmi memperkenalkan Nona Aurora Frederica kepada pencinta film di seluruh Daratan Eropa, terutama Italia.
“Akhirnya kamu kembali, setelah sekian lama berkelana di luar Italia. Apa kamu merasa bersalah padaku, hingga harus melarikan diri?” gumam Alessandro.
“Al, nanti malam kamu harus datang ke acara makan malam bersama dengan rumah produksi yang kamu miliki,” kata Javer.
“Siapkan semua keperluanku.”
“Ok, Al.”
Sementara di tempat lain,
“Lihat, lihat! Aurora Frederica! Dia cantik sekali kan, mana bodynya aduhhh.”
“Lha model ya harus gitu bodynya. Tapi emang sih dia tuh cantik banget ya.”
Bianca hanya duduk diam menopang dagunya, sambil mendengarkan celotehan teman satu kelasnya. Bianca bukan tipe gadis yang suka mengikuti acara gosip, drama, ataupun sejenisnya. Ia lebih menyukai hal-hal yang berbau bela diri.
“Hei, Bi!” sapa Melanie, sahabat Bianca sejak SMA. Mereka mengambil kuliah di tempat dan jurusan yang sama.
“Apa?” Bianca merebahkan kepalanya dengan sebelah tangan menjadi alasnya, sambil memainkan bolpoin di tangan yang satunya lagi.
“Nanti malam aku akan bertemu dengan aktris papan atas, Aurora Frederica. Daddyku adalah salah satu manager di Romans Productions House,” ungkap Melanie dengan mata yang berbinar-binar. Sementara Bianca malah memejamkan matanya.
“Bi! Kok malah tidur sih? Oya, petinggi Perusahaan Romano juga akan hadir di sana. Kabarnya CEO Romano itu tampan, gagah, masih single pula.”
“Aku tidak tertarik, Mel. Kamu kan tahu apa yang kusukai,” ujar Bianca.
“Ishhh kamu hanya suka berkelahi dan tipe pria yang kamu sukai itu yang seperti Kak Bruno,” Melanie tertawa sementara Bianca mencebikkan bibirnya.
“Gitu-gitu Kak Bruno juga tampan kok Mel. Mungkin kalau kamu mau belajar dekat dengannya, kamu bisa tertarik. Kak Bruno juga masih single kok,” goda Bianca.
“Ihhh amit-amit, Bi. Kalau Bruno Mars nggak apa apa deh, yang ini kan Bru No No,” Melanie menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
“Terserah padamu saja, Mel. Tapi kalau misalkan kamu mau mendekati Kak Bruno, kamu bisa mulai mempelajari taekwondo mulai sekarang. Kak Bruno sangat suka dengan gadis yang bisa berkelahi, terutama menguasai taekwondo.”
“Jangan bilang kalau dia menyukaimu, Bi?”
Bianca tertawa, “Apa kamu cemburu? Tenang saja, aku tidak akan mengambilnya.”
“Atau … kamu sudah punya seseorang yang kamu sukai?”
🌹🌹🌹