
Hari ini Bianca berencana untuk menemui Alessandro. Semalaman ia selalu berpikir bahwa Alessandro akan meninggalkannya dan mengejar Aurora. Jika itu terjadi, maka anaknya akan merasakan apa yang ia rasakan saat ini.
Ia berdiri di depan gedung perusahaan Romano, tanpa sedikitpun ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Ia sengaja menggunakan dress agak longgar untuk menutupi perutnya yang sudah terlihat membuncit.
Bianca berdiri di trotoar yang diteduhi oleh pohon besar. Perusahaan Romano memang terletak persis di tepi jalan besar. Tak ada parkiran yang luas di luarnya, hanya sebuah trotoar lebar yang menjadi pemisah antara gedung dengan jalan raya.
“Kenapa aku harus berada di sini? Memalukan. Jika memang Alessandro ingin pergi dengan Nona Aurora, bukankah itu berarti ia tak mencintaiku dan anak kami. Untuk apa aku datang ke sini hanya karena perasaanku?” gumam Bianca.
Ia berjalan mundur untuk melihat gedung Perusahaan Romano, “saat ini kamu pasti sedang duduk di dalam ruanganmu, di atas sana.”
Bianca menggelengkan kepalanya, untuk memperoleh kesadarannya kembali. Ia juga tak ingin dicap sebagai wanita gampangan yang mendatangi Alessandro. Ia pun berbalik badan dan ingin pergi dari sana, tapi tanpa sengaja ada seseorang yang menabrak tubuhnya, hingga ia terhuyung ke belakang.
Brughhh …
Bianca merasa sangat takut ketika tubuhnya terhuyung ke belakang. Ia langsung melindungi bagian perutnya dan berusaha mencari pegangan agar tidak langsung menyentuh ke lantai trotoar.
“Kamu tidak apa-apa?” Bianca menoleh ke asal suara dan melihat siapa yang telah menangkap tubuhnya.
“A-aku tidak apa-apa,” jawabnya dan berusaha untuk berdiri.
Alessandro membantu Bianca berdiri, kemudian meraih tangannya dan menggandengnya masuk ke dalam Perusahaan Romano. Semua mata seakan tertuju padanya, karena Alessandro adalah sosok yang sangat diidam-idamkan oleh para kaum hawa, baik yang single maupun yang double 😂.
Mereka memasuki lift khusus untuk naik ke lantai tempat ruangan Alessandro berada. Tak ada pembicaraan di antara mereka, hanya saja tangan Alessandro tak lepas sama sekali menggenggam tangan Bianca.
“Jav, kamu selesaikan semua proposal yang sudah kita setujui tadi dengan Tuan Gerardo,” perintah Alessandro saat mereka keluar dari lift.
“Baik, Al,” Javer pun segera meninggalkan Alessandro dan pergi ke ruangannya.
Alessandro masuk ke dalam ruangannya dan dengan hati-hati membantu Bianca untuk duduk, “Kamu mau minum sesuatu?”
“Aku minta air mineral saja,” Bianca masih berusaha menetralkan degup jantungnya. Sudah jantungnya berdetak cepat karena hampir terjatuh, eh ditambah lagi dengan genggaman Alessandro yang tak lepas dari tangannya selama perjalanan dari depan gedung hingga ke dalam ruangan Alessandro.
“Baiklah,” Alessandro mengangkat telepon dan meminta OB untuk menyiapkan air mineral untuk Bianca dan secangkir kopi untuknya.
Alessandro langsung duduk di sebelah Bianca dan memeriksa Bianca dengan lebih seksama, “Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah menolongku.”
“Apa kamu ke sini untuk menemuiku?” tanya Alessandro.
“A-aku … aku hanya sedang lewat saja,” Bianca berusaha mengelak tujuan sebenarnya dan jawaban Bianca membuat Alessandro menghela nafasnya pelan. Ia sangat berharap Bianca memang sengaja datang ke perusahaan Romano karena ingin bertemu dengannya, tapi sepertinya itu hanya harapan yang mustahil.
Ponsel Alessandro bergetar, ia pun meraihnya dan menjawab panggilan tersebut, “Baiklah, siapkan keberangkatanku ke sana. Aku akan segera menemuinya.”
Melihat dan mendengar Alessandro akan pergi, rasa panik dan khawatir kembali menguasai Bianca. Perasaannya semalam sepertinya akan menjadi kenyataan, Alessandro akan pergi menemui Nona Aurora dan meninggalkannya.
Setelahnya, Alessandro menoleh ke arah Bianca, “Apa kamu sudah makan?” dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Bianca.
“Aku akan menemanimu makan siang, ayo!” Alessandro kembali meraih tangan Bianca dan mengenggamnya.
Mereka makan di sebuah cafe yang berada persis di sebelah Perusahaan Romano, “Al!”
“Aunty Margaretha!” Alessandro membalas sapaan seorang wanita paruh baya dengan rambut yang sudah memutih.
“Maafkan aku, Aunty. Aku sedang sibuk sekali hingga aku memang hampir melupakanmu,” goda Alessandro.
“Duduklah, aku akan menyiapkan makanan kesukaanmu … dan siapa ini?”
“Selamat siang Nyonya, nama saya Bianca … Bianca Costa.”
“Costa? Kamu putri Raymond Costa?” Bianca menganggukkan kepala membuat Margaretha menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Al, kapan kamu akan membawa Ray kemari? Sepertinya aku harus menjewer telinga anak itu karena tidak pernah membawa putri cantiknya ke sini,” ungkap Margaretha dengan kesal.
Alessandro tertawa, “Aku akan segera mengajaknya ke sini, Aunty. Jika ia tidak mau, aku akan menyeretnya.”
Margaretha berjalan mendekat ke arah Bianca dan menangkup kedua tangannya ke wajah Bianca, “Kamu cantik sekali, sayang. Kalau saja Aunty memiliki seorang putra, Aunty akan langsung menjodohkannya denganmu,” Bianca terkekeh karena Margaretha sangat lucu dan ramah. Di pertemuan pertama mereka, Bianca langsung menyukai Margaretha.
“Duduklah. Oya, makanan apa yang kamu sukai? Aunty akan memasakkannya untukmu,” tanya Margaretha.
“Aku menyukai apapun, aku tak memilih-milih makanan,” jawab Bianca.
“Aku menyukaimu. Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan memasak sesuatu yang spesial untukmu,” Margaretha masuk ke dalam dapur miliknya dan mulai meracik masakannya.
Restoran milik Margaretha berada persis di sebelah Perusahaan Romano. Tanah itu dulunya bermasalah, namun dengan bantuan Keluarga Romano, akhirnya Margaretha bisa mendapatkan hak nya kembali. Ia sangat berhutang budi pada Keluarga Romano. Jika keluarga Romano menginginkan tanah miliknya untuk memperbesar gedung kantor, ia akan menjualnya tanpa perlawanan sama sekali.
“Apa Dad Raymond sering ke sini?” tanya Bianca pada Alessandro.
“Ya, dulu aku dan Raymond sering datang ke mari untuk memakan masakan Aunty. Masakannya sungguh luar biasa, kamu harus mencobanya,” Alessandro sangat memuji masakan Margaretha.
Restoran milik Margaretha akan ramai saat jam makan siang dan berangsur sepi setelahnya, dan akan kembali ramai ketika jam makan malam tiba. Ia hanya memiliki 2 orang pegawai yang membantunya, satu di bagian dapur dan satu lagi di bagian kasir, merangkap sebagai pelayan.
Mereka menikmati masakan Aunty Margaretha dengan sangat lahap, terutama Bianca. Tertundanya jam makan siang membuat perutnya meronta meminta porsi yang lebih dari biasanya.
“Masakan Aunty sangat lezat sekali, sepertinya restoran ini akan menjadi favoritku,” puji Bianca.
“Datanglah lagi dan bawalah Daddymu. Aunty berharap ia bisa datang ke sini setelah menikahi Mommymu, tapi mereka malah pergi ke luar negeri,” kata Margaretha sedih.
Bianca memeluk Margaretha dan Margaretha bisa merasakan perut Bianca yang tengah membuncit. Ia langsung memundurkan tubuhnya dan memegang perut Bianca, “Apa kamu sedang hamil, sayang?”
Bianca menganggukkan kepalanya dan menoleh ke arah Alessandro yang tengah menerima telepon lagi. Margaretha kembali menutup mulut dengan tangannya karena tak percaya bahwa Bianca sedang mengandung anak dari Alessandro.
“Aduhhh!!!”
🌹🌹🌹
Kakak semua, maaf ya sebelumnya kalau Pansy cuma bisa up 1 bab perhari, maklum karena masih ada aktivitas di RL yang tak mungkin untuk dikesampingkan.
Pansy selalu usahakan untuk up 1 bab perhari meskipun lagi sibuk-sibuknya, soalnya ide cerita ada, tapi kadang menuliskan menjadi sebuah novel itu perlu semalaman (maklum Pansy baru bisa nulis kalau sudah malam).
Terima kasih atas dukungannya, mudah-mudahan Pansy bisa menulis lebih banyak lagi dan menjadi novel yang selalu ditunggu-tunggu (ngarep banget ya saya 😂) … untuk hari ini, kalau ninggalin komen, nanti sore ditambahin 1 bab lagi, mumpung lagi libur 🥰
Love sekebon jagung buat semua kakak tercintahhh ❤️