
“Kamu baru pulang, sayang?” Tanya Ray saat Bianca melewati ruang tengah. Saat ini Ray sedang merapikan berkas yang akan ia bawa ke Kota Milan karena ia akan kembali lagi ke sana. Awal proyek pasti lebih membutuhkan perhatian dibanding jika proyek itu sudah berjalan nantinya.
“Iya, Dad. Temanku mengajakku jalan-jalan.”
“Kamu tidak kuliah?”
“Tentu saja aku kuliah, Dad. Aku tidak akan membolos karena aku ingin cepat lulus dab membantu Daddy di perusahaan. Bukankah Daddy akan sangat senang jika seperti itu?” Bianca duduk di sebelah Ray kemudian memeluk Raymond dari samping.
“Daddy akan senang jika kamu menjalani masa remajamu sebaik mungkin, sayang. Masa remaja itu sangat indah dan tak akan pernah terulang kembali. Tapi Daddy juga akan lebih senang jika kamu lulus cepat,” Raymond dan Bianca tertawa bersama.
Aku pasti akan membanggakanmu, Dad. Aku akan belajar mengelola sebuah perusahaan. Nanti setelah aku berhasil, aku akan menceritakan semuanya pada Daddy. Saat itu tiba, aku pasti akan membuat Daddy tersenyum dengan bangga. - Bianca
**
Weekend ini, Raymond harus pergi ke Kota Milan. Mereka akan melakukan pemancangan tiang pertama. Petinggi kedua perusahaan tentu saja hadir, begitu pula dengan klien mereka yang ternyata adalah Mr. Fujiwara, seorang pengusaha perhotelan yang sangat terkenal di Jepang.
Sementara itu, Bianca berangkat pagi itu menuju apartemen Alessandro. Ia masuk ke dalam salah satu apartemen mewah yang berada di pusat kota. Ia masuk ke dalam lift dan menekan angka 25.
Apartemen tersebut hanya terdiri dari 27 lantai, dan 3 teratas adalah yang termewah. Jika lantai dibawahnya bisa terdapat hingga 10 unit, maka 3 lantai teratas itu hanya ada 2 unit saja di tiap lantainya.
Ting tong …
Bianca menekan suara bel setelah melihat angka 2501 yang ada di bagian depan unit.
Ceklek …. Kunci pintu seperti terbuka dan terdengar suara dari dalam yang mempersilakan ia untuk masuk.
Meskipun Bianca juga adalah anak seorang pengusaha, tapi ia tak pernah masuk ke dalam apartemen, apalagi apartemen mewah seperti ini. Saat ia masuk, cahaya terang terasa menusuk matanya karena interior apartemen tersebut terlihat sangat terang karena sekelilingnya adalah jenela kaca yang langsung menghadap ke pusat kota.
Tanpa menghiraukan Alessandro yang tengah duduk di sofa, Bianca langsung menghampiri jendela dan menatap kagun apa yang ada di hadapannya.
“Sepertinya kamu baru pertama kali melihatnya,” kata Alessandro. Bianca pun mengangguk.
“Kemarilah,” Alessandro meminta Bianca untuk duduk di sebelahnya.
Cupp …
Tanpa aba-aba, Alessandro langsung mencuri ciuman di bibir Bianca, kemudian tersenyum.
“Kedatanganmu sungguh vitamin bagiku. Rasa lelahku semalaman memeriksa berkas-berkas ini sungguh tidak ada artinya.”
“Apa kamu belum tidur?” tanya Bianca, dan Al pun menggeleng.
“Kamu sama saja seperti Daddy. Ia akan lupa untuk beristirahat jika itu sudah menyangkut perusahaan dan pekerjaan. Bahkan saat ini ia pergi ke Milan di saat weekend.”
“Apa itu berarti kamu sendirian di rumah?” Bianca pun mengangguk.
“Bagaimana kalau kamu menginap di sini saja bersamaku?” Bianca memang menyukai Alessandro, tapi untuk menginap, ia tak akan melakukannya.
“Tidak, Al. Aku akan pulang saja nanti. Daddy pasti akan menanyakan keberadaanku pada orang di rumah,” Bianca berusaha mengelak.
“Baiklah, aku tak akan memaksamu,” Bianca bisa mendengar nada kekecewaan di sana, tapi wajah Al menutupinya.
“Terima kasih,” Al menjelaskan beberapa hal kepada Bianca, terutama mengenai angka-angka dalam sebuah tabel yang saat ini sedang menjadi fokusnya. Sebuah tabel tentang perbandingan harga barang dengan kuantiti dan juga jumlah pemakaiannya.
Alessandro membuka laptop miliknya, kemudian meminta Bianca untuk memasukkan angka-angka ke dalam sebuah tabel.
“Bantu aku merapikannya kemari. Setelah itu kita selesai,” kata Al dengan tersenyum.
“Benarkah? Ternyata tidak terlalu sulit. Jika seperti ini, maka aku bisa segera membantu Daddy, meskipun aku belum lulus,” ungkap Bianca senang.
Pintar. Memang itulah yang harus kamu lakukan. Kamu harus membantu Daddymu mengurus perusahaan sebelum semuanya hancur. - batin Alessandro.
**
“Halo, Kak!” sapa Bianca pada Bruno.
“Wah, Bi. Akhirnya kamu kemari lagi setelah sekian lama. Dari mana saja dirimu?”
Buggh bughhh bughh …
“Aku tidak kemana-mana, hanya saja ada yang sedang kukerjakan,” kata Bianca.
“Apa kamu sekarang sangat sibuk hingga tak bisa mampir sebentar saja,” tanya Bruno.
“Ini untuk masa depanku, Kak. Aku ingin membahagiakan dan membanggakan Daddy.”
“Sepertinya proyek besar kalau sudah berhubungan dengan Tuan Raymond Costa.”
“Jangan melebih-lebihkan, Kak. Dad Raymond sama seperti daddy-daddy yang lain. Ia sangat nenyayangiku, karena itulah aku ingin melakukan sesuatu untuk membuatnya bahagia.”
“Tapi kamu hebat, Bi. Kenalanmu hebat-hebat semua. Kamu memiliki Daddy seorang Raymond Costa yang terkenal dengan tangan dinginnya. Ia juga terkenal karena sangat mencintai Mommymu, hingga tak menikah lagi sampai detik ini,” ujar Bruno.
“Lalu, kamu juga sangat dekat dengan Tuan Romano, padahal sangat sulit berdekatan dengan pribadi dingin sepertinya,” lanjut Bruno.
“Tuan Romano?”
“ishhh, jangan bilang kalau kamu tidak tahu bahwa yang selama ini kamu latih adalah Tuan Alessandro Romano, petinggi perusahaan Romano, juga pemilik Romans Production House yang saat ini menjadi rumah produksi terbesar di Italia.”
“T-tapi aku benar-benar tidak mengetahuinya. Kalau begitu aku sungguh beruntung bisa berkenalan dengannya. Aku bisa banyak belajar padanya tentang bisnis. Setelah itu aku bisa menggunakan semua ilmunya untuk membantu Daddy untuk mengembangkan perusahaan,” Bianca tersenyum dengan bahagia, serasa mendapatkan sesuatu yang ia impikan.
“Kalau begitu, apa kamu bisa mencarikanku pekerjaan di perusahaan Romano? Kurasa gajiku akan besar di sana karena banyak sekali orang yang ingin bekerja di sana. Mereka mengatakan bahwa kehidupan mereka sangat terjamin, karena perusahaan Romano memberikan gaji yang nilainya fantastis.”
“Mengapa kamu tidak mencobanya?” tanya Bianca.
“Kalau perusahaan besar seperti itu, masuknya tidak mudah, Bi. Satu hal yang harus kita miliki selain skill adalah ORANG DALAM,” bisik Bruno, seketika membuat Bianca tertawa.
“Jangan tertawa, ini kenyataan,” ujar Bruno.
“Kalau begitu, nanti aku akan tanyakan pada Daddy, apakah masih ada lowongan di perusahaan Costa untukmu,” kata Bianca.
“Benarkah, Bi? Aku akan menunggu kabar baik darimu kalau begitu,” Bruno tersenyum bahagia. Ia pun langsung bersemangaf untuk kembali melatih ilmu bela dirinya.
Alessandro Romano … ternyata kamu adalah seseorang yang sangat penting dan berpengaruh. Aku harus membuat perusahaan Romano belerja sama dengan perusahaan Daddy. Ya benar, itu ide yang bagus. Tapi saat ini aku akan belajar lebih giat!! - batin Bianca
🌹🌹🌹