Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#45



Alessandro menghentikkan mobilnya di sebuah taman yang terletak di pinggir danau. Bianca merasa aneh ketika Alessandro mengajaknya ke sana, padahal kemarin pria itu mengatakan kalau akan mengajaknya untuk makan siang.


Bianca turun dari mobil Alessandro dengan perlahan setelah sebelumnya ia membuka seatbelt. ia menatap ke arah danau yang masih terlihat sejauh pandangan mata. Suasana yang begitu asri dan memanjakan mata, membuatnya tersenyum tanpa ia sadari.


Alessandro yang menyadari bahwa Bianca menyukai tempat pilihannya pun merasa lega. Sementara Bianca berjalan sendiri mendekati danau, Alessandro membuka pintu belakang mobil dan mengeluarkan perbekalan dan peralatan yang sudah disiapkan oleh Ruben.


Di bawa sebuah pohon besar, Alessandro membuka kain berwarna biru dengan garis-garis tebal tipis yang menjadi motifnya. Ia meletakkan sebuah keranjang berwarna cokelat kayu di atasnya dan mulai mengeluarkan isinya.


Alessandro sangat berterima kasih pada Ruben karena ia menyiapkan semuanya dengan baik. Bekal makanan yang dibawakan juga sangat menggugah selera. Setelah selesai menata semuanya di atas kain, Alessandro berdiri dan berjalan menghampiri Bianca.


“Apa kamu menyukai pemandangan di sini?” tanya Alessandro.


Dengan tatapan yang masih memandang lurus ke depan, Bianca menganggukkan kepalanya. Ia tak menyangka Alessandro akan membawanya ke tenpat seperti ini. Ia mengira mereka akan makan siang di sebuah cafe atau restoran, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan pasangan.


“Ayo duduklah dulu, kita makan siang terlebih dahulu,” Bianca memutar tubuhnya untuk mengikuti Alessandro. Ia kembali tersenyum saat melihat perbekalan piknik yang dipersiapkan oleh Alessandro.


Ia duduk di atas kain berwarna biru tersebut dan melihat berbagai jenis makanan di sana. Ada roti, buah, salad, sandwich, dan juga beberapa jenis jus.


“Apa kamu yang menyiapkan semua ini?” tanya Bianca.


“Tidak, aku meminta pada Ruben untuk melakukannya,” jawab Alessandro.


“Ruben?”


“Ruben adalah kepala pelayan di Mansion Romano,” jelas Alessandro.


“Semuanya terlihat begitu lezat,” Bianca melihat perbekalan tersebut dan seketika perutnya seperti membunyikan genderang perang dan menuntut untuk diisi, padahal saat sarapan tadi pagi ia sudah menyantap banyak agar tidak perlu terlalu banyak makan ketika bersama dengan Alesandro.


“Makanlah, aku yakin kamu akan menyukainya.”


Bianca mengambil sepotong sandwich dan mulai menikmatinya. Makan sambil memandang danau yang indah, sungguh merupakan kepuasan. Ia bahkan melupakan kalau tadi ia sedang kesal karena Alessandro menjemputnya terlalu cepat.


“Kamu suka jus apa?” tanya Alessandro lagi.


“Aku suka semuanya, tidak masalah,” Alesaandro meletakkan beberapa jus yang telah dikemas oleh Ruben ke dalam beberapa botol kaca dan meletakkannya di dekat Bianca.


Alessandro memperhatikan Bianca saat ia begitu menikmati makanan yang ada di hadapannya.


“Kamu tidak makan?” tanya Bianca.


“Aku lebih suka melihatmu makan dan menikmatinya,” jawab Alessandro. Bianca tak terlalu memikirkan jawaban Alessandro. Ia kembali mengambil salah satu makanan lagi dan memasukkannya ke dalam mulut. Ia benar-benar menikmati semua bekal yang dibawakan oleh Alessandro.


Setelah menikmati semuanya, Alessandro merapikan semuanya dan memasukkan sisanya ke dalam keranjang berwarna cokelat itu dan meminggirkannya. Kini, ia menatap ke arah Bianca yang tengah mengelus perutnya karena merasa kenyang setelah makan. Alessandro ingin sekali memegang perut Bianca, untuk merasakan keberadaan anaknya.


“Bi … a-apa aku boleh mengelusnya juga?” tanya Alessandro dengan ragu. Bianca pun menganggukkan kepalanya. Ia tak menolak keinginan Alessandro karena ia ingin mencoba untuk membuka hatinya untuk Alessandro meskipun sedikit sulit.


Alessandro yang mendapat persetujuan Bianca langsung tersenyum dan duduk mendekat. Dengan perlahan ia memegang perut Bianca dan mengelusnya perlahan. Meskipun tidak langsung menyentuh kulit Bianca tapi dibatasi oleh pakaian, Bianca merasa ada getaran aneh di dalam dirinya. Ia segera bergeser dan sedikit menjauh dari Alessandro.


Alessandro sangat mengerti bahwa Bianca masih takut dengan sentuhannya. Ia bisa memakluminya. Dengan Bianca mengijinkannya memegang dan mengelus perutnya sebentar saja, Alessandro sudah sangat senang dan berterima kasih.


“Tidak apa. Aku sangat berterima kasih kamu mengijinkanku untuk menyentuhnya.”


Bianca tidak melihat ada rasa marah atau kesal pada wajah Alessandro . Ia hanya melihat manik mata yang menampakkan ketulusan. Bianca mulai merasa apakah ia terlalu kejam karena belum bisa terlalu dekat dengan Alessandro?


Mereka menikmati keindahan danau tanpa bicara banyak. Alessandro membiarkan Bianca menikmati ketenangan, kenyamanan, serta kedamaian di pinggir danau itu. Ia membaca artikel kalau wanita yang sedang hamil perlu menikmati suasana yang membuat hati dan pikirannya relaks dan tenang.


“Bolehkah aku tahu usia kandunganmu, Bi?” tanya Alessandro.


“Sekitar 20 minggu.”


“Apa kamu ada jadwal rutin untuk pergi ke dokter kandungan?”


“Ya, aku akan pergi bersama Dad Raymond minggu depan,” jawab Bianca.


“Bolehkah aku menemanimu?” tanya Alessandro penuh harap.


Bianca menoleh ke arah Alessandro, kemudian ia teringat akan semua perkataan Dad Raymond.


Jangan kamu memisahkan anakmu dengan Dad nya sendiri. Ia butuh keluarga yang utuh, seperti dirimu yang juga selalu menginginkannya.


“Tentu saja.”


“Terima kasih,” wajah Alessandro menampakkan binar-binar kebahagiaan. Ia kini sudah tak sabar untuk sampai di minggu depan. Ia ingin sekali merasakan bagaimana pergi ke dokter kandungan dengan wanita yang ia cintai, untuk memeriksakan keadaan anak mereka.


Awalnya Alessandro ingin mengajak Bianca menikmati sunset di tepi danau itu, namun ia mengurungkan niatnya karena tak ingin Bianca kelelahan. Ia pun akhirnya mengajak Bianca pulang.


Di perjalanan, tak ada pembicaraan di antara mereka. Alunan musik menjadi teman untuk memecah kesunyian. Saat setengah perjalanan terlewati, Alessandro menoleh ke sebelahnya san mendapati Bianca yang tertidur.


Alessandro meminggirkan mobilnya sesaat dan mulai menekan salah satu tombol di mobilnya. Kursi yang diduduki oleh Bianca bergerak dan dibuat sedikit rebah. Alessandro mengambil sebuah selimut yang ia letakkan di kursi bagian belakang dan menyelimuti Bianca. Setelahnya, ia melajukan kembali mobilnya menuju ke Mansion Costa.


Hari ini adalah hari yang luar biasa bagi Alessandro. Meskipun Bianca belum menerimanya, tapi sudah selangkah lebih maju. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan memaksakan kehendaknya pada Bianca, ia akan membuat semuanya berjalan seiring waktu. Ia yakin, cintanya akan membuat Bianca kembali menerimanya dan membuat mereka hidup bersama sebagai suatu keluarga yang bahagia.


🌹🌹🌹


Iklan sejenak 😁


Pansy lagi coba ikut kontes novel dengan tema “Mengubah Takdir - wanita” dan mengajukan novel dengan judul “Big Big Girl”. Kakak semua bisa klik di namaku dan cari novelnya di sana atau bisa ditemukan via pencarian dengan cover seperti di bawah ini 👇🏻



Kiranya kakak semua mau mampir. Mungkin ceritanya masih berantakan karena maklum Pansy masih baby amatir dalam pernovelan 😅.


Terima kasih kakak semua. Luph u all ❤️