Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#15



*Hari ini Bianca diajak oleh Ibu Bertha untuk menemaninya menghadiri sebuah meeting di perusahaan Milenia. Bersama dengan divisi keuangan perusahaan tersebut, mereka akan membahas tentang budget *dan cost proyek Mr. Fujiwara di Kota Milan.


ibu Bertha sengaja mengajak Bianca agar gadis itu mengerti mengenai proyek yang sedang ditangani oleh perusahaan. Apalagi ia adalah putri Raymond Costa, Ibu Bertha merasa berkewajiban untuk membantu kesiapan Bianca.


Bianca memperhatikan setiap detail angka dari tabel yang ia terima. Ia memicingkan matanya, menatap fokus. Sesekali ia menggelengkan kepalanya, seraya berpikir.


Ini tidak benar. Angka-angka ini terlalu besar. Al mengatakan bahwa untuk suatu proyek konstruksi, maka kuantiti biasa ditambahkan 10% sebagaiwaste. Jadi aku bisa mengurangi angka-angka ini sehingga bisa menekan pengeluaran. Tapi aku tidak mungkin secara terang-terangan mengatakan di sini, juga kepada Bu Bertha. - batin Bianca.


Bianca kini hanya mendengarkan saja semua pembicaraan antara Bu Bertha dengan manager di perusahaan Milenia.


**


Seminggu sudah Bu Bertha dan beberapa orang dari divisi keuangan mulai mengolah data yang mereka dapatkan dari perusahaan Milenia. Sementara itu Bianca sudah mulai kembali kuliah dengan jadwal ke kantor yang lebih sedikit.


“Vina, apa semua laporan sudah selesai?”


“Sudah, Bu,” kata Vina.


“Sebaiknya segera kamu serahkan kepada Tuan Ray, karena besok semua itu akan diserahkan kepada perusahaan Milenia.”


“Baik, Bu,” Vina segera merapikan laporan dan menuju ruangan Tuan Gio. Semua laporan akan kembali diperiksa oleh Gio sebelum mendapatkan tanda tangan dari Raymond.


Hari ini Bianca tak ada jadwal bekerja, tapi ia ingin sekali pergi ke perusahaan karena ntah mengapa ia sudah merasa perusahaan sebagai rumah ke duanya.


“Dad!” sapa Bianca saat masuk ke ruangan Raymond.


“Bi … bukankah hari ini kamu tidak perlu ke kantor?” tanya Raymond.


“Aku merindukannya,” kata Bianca sambil tersenyum.


“Sepertinya Daddy sudah harus menyiapkanmu sebagai pengganti Daddy dan Daddy bisa beristirahat,” Raymond tersenyum kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Bianca yang tengah duduk di sofa.


Saat mereka sedang berbicara, Gio masuk ke dalam ruangan Raymond.


“Tuan, ini laporan mengenai proyek kita yang di Milan. Sudah saya periksa dan hanya tinggal anda tanda tangan saja sebagai persetujuan,” ungkap Gio.


“Baiklah, letakkan saja di atas meja. Aku akan menandatanganinya.”


“Oya Tuan, 10 menit lagi kita harus menghadiri meeting dengan Mr. Hawk dari New York,” kata Gio mengingatkan.


“Baik, Dad.”


Gio dan Raymond pun keluar dari ruangan, meninggalkan Bianca seorang diri. Bianca pun bangkit setelah kepergian Raymond. Sejak Gio masuk dan mengatakan bahwa ia membawakan laporan mengenai proyek Milan, mata Bianca langsung tertuju pada tumpukan kertas dan sebuah flashdisk yang berada di atas meja.


Dengan cepat Bianca langsung duduk di kursi Raymond dan melihat laporan tersebut. Sesuai dugaannya, masih banyak yang bisa ia ubah agar keuntungan perusahaan lebih besar. Itulah yang ia tahu dan diajarkan oleh Alessandro.


Membuka flashdisk di komputer Raymond, Bianca mulai mengganti beberapa angka. Begitu melihat hasilnya, ia begitu senang karena ia berhasil melakukan sesuatu yang akan dan pasti membanggakan Daddynya, Raymond. Ia pun mencetak ulang laporan tersebut dan meletakannya di meja seperti awal. Sementara laporan asli dia masukkan ke dalam tas nya. Ia tidak berharap Raymond mengetahui bahwa itu hasil kerjanya, yang terpenting adalah bahwa Perusahaan Costa akan menjadi lebih besar lagi setelah ini.


Sementara menunggu, Bianca yang kelelahan pun akhirnya tertidur di atas sofa.


**


“Al, tebakanmu benar. Anak itu benar-benar mengubah semuanya sesuai apa yang kamu ajarkan,” kata Javer takjub.


“Itulah kekuatan seorang Alessandro Romano,” Alessandro tersenyum, langkah awalnya berjalan dengan baik, sesuai keinginannya.


“Apa dia begitu tertarik padamu sehingga ia sangat percaya dengan perkataan dan pengajaranmu?”


Alessandro kini tertawa, “Anak bau kencur seperti itu akan dengan mudah ditipu. Kita hanya perlu memberi mereka apa yang mereka cari saat seusia mereka … CINTA … ya CINTA yang membutakan mata mereka sehingga akan mengesampingkan yang lain.”


“Tapi jika kamu menumbuhkan cinta di hati gadis itu, dan ini adalah cinta pertamanya … bukankah kamu akan meninggalkan luka di hatinya?” tanya Javer.


“Apa peduliku? Kehancuran seorang Raymond Costa adalah tujuan utamaku.”


Apa mereka pernah berpikir telah melukai hatiku karena telah mengkhianatiku, menghancurkan cinta pertamaku, dan tak menganggap nilai dari suatu persahabatan. Cihhh!!! Aku tak akan peduli dengan seseorang seperti itu. - batin Alessandro.


“Baiklah, terserah padamu. Aku hanya sedikit memperingatimu. Aku tidak ingin ada penyesalan di belakangnya.”


“Tak akan ada penyesalan, justru hanya akan ada kesenangan serta kebanggaan karena aku telah berhasil melewati semua itu dan membalaskan apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu.”


“Oya, tolong ganti nomor ponselku. Aku tidak mau menggunakannya lagi!” Perintah Alessandro.


Javer akhirnya undur diri dari ruangan Alessandro. Sementara Alessandro berdiri menatap hamparan gedung-gedung melalui kaca jendela besar di ruangannya. Sebuah senyuman penuh kelicikan menghiasi wajahnya.


🌹🌹🌹