
Sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi memiliki 2 lantai, menjadi tempat tinggal Aurora saat ini. Dengan dikelilingi oleh taman yang berisi beberapa tanaman bunga yang hanya setinggi pinggang Aurora.
“Pagi Ara!”
“Selamat pagi Aunty Diane,” sapa Aurora ketika melihat seorang wanita paruh baya melewati depan rumahnya sambil mengendarai sepeda.
“Sayang, aku ingin memberikan ini untukmu, susu terbaik dari peternakan kami,” Diane memberikan 2 botol kaca yang berisi susu segar.
“Terima kasih banyak Aunty. Sampaikan terima kasihku juga pada Uncle Isacc.”
“Akan aku sampaikan. Sayang, kapan kamu akan memeriksakan kandunganmu? Aku akan menemanimu,” tanya Diane.
“Nanti saja Aunty. Lagipula sebelum datang kemari, aku sudah memeriksakan kandunganku dan meminta vitamin untuk beberapa bulan.”
“Baiklah. Jangan ragu untuk menemui kami. Kamu sudah menganggapmu sebagai putri kami sendiri,” kata Diane.
Aurora sangat bersyukur karena ia bertemu dengan Isacc dan Diane ketika sampai di Desa Flam. Keadaannya yang tengah hamil membuatnya menjadi bahan pertanyaan di kalangan penduduk. Untung saja Diane datang dan mengakui Aurora sebagai keponakannya.
Aurora mengerjakan semua hal sendiri. Meskipun terasa sulit, namun ia tak ingin terlalu membebani orang-orang di sekitarnya. Banyak hal yang ia pikirkan selama ia berada di dalam apartemennya dulu. Hidupnya yang terlalu bebas dan menganggap semua akan berjalan sesuai keinginannya, membuatnya justru hancur, hingga ia merasa tak sanggup lagi untuk berdiri dan menghadapi orang-orang.
Ia banyak melakukan introspeksi pada dirinya sendiri. Ia tak ingin anaknya mengalami seperti apa yang ia alami. Aurora memang tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Ia sudah terbiasa hidup sendiri setelah kedua orang tuanya bercerai.
Saat bertemu dengan Alessandro, ia merasa mendapatkan tambang emas yang akan membuatnya hidup tanpa kekurangan. Namun, kehidupan bebasnya tak ingin ia tinggalkan. Meskipun ia berhubungan dengan Alessandro, ia tak ingin terpisah dengan para pria yang sering menghangatkan malam-malamnya.
Oleh karena tubuhnya juga, ia berhasil menjadi artis papan atas. Dengan mudah ia mendapatkan kontrak dengan nominal tinggi dan juga menjadi pemeran utama dalam berbagai film. Ia ingin menjadi sukses dan kembali menggaet Alessandro, agar hidupnya bisa bergelimang harta di masa tua.
Saat ia mengetahui dirinya hamil, sebenarnya ia mulai merasa ragu dengan apa yang akan ia lakukan. Namun, tidak ada salahnya mencoba untuk kembali menggaet Alessandro dengan cara licik, menggunakan bayi yang ada dalam kandungannya.
Kadang, jika mengingat masa-masa itu, Aurora ingin menertawakan semua kebodohannya. Sebenarnya ia bisa saja meminta Juan untuk bertanggung jawab, mungkin kini ia bisa mendapatkan keluarga yang utuh untuk anaknya.
Aurora kembali menyirami tanaman bunga miliknya. Ia tak memiliki keahlian apapun. Ia hanya membeli beberapa bibit tanaman buah dan juga bunga. Ia menanam buah dia area belakang rumah dan menanam bunga di area depan rumah.
Ia berharap semua tanamannya bisa menghasilkan sesuatu ke depannya. Untuk sementara ini ia akan menggunakan tabungannya dan berhemat.
**
2 minggu kemudian,
Sebuah gereja telah dihias dengan bunga-bunga di pinggir kursi. Sebuah karpet berwarna merah juga telah digelar, mulai dari depan pintu ke bagian altar.
Seorang wanita cantik kini telah berdiri di depan pintu dengan berpegangan dengan seorang pria tampan meski usianya tak lagi muda.
Menggunakan tuxedo berwarna putih, Alessandro berdiri di dekat altar, menunggu belahan jiwanya menghampirinya. Dengan wajah yang tak berhenti tersenyum, ia terus meremas kedua tangannya. Ia masih sedikit menahan sakit di bagian punggungnya.
Kedua orang tuanya juga berdiri di kursi terdepan, bersama neneknya yang kini sedang duduk di sebuah kursi roda dan menatap kesal sambil memanyunkan bibirnya yang sudah tidak kencang lagi.
Flashback on
“Mom, aku akan menikah minggu depan,” kata Alessandro dalam sebuah sambungan telepon.
“Menikah?!” Alessandro langsung menjauhkan telepon tersebut dari telinganya ketika mendengar Mommynya berteriak.
“Kenapa berteriak Mom? Bukankah ini yang Mom inginkan?”
“Apa kamu gila? Siapa yang akan kamu nikahi? Mengapa harus buru-buru? Apa kamu sudah menanam saham lagi? berapa banyak wanita yang kamu tanami saham, hah?!”
“Mom! Segeralah datang, tapi jangan ajak Grandma,” bisik Al di telepon.
“Hei cucu kesayangan Grandma. Apa maksudmu jangan mengajak Grandma? Apa kamu sudah sanggup untuk menahan pukulan tongkatku?” Membayangkan Grandma Audrey melayangkan tongkat ke tubuhnya, membuat Alessandro bergidik ngeri. Ia tidak menyangka Mom Debora menggunakan loudspeaker saat ia menelepon.
“Ahhh tidak, tidak Grandma. Datanglah kemari, aku menunggumu.”
“Bagus! Aku akan terbang hari ini juga dan melihat apakah kamu masih sanggup untuk mengatakan jangan mengajakku.”
Alessandro menghela nafasnya dan mengusap wajahnya kasar. Ia masih bisa bertahan dari omelan dan ocehan kedua orang tuanya, tapi jika Grandma Audrey yang sudah bertindak, habislah dia.
Keluarganya tiba di Kota Roma. Dengan menggunakan jet pribadi, keluarganya sampai hanya dalam waktu 2 jam sejak ia menelepon. Alessandro mulai merasa ketakutan karena ia harus berhadapan dengan Grandma Audrey.
“Sekarang ceritakan pada Grandma apa yang telah kamu lakukan? Awas kalau kamu sampai berbohong!” Grandma Audrey mulai mengeluarkan ancamannya.
Pletakkk!!!
Sebuah ayunan tongkat mendarat dengan sempurna di punggung Alessandro ketika ia selesai menceritakan semuanya, “Grandma tak pernah mengajarkan padamu untuk melakukan hal bejat seperti itu Al! Atau selama ini Grandma terlalu memanjakanmu?”
Alessandro meringis sambil menunduk. Tongkat Grandmanya merupakan senjata yang paling ia takuti. Ia bisa mengkoleksi berbagai senjata, tapi tetap saja tongkat keramat itu hanya milik Grandma Audrey.
Secara khusus Grandma Audrey, Dad Baron, dan Mom Debora, mendatangi kediaman Raymond Costa. Mereka meminta maaf pada Raymond dan juga Bianca. Mereka juga secara resmi melamar Bianca untuk Alessandro. Melihat keadaan Bianca yang tengah hamil, Grandma Audrey semakin marah pada Alessandro karena tak segera menikahi wanita itu.
Flashback off
Dengan berpegangan pada lengan Dad Raymond, Bianca melangkahkan kakinya menyusuri karpet berwarna merah yang kini telah berhiaskan bunga-bunga kecil yang dilemparkan oleh seorang gadis kecil yang biasa disebut dengan flower girl.
Raymond sampai di depan altar, berhadapan langsung dengan sahabatnya. Ia sedikit menatap dengan sinis kemudian tersenyum, membuat Alessandro kembali merasa kesal. Ia seperti tengah dikerjai oleh keluarga dan juga sahabatnya.
Raymond meraih tangan Alessandro, kemudian meletakkan tangan putrinya untuk digenggam oleh sahabatnya itu, “Aku menyerahkannya padamu, agar kamu bisa menggantikanku menjaganya dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Aku tak meminta banyak, hanya jangan membuatnya menangis ataupun tersakiti. Jika kamu berani melakukan itu … aku akan mengambil tongkat Grandma dan menghajarmu.”
“Ishhh!!!” Alessandro meringis kesal. Membayangkan tongkat itu kembali melayang mengenai tubuhnya, sudah membuatnya bergidik ngeri. Sampai saat ini ia masih bertanya-tanya, apa sebenarnya yang ada di dalam tongkat Grandma Audrey, hingga ia selalu merasa sangat sakit jika terkena.
Raymond menoleh ke arah Grandma Audrey dan tersenyum. Grandma Audrey langsung memberikan jempolnya pada Raymond dan menampilkan gigi putihnya yang berderet, yang tentu saja adalah gigi palsu.
🌹🌹🌹