Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#61



Pansy sebenernya pengen ngasih visual, tapi takut kalau ga sesuai ekspektasi, jadi menghancurkan imajinasi pembaca 😁.


Menurut kalian, apa aku perlu ngasi visual? Ntar aku didemo lagi gara2 ga sesuai … jadi agak H2C gitu. masih ragu …


**


Bianca telah diizinkan pulang, tentu saja bersama dengan baby Cord. Setelah baby Cord mendapatkan perawatan dan pengawasan, ia akhirnya dinyatakan bisa keluar dari inkubator.


Alessandro mengambil salah satu perawat dari rumah sakit untuk menjadi babysitter untuk baby Cord. Selain tak ingin Bianca kelelahan, ia juga berharap bahwa seorang perawat memiliki pengetahuan lebih dalam menjaga seorang bayi, terutama bayi yang lahir prematur.


Saat ini Bianca tengah menyusui bayinya. Ia sangat senang saat melihat baby Cord menikmati ASI yang ia berikan dan pulas tertidur.


“Kamu sepertinya benar-benar menikmatinya ya?” Ujar Alessandro yang sangat iri pada putranya itu. Bagaimana bisa putranya kini men-sabotase istrinya, bahkan 24 jam. Meskipun menggunakan jasa babysitter, tapi Bianca tetap sebisa mungkin mengasuh baby Cord. Ia hanya akan meminta babysitter menjaga saat ia sedang mandi atau keperluan yang lain.


“Jangan katakan padaku kalau kamu iri dengan putramu sendiri,” Bianca rasanya ingin tertawa. Suaminya ini benar-benar memiliki tingkat iri yang luar biasa.


“Tentu saja! Coba kamu tanyakan padanya, apa dia mau jika nanti istrinya harus berbagi denganku? Tentu tidak kan …,” Alessandro berdecak kesal. Tubuh bagian bawahnya sudah mulai menegang ketika melihat bagaimana penuhnya payuudara milik Bianca, dan itu bisa dikuasai oleh putranya.


“Hei, jangan sembarangan berbicara. Untung saja Dad Baron tidak mendengarnya. Nanti ia akan mengatakan padamu bahwa kamu harus berbagi dengannya karena dulu kamu juga men-sabotase Mom Debora,” Bianca berusaha untuk membuat Alessandro berpikir. Namun, bukan Alessandro jika ia mendengarkan hal tersebut. Ia tetap tidak suka jika miliknya dikuasai.


Alessandro mulai menyentuh pipi putranya, agar menyudahi acara minum susu secara langsung yang sangat ia inginkan juga.


“Boy, cepatlah! Apa kamu tidak lelah menempel terus seperti ini. Bisakah kamu berbagi dengan Dad?” Tiba-tiba mata baby Cord membuka dan menatap tajam ke arah Alessandro. Ia tak suka acara minumnya diganggu, ia pun langsung menangis.


“Sebaiknya kamu segera pergi bekerja,” kata Bianca sambil menimang-nimang Baby Cord dalam gendongannya.


“Kamu pelit, Boy! Lihat nanti, Dad akan membuat lebih banyak adik untukmu, biar kamu bisa belajar berbagi.”


Bianca mengecup bibir Alessandro sebelum ia mengantarkan suaminya pergi ke kantor. Ia kembali masuk ke kamar dan menidurkan baby Cord sebelum ia pergi untuk membersihkan diri sekali lagi.


**


“Aku takut. Bagaimana jika mereka tidak menyetujuinya? Aku lebih suka tetap menjaga hubunganku seperti saat ini dengan Uncle Isacc dan Aunty Diane.”


Isacc dan Diane sudah berada di ruang tengah, tenpat biasa mereka bercengkerama sebagai satu keluarga. Saat ini mereka sedang menonton televisi seperti kebiasaan mereka di sore hari.


“Dad, Mom!” panggil Juan.


“Aku ingin mengenalkan pada kalian calon istriku,” Aurora masih berada di balik dinding. Ia sedang berusaha menetralkan rasa takutnya karena semua ini akan mempengaruhi hubungannya dengan Uncle Isacc dan Aunty Diane. Mereka adalah orang terdekat yang Aurora miliki di Desa Flam.


“Kamu membawanya?” tanya Dad Isacc pada Juan, dan dijawab dengan anggukan oleh putranya itu.


“Kemarilah, kami ingin bertemu dengannya. Jangan khawatir, Mommy-mu sudah jinak,” kata Dad Isacc, membuat Juan tersenyum dan lebih percaya diri.


Juan meraih tangan Aurora dan membawanya ke hadapan orang tuanya. Sebelumnya ia berbisik pada Aurora, “tenanglah, aku bersamamu.”


Mata Mom Diane membesar dan mulutnya menganga saat melihat bahwa Aurora-lah yang diajak oleh Juan untuk bertemu dengan mereka. Dad Isacc segera meletakkan tangannya di bawah dagu Mom Diane untuk mengatupkannya kembali.


Di kepala Mom Diane kini berputar semua pernyataan yang dikatakan oleh Juan, “Juan!”


Suara yang sedikit keras dari Mom Diane membuat Juan sedikit kaget, begitu juga dengan Aurora. Ia meremas kedua tangannya, terasa dingin tapi berkeringat. Aurora terus menundukkan kepalanya. Ia tak berani melihat ke arah pasangan paruh baya itu, tak seperti ia biasanya.


Mom Diane langsung bangkit dari duduknya san menghampiri Aurora. Ia mendudukkan dirinya persis di sebelah Aurora dan menggeser posisi Juan, “Kenapa kamu tidak mengatakan pada kami kalau Juan yang telah membuatmu seperti ini? Jika aku tahu, aku pasti sudah menyeretnya pulang dan langsung memintanya bertanggung jawab padamu.”


Aurora melihat ke arah mata Aunty Diane, “Maaf Aunty. Ini semua bukan kesalahan Juan. Aku yang pergi darinya dan aku tidak memintanya bertanggung jawab.”


“Panggil aku Mommy. Aku akan segera menikahkanmu dengan Juan. Jadi mulai hari ini kamu harus memanggilku Mommy,” Diane sangat senang. Ia akan segera memiliki seorang menantu sesuai keinginannya dan bonus seorang cucu … instan!


Dad Isacc dan Juan yang memperhatikan kedua wanita itu pun tersenyum dengan lega. Namun, senyum mereka langsung menghilang saat melihat wajah Aurora yang terlihat seperti kesakitan. Dari pangkal pahanya mengalir cairan bening yang begitu terasa hangat.


“Sayang, cepat siapkan mobil! Juan, angkat Aurora!” Isacc berlari keluar untuk menyalakan mobilnya, sementara Juan langsung menggendong tubuh Aurora.


“Bertahanlah,” bisik Juan di telinga Aurora.


🌹🌹🌹