
Ting nong … ting nong …
Riana tak berharap banyak, ia hanya ingin meminta pada Juan untuk membantu Aurora. Mungkin jika Juan mau mengakui anak yang ada dalam kandungan Aurora, Aurora tidak akan terlalu terobsesi lagi dengan Alessandro.
Cklekk …
Juan berdiri di depan pintu, melihat kedatangan Riana, “Ada apa?” tanyanya dengan ketus.
“Bisakah kita bicara? Aku akan menunggumu di cafe bawah,” pinta Riana.
“Masuklah, kita bicara di dalam saja. Aku tahu kemana arah pembicaraanmu dan aku tak ingin semua orang membicarakannya,” Riana pada akhirnya masuk ke dalam apartemen milik Juan. Sebenarnya ia tak ingin berdua saja dengan Juan, tapi ia akan melakukan semuanya untuk Aurora.
“Katakanlah apa yang kamu ingin katakan dan segera pergi,” Juan benar-benar tidak memberi kesempatan pada Riana untuk berbicara banyak.
“Tuan Juan, maafkan kedatanganku yang tiba-tiba. Aku tahu itu pasti mengganggumu. Aku datang ke sini hanya untuk memohon padamu, temuilah Aurora. Saat ini ia sedang depresi karena …”
“Itu pilihannya. Ia yang memilih pria lain untuk menjadi suaminya, menjadi ayah bagi anaknya. Sebaiknya kamu pergi, ku rasa aku telah melakukan lebih dari yang seharusnya padanya.”
“Tuan, aku mohon. Temuilah Aurora sekali lagi,” tiba-tiba saja Riana berlutut di hadapan Juan, membuat Juan mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku pernah menemuinya dan mau bertanggung jawab, tapi dia secara terang-terangan menolakku. Apa kamu kira hatiku tidak sakit? Ia bahkan mengatakan bahwa ia hanya menggunakanku sebagai jalan untuk mendapatkan seorang Alessandro. Aku tahu, aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pria itu.”
“Mewakili Aurora, saya meminta maaf pada anda, Tuan.”
“Jika ia menginginkan aku yang bertanggung jawab, biarlah dia sendiri yang datang padaku. Aku juga tidak mau bertanggung jawab padanya karena keterpaksaan dari dirinya. Kuharap kamu mengerti,” Juan berusaha menjelaskan secara baik-baik pada Riana.
“Bangunlah, aku tak biasa melihat seorang wanita berlutut di hadapanku. Ini bukan kesalahanmu. Aku hanya ingin Aurora menyadari apa yang telah ia lakukan itu salah. Aku akan tetap berada di sini jika ia ingin menemuiku,” ujar Juan meneruskan.
Riana pun akhirnya bangkit dan mengambil tasnya. Ia juga tak banyak berharap Juan mengabulkan semua permintaannya. Apa yang dikatakan Juan tidak salah, karena ia juga berharap Aurora bisa mengerti bahwa obsesinya adalah salah.
**
Alessandro, di hadapannya kini adalah kediaman Keluarga Costa. Ia sudah memikirkan saran Javer selama beberapa hari ini. Ia juga mengumpulkan segenap kekuatan dan keberaniannya untuk berada di sini.
Sebagai awalan, ia ingin berbicara dulu dengan Raymond. Seharusnya ia melakukan ini sejak dulu, menghindari segala kesalahpahaman di antara mereka. Namun, semua sudah terlambat. Tapi tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf.
Hari ini ia mengendarai sendiri mobilnya, tanpa Javer. Ia meminta Javer untuk menangani semua hal di Perusahaan Romano hari ini dan sama sekali tidak diijinkan untuk mengganggunya.
Kamu bisa, Al. Kamu tak akan maju kalau tidak memulai. Ini semua karena dirimu yang dulu tak menginginkan penjelasan. - batin Alessandro.
Dengan langkah tegap, Alessandro berjalan menuju pintu gerbang kediaman Costa. Sesekai ia menarik nafas dan membuangnya, untuk menghilangkan segala kegugupannya. Ntahlah, ia seperti seorang ABG yang akan bertemu dengan orang tua kekasihnya.
“Permisi, apakah Raymond ada di rumah?” tanya Alessandro pada security yang tengah berjaga.
“Ada Tuan. Apa anda ingin bertemu?”
“Ya, katakan padanya Alessandro Romano ingin menemuinya.”
“Baik, Tuan. Tunggu sebentar,” dengan menggunakan intercom, security tersebut menghubungi kepala pelayan di dalam rumah.
Tokkk tokkk tokk …
Kepala pelayan memasuki ruang kerja Raymond, “Ada apa?” tanya Raymond.
“Di luar ada Tuan Alessandro Romano. Ia ingin menemui anda.”
Ada sesuatu yang berkecamuk di dalam diri Raymond, antara benci dan persahabatan. Ia mencoba menenangkan dirinya dan berpikir secara jernih.
“Aku akan menemuinya, antar dia ke mari,” kata Raymond.
“Baik, Tuan,” Kepala pelayan itu undur diri.
“Siapkan 2 cangkir kopi hangat,” pinta Raymond sebelum kepala pelayan itu benar-benar keluar.
Raymond kembali fokus pada dokumen di hadapannya. Selangkah demi selangkah, Perusahaan yang ia bangun mulai menampakkan titik terang dan itu memberikan kelegaan tersendiri bagi Raymond.
Tokkk tokkk tokkk …
“Silakan, Tuan,” Kepala pelayan itu mempersilakan Alessandro untuk masuk ke dalam ruang kerja, kemudian menutup pintunya kembali.
Alessandro melihat ke arah Raymond yang tengah sibuk melihat dokumen di hadapannya. Ia tak pernah segugup ini bertemu dengan sahabatnya.
“Ray,” sapa Alessandro.
“Duduklah, aku akan menyelesaikan ini sebentar lagi,” Alessandro menuruti perkataan Raymond. Ia mengarah pada sebuah sofa panjang yang berada tak jauh dari meja kerja Raymond.
Alessandro memandang ke arah Raymond. Terlihat sangat jelas dari wajahnya, bagaimana ia terlihat sangat lelah. Alessandro memejamkan matanya sesaat dan menghela nafasnya pelan.
15 menit Alessandro menunggu. Kepala pelayan juga telah masuk dan menghidangkan kopi hangat untuknya dengan beberapa cemilan. Raymond bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan ke arah Alessandro. Ia duduk di sofa panjang pada sisi yang berlawanan.
Raymond melihat ke arah Alessandro dan begitu pula sebaliknya. Sejenak mereka terdiam seakan berbicara dari dalam hati mereka masing-masing.
“Ray,” Alessandro akhirnya memulai, “Aku tahu apa yang kulakukan ini terlambat. Tapi aku benar-benar ingin minta maaf padamu atas semua kesalahan yang telah kulakukan.”
Raymond terdiam. Ia belum tahu harus bagaimana menanggapi permintaan maaf Alessandro.
“Seharusnya sejak awal aku mendengarkan penjelasanmu, sehingga tidak ada kesalahpahaman di antara kita. Aku tahu aku egois. Aku minta maaf, Ray,” tiba-tiba saja Alessandro menurunkan kedua lututnya ke lantai dan berlutut di hadapan Raymond.
“Maafkan aku telah menggunakan putrimu untuk membalaskan semua dendam karena keegoisanku. Maafkan aku karena putrimu terluka karenaku. Aku sangat tahu aku salah. Kamu boleh menghukumku, Ray. Aku akan menerimanya,” kata Alessandro.
Raymond menghela nafasnya pelan. Ia tak menyangka Alessandro akan berlutut di hadapannya saat ini hanya untuk sebuah permintaan maaf.
“Aku tahu kamu tidak melakukan apapun bersama Aurora. Kamu mengorbankan dirimu di sana, dan membuatku membencimu, hanya agar aku terlepas darinya. Maaf,” Alessandro saat ini tak memandang ke arah mata Raymond. Mungkin jika melihatnya, ia tak akan sanggup mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya.
“Aku juga ingin mengembalikan ini,” dari dalam saku jas bagian dalam, ia mengeluarkan sebuah buku. Ia meletakkan buku itu di atas meja.
Diary Amadea? Bagaimana bisa ada padanya? - batin Raymond.
“Maaf karena aku membacanya. Aku sangat berterima kasih padanya telah memberitahukan semuanya padaku. Semua hal yang seharusnya kutahu sejak dulu, sesuatu yang telah membutakan mataku. Aku minta maaf, Ray,”
🌹🌹🌹