Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#55



Brakkk!!!


Dengan cepat Alessandro menutup pintu mobilnya dan langsung melesat ke arah kediaman Costa. Ia sudah tidak tahu berapa kecepatan mobilnya saat itu, yang ia pikirkan hanya sampai di kediaman Costa dengan cepat.


Tinnn!!


Alessandro membunyikan klaksom mobilnya dengan kencang agar security kediaman Costa segera membukakan pintu pagar untuknya. Kepalanya sudah terasa panas saat membayangkan Raymond memeluk Bianca, istrinya.


Ia langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, “Bianca!! Sayang!!”


Bianca yang kini sedang tertidur di kamar Dad Raymond tentu saja tak mendengar suara teriakan Alessandro. Sementara itu Raymond yang tengah berdiri di balkon hendak tertawa dengan keras, namun ia berusaha menahannya agar Bianca tidak terbangun.


“Raymond! Cepat keluar!” teriak Alessandro di ruang tengah.


Setelah melihat bahwa putrinya masih terlelap, Raymond akhirnya keluar dari kamar dan menemui Alessandro, “bisakah kamu tidak berteriak? Memangnya kamu sedang berada di hutan?”


“Mana Bianca? Aku akan membawanya pulang.”


“Ia akan menginap di sini bersamaku,” ujar Raymond yang sengaja memancing Alessandro.


“Tidak! Tidak boleh! Bi, sayang! Ayo keluarlah, pulang bersamaku,” teriak Alessandro.


Saat ini Raymond benar-benar menahan tawanya. Ia terus bersikap cool agar Alessandro terus merasa kesal.


Alessandro berjalan melewati Raymond. Ia akan menemukan Bianca dan segera membawa istrinya itu pulang.


“Hei, siapa yang mengijinkanmu membawanya pulang? Biarkan ia menginap di sini jika itu memang keinginannya,” kata Raymond.


“Dengan atau tanpa izinmu, aku akan tetap membawanya pulang.”


“Oooo …. Jadi sekarang kamu sudah mulai berani menentang mertuamu sendiri, hmm?!” Raymond melipat kedua tangannya di depan dada. Alessandro menoleh, menggeram kesal karena mulai merasa ada sesuatu yang salah.


Raymond terkekeh tanpa diketahui oleh Alessandro. Sahabatnya itu tengah mengalami bucin super akut, yang sepertinya mulai tidak tertolong.


“Sebaiknya sekarang kamu pulang. Biarkan Bianca menginap di sini.”


“Tidak! Jika ia menginap di sini, maka aku juga akan berada di sini,” kata Alessandro.


“Baiklah, tidak masalah. Di sana kamarmu,” Raymond menunjuk salah satu pintu yang Alessandro ketahui adalah kamar Bianca. Ia sudah tersenyum senang karena ia bisa menemui istrinya lagi.


Alessandro langsung naik ke atas dan masuk ke dalam kamar Bianca. Sementara itu Raymond kembali ke kamarnya, untuk melihat keadaan Bianca.


“Dad, apa Al sudah datang? Aku seperti mendengar suaranya,” tanya Bianca.


“Kamu masih mengantuk, sayang. Tidurlah.”


Sementara itu, Alessandro yang berada di kamar Bianca tak menemukan wanita itu di manapun. Ia kini membayangkan Bianca sedang berada di kamar Raymond dan tidur di atas tempat tidur Raymond.


“Tidak!!” Ia segera keluar dari kamar dan mengetuk kamar tidur Raymond.


“Ray! Cepat keluar! Kembalikan Bianca-ku.”


Raymond membuka sedikit pintu kamarnya dan melihat Alessandro yang sudah tegap berdiri di depan pintu kamarnya dengan berwajah kesal.


“Bisakah kamu diam? Bianca sedang istirahat, tega sekali kamu!” kata Raymond dengan sedikit ketus.


Alessandro melihat Bianca yang tertidur di atas tempat tidur Raymond. Ia benar-benar sudah kepanasan saat ini, asap sudah mengepul dari seluruh lubang yang ia punya.


“Dasar menantu lucknut! Itu putriku sendiri. Sudah bagus kamu kuizinkan menikahinya! Sepertinya aku harus mengatakan pada putriku bahwa suaminya telah berbuat kasar padaku.” ungkap Raymond dengan kesal. Namun di dalam hatinya ia tersenyum karena mulai merasa menang dari Alessandro.


Alessandro menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Raymond, “Dad mertua … maafkan aku. Tolong jangan katakan itu pada istriku. Baiklah aku akan keluar, tapi jangan mengadu ya ya.”


Alessandro yang hampir sampai di dekat Bianca akhirnya berjalan mundur dan mendekati pintu. Ia sebenarnya tidak rela membiarkan Bianca tertidur di sana. Tapi itu sepertinya lebih baik daripada nanti ia diusir keluar kamar karena Raymond mengadu bahwa ia telah disakiti.


Setelah kepergian Alessandro, Raymond memegang perutnya. Ia benar-benar tertawa keras saat ini. Ia sudah menahan tawa dengan berakting luar biasa sebagai seorang ayah mertua.


“Dad …,” Raymond menghampiri Bianca yang mulai mengerjapkan matanya.


“Apa Al sudah datang?” Raymond tahu Bianca sangat mencintai sahabatnya. Bahkan dua kali ia terbangun, dua kali pula ia langsung menanyakan tentang Alessandro.


“Ia berada di kamarmu, sayang. Apa kamu ingin menemuinya?”


“Ia tidak marah padaku kan, Dad?”


“Marah? Kenapa ia harus marah?” tanya Dad Raymond.


“Tadi pagi ia melarangku datang menemui Daddy. Ia mengatakan bahwa ia yang akan menemaniku untuk datang ke sini, tapi karena aku kesal dengannya … aku tidak minta izin padanya dan langsung ke sini.”


“Ia tak akan marah. Jika ia marah, katakan padanya kalau Dad akan menghajarnya sampai ia babak belur.”


“Jangannn Dad!” Raymond tersenyum melihat Bianca yang begitu mencintai Alessandro. Mungkin seharusnya Raymond-lah yang merasa cemburu saat ini karena putrinya telah memiliki pria lain untuk ia cintai, bukan sebaliknya.


“Baiklah, temuilah dia. Ia sepertinya sudah uring-uringan sedari tadi.”


Bianca memeluk Dad Raymond dan memberikan ciuman di pipi, “I love you, Dad!”


**


Alessandro berdiri di balkon kamar Bianca. Ia menatap jauh ke depan, tak tahu apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


Cklekk …


Alessandro menoleh dan melihat bahwa Bianca yang datang memasuki kamar, “Bi, sayang …,” Alessandro langsung memberi pelukan pada istrinya itu seperti sudah tidak bertemu lama sekali.


“Apa kamu marah padaku?” tanya Bianca.


“Tidak, aku tidak marah. Maaf, seharusnya aku tahu bahwa kamu merindukan Raymond.”


“Aku sudah memeluk dan tidur bersama Dad tadi. Aku senang sekali,” Alessandro bisa melihat rona kebahagiaan di wajah Bianca.


“Maaf Bi. Tadi pagi aku sangat cemburu ketika kamu mengatakan bahwa kamu ingin memeluk Raymond. Bagaimanapun juga, kamu adalah istriku. Aku tidak bisa membiarkan sahabatku sendiri memeluk istriku.”


“Tapi dia Daddyku, mengapa kamu melarangku?”


“Ntahlah, aku selalu merasa dia adalah sahabatku, bukan Dad mertuaku. Jadi … aku tidak bisa membiarkanmu dipeluk olehnya,” Alessandro berusaha menjelaskan.


“Kamu tahu sayang … aku mencintaimu dan aku menyayangi Dad Raymond. Kalian adalah 2 orang yang paling penting dalam hidupku. Jika saat ini aku harus memilih di antara kalian berdua, mungkin aku tak akan bisa melakukannya.”


“Maafkan aku, sayang. Aku terlalu mencintaimu, hingga tak ingin membagimu dengan siapapun,” Alessandro memeluk Bianca dan mengecup dahi istrinya.


🌹🌹🌹