Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#18



Berita pagi ini begitu menghebohkan, pasalnya Perusahaan Romano akan mengakuisisi Perusahaan Costa. Jantung Bianca langsung berpacu dengan cepat.


“Apa maksud ini semua?” gumamnya. Rencananya hari ini ia akan membantu Dad Raymond mencari investor. Memang tidak mudah, tapi bukankah kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencoba. Namun, berita ekonomi dan bisnis pagi ini langsung membuat Bianca tak bisa berkata-kata.


Ia kembali tak menemukan Dad Raymond di manapun.


“Bu Nah, apa melihat Daddy?” tanya Bianca pada Bu Hannah yang menjadi kepala pelayan di kediaman Costa.


“Tuan sudah berangkat sejak tadi pagi-pagi sekali.”


“Pagi-pagi lagi? Ya Tuhan, sepertinya aku memang telah membuat kekacauan,” tangan Bianca secara reflek mengambil remote televisi. Ia mengubah chanel ke berita ekonomi dan bisnis.


...Pagi ini, Perusahaan Romano secara terang-terangan mendatangi Perusahaan Costa. ...


...Rencana akuisisi ternyata bukan hanya isapan jempol. Wartawan surat kabar dan juga reporter televisi kini tengah memadati Perusahaan Costa. Kedua petinggi masing-masing perusahaan tersebut kini tengah berada di dalam ruang meeting untuk mencapai kesepakatan mereka....


...Setelah perdebatan yang cukup alot di dalam ruang meeting, pada akhirnya Tuan Costa bersedia menjual Perusahaannya kepada Tuan Romano. Sungguh disayangkan memang karena Perusahaan Costa adalah perusahaan yang besar, yang juga memiliki pengaruh dalam dunia konstruksi di Italia....


Bianca yang tengah duduk memperhatikan siaran televisi kini hanya bisa menatap dengan sendu semua hasil perbuatannya. Ia memejamkan matanya, menarik san membuang nafasnya pelan, mencoba mencari jalan keluar yang bisa ia dapatkan.


Ia segera kembali ke kamar dan membersihkan diri. Ia akan pergi ke Perusahaan Costa. Bianca tak pergi kuliah hari ini, ia ingin bertemu Dad Raymond.


**


“Dad …,” Bianca saat ini benar-benar tak tega melihat keadaan Raymond. Wajah yang terlihat tirus dan mulai tak terurus.


“Bi,” Raymond menatap ke arah Bianca dengan tatapan yang sulit diartikan, “Maafkan Daddy.”


Bianca sudah tak bisa menahan air matanya lagi. Melihat bagaimana keadaan Dad Raymond saat ini, benar-benar telah menghancurkan hatinya.


Bianca memeluk Dad Raymond dengan erat. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Raymond, menumpahkan segala kerinduan yang tersimpan beberapa waktu belakangan ini. Bianca menengadahkan wajahnya ke atas, menatap pria kesayangannya, cinta pertamanya.


Maafkan Bian, Dad. Ini semua kesalahanku. Tapi tenang saja, aku berjanji akan mengembalikan perusahaan Daddy. - batin Bianca.


“Kita pulang, sayang,” kata Raymond sambil meraih jas nya yang ia letakkan di pinggir kursi kerjanya. Ia juga menatap figura besar di dinding di mana foto keluarganya ia letakkan.


“Maafkan aku,” gumam Raymond yang masih bisa didengar oleh Bianca. Hal itu menambah rasa bersalah di dalam hati Bianca.


Malam hari di kediaman Costa,


“Dad, ayo makan dulu,” ajak Bianca.


“Kamu makan dulu, Bi. Dad tidak lapar. Dad ingin sendiri dulu.”


Bianca duduk sendiri sambil menatap makanan yang tersaji di atas meja. Suasana sepi, ia benci. Ia pernah merasakan hal seperti ini ketika Mom Dea meninggal, tapi saat itu Dad Raymond masih selalu berada di sampingnya, menguatkan dirinya serta menghiburnya, meskipun ia tahu Dad Raymond yang paling terluka saat itu.


Kini, ia yang membuat Dad Raymond kembali terluka. Ia yang menghancurkan Perusahaan Costa, perusahaan yang dibangun dari nol oleh Orang tuanya.


Alessandro, pria itu sama sekali tak pernah menghubungi Bianca sejak ia melakukan perubahan data pada laporan proyek Kota Milan. Bianca sudah mencoba untuk menghubunginya, meskipun hanya untuk bercerita bahwa ia telah berhasil mengubah angka dan ingin memberikan kejutan bagi Dad Raymond.


Bianca tiba-tiba tersenyum miris. Kini ia tahu, bahwa dirinya adalah gadis bodoh yang menjadi alat bagi seorang Alessandro Romano, untuk menghancurkan Raymond Costa.


Bianca langsung berlari ke kamar tidurnya, tanpa menyentuh makanan yang ada di atas meja. Ia mengambil diary milik Mom Amadea, dan mulai kembali membacanya.


Hari ini tepat 6 bulan sejak aku menjadi kekasih Ray. Kami akan merayakannya di sebuah taman hiburan. Kami berangkat pagi agar wahana-wahana yang ingin kami naiki masih kosong dan tidak perlu antri.


Kami menaiki ferris wheel atau dikenal dengan bianglala, tempat cinta kalau orang-orang mengatakannya. Jika kita saling berciuman di puncak bianglala, maka cinta kita akan menemukan kebahagiaan. Tentu saja kami berciuman … bahkan sepanjang kami menaikinya. Ahhh aku begitu malu. Aku benar-benar mencintaimu, Ray.


Namun, kejadian tak mengenakkan mata harus kami lihat. Sepulangnya kami dari taman hiburan, kami mampir di sebuah restoran. Persis di sebelah restoran, ada sebuah toko perhiasan. Kamu berdua melihat Ara keluar dari sana sambil menggandeng lengan seorang pria paruh baya, sambil memamerkan cincin berlian di jarinya.


Ray langsung menarik tanganku agar kami bersembunyi. Ia ingin mendekat dan mendengar apa yang dibicarakan oleh Ara dan lelaki itu. Ternyata, Ara mengajak lelaki itu ke sebuah hotel untuk menuntaskan hasrat mereka. Aku tak bisa membayangkan, apa yang ada di dalam pikiran Ray saat itu, ketakutan menghantuiku.


Bianca kemudian membuka lembar selanjutnya. Ia semakin penasaran dengan semua cerita yang ada di dalam diary tersebut.


Sejak saat itu, aku selalu mendukung apapun yang Ray lakukan untuk memisahkan Ara dengan Al. Aku tahu, Ray menginginkan yang terbaik untuk sahabatnya.


Sampai akhirnya malam ini, kami menempuh cara yang ekstrim. Beberapa kali Ray sudah mencoba untuk mengatakan pada Al, tapi ntah mengapa Ara selalu membalikkan keadaan.


Kini, Ray sendiri yang akan menjadi pria itu. Setelah kami melihat Ara membawa seorang pria masuk ke dalam apartemen miliknya, kami menunggu di cafe 24 jam di depan apartemen, tempat paling aman untuk memperhatikan mereka.


Tepat jam 2 pagi, pria yang bersama dengan Ara pulang. Ara tak pernah mengijinkan pria-prianya untuk menginap, ntah mengapa. Setelah kepergian pria itu, aku dan Ray masuk ke dalam lobby apartemen. Ray memintaku untuk pulang dan beristirahat.


Ray masuk ke dalam apartemen milik Ara dengan menggunakan password yang ia dapatkan dari salah seorang pria yang sering tidur dengan Ara. Rencana kami adalah Ray berpura-pura tidur bersama dengan Ara hingga esok pagi-pagi sekali Al akan menemukan mereka sedang tidur bersama.


Kami mengetahui kepulangan Al dari salah seorang anggota keluarganya di Paris, yang juga adalah sahabat Ray. Kami sangat yakin bahwa Al akan langsung ke apartemen Ara karena saat itu Al sedang bucin-bucinnya.


Ray menyuntikkan sedikit obat tidur pada Ara, ya dosis kecil hanya untuk beberapa jam. Ray bahkan masih melakukan panggilan video denganku setelah selesai melakukannya. Melihat keadaan Ara saat itu yang tanpa busana, membuat hatiku takut kalau-kalau Ray akan tergoda. Namun, ia menguatkanku. Ia bahkan tak memutuskan sambungan video kami, hingga Al tiba di apartemen.


Aku bahkan masih mendengar suara marah Al saat itu, karena Ray mengubah panggilan video itu menjadi panggilan telepon biasa. Aku yang mendengar Al pergi, langsung masuk ke dalam apartemen untuk menemui Ray. Ya, aku tidak pulang … aku menunggunya di cafe 24 jam itu.


Ingin sekali aku mengatakan padamu, hai Alessandro Romano. Betapa sahabatmu sangat menyayangimu, hingga ia mengorbankan persahabatan kalian demi kebahagiaanmu. Ia rela dibenci olehmu, agar kamu tidak bersama dengan wanita bernama Aurora Frederica.


🌹🌹🌹