
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Bianca baru saja keluar dari kampus. Memang dalam 1 minggu sekali, Bianca ada mata kuliah yang mengharuskan ia pulang sore karena harus mengikuti praktik di kelas Akuntansi.
Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas miliknya. Ponsel lamanya hilang, tidak tidak, ponselnya tertinggal di kediaman Romano bersama dengan tas miliknya dan diary Mommynya. Ia tidak masalah kehilangan ponsel dan tas nya, tapi diary Mom Amadea sangat berharga baginya.
Bianca tak punya keberanian untuk kembali ke rumah Romano setelah kejadian itu. Dengan terpaksa ia harus merelakan diary milik Mom Amadea.
Ia membuka aplikasi taksi online dan mulai mengetikkan sesuatu di sana. Kalau saja Melanie hari ini tidak ada acara, tentu ia bisa menumpang di mobil sahabatnya itu.
“Ahhh!!!” Tiba-tiba saja seseorang menarik pergelangan tangan Bianca. Untung saja ponsel barunya tidak terjatuh.
Mata Bianca langsung membulat ketika tahu siapa yang menariknya. Ia langsung melangkahkan kakinya pergi, tapi untuk kedua kalinya ia kembali ditarik hingga wajahnya menabrak dada Alessandro.
“Lepaskan aku!” teriak Bianca. Ia langsung memukul Alessandro dengan sekuat tenaga. Namun, semua itu tak ada artinya karena tubuhnya jauh lebih kuat.
Bianca menatap nyalang ke arah Alessandro, “Lepaskan aku! Jangan menggangguku lagi.”
“Apa kamu tidak merindukanku? Apa semudah itu kamu melupakanku dan bagaimana kita melewati malam panas bersama?”
Plakkk!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Alessandro. Bertemu dengan pria itu sudah membuka luka di hati Bianca, dan ketika pria itu mengingatkan tentang malam naas itu, ia seperti menyiram air garam pada luka Bianca yang menganga.
“Tamparanmu mengatakan bahwa kamu mengingat malam itu dengan baik,” Alessandro mengusap pipinya sambil tersenyum ke arah Bianca.
Alessandro meraih pinggang Bianca hingga tubuh mereka berdekatan. Bisa dikatakan hanya pakaian yang mereka kenakan yang menjadi pemisah.
Dengan cepat Alessandro langsung meraih bibir Bianca. Dengan sebelah tangannya ia menahan tengkuk Bianca dan ******* bibir berwarna pink yang terasa begitu manis. Bianca terus mendorong tubuh Alessandro, tanpa memberikan balasan pada ciuman pria itu.
Seketika itu juga, alat tempur Alessandro mengeras. Bianca bisa merasakannya dan tiba-tiba saja tubuhnya melemas. Dahinya mulai mengeluarkan keringat dingin dan Al menyadari perubahan yang terjadi pada Bianca.
“Bi?” Alessandro langsung mengangkat tubuh Bianca dan memasukkannya ke kursi belakang mobil. Ia menyetir dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
**
“Gadis ini?”
“Iya Nona. Dia adalah Bianca Costa, putri dari Raymond Costa.”
“Costa?!” Aurora mengepalkan tangannya. Ia teringat akan penjebakkan yang dilakukan oleh Raymond dan membuat dirinya harus kehilangan Alessandro, tambang emasnya.
Sekali lagi Aurora melihat foto-foto yang ada di tangannya. Ia memerintahkan seseorang mengikuti Alessandro. Ia bahkan meminta mereka mencari tahu wanita manapun yang bernama Bianca yang pernah dekat dengan Alessandro.
“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya kan?” tanya Aurora.
“Saya tahu, tapi bagaimana dengan bayarannya?”
“Aku sudah mentransfer setengahnya padamu, dan sisanya setelah kamu membereskan gadis itu. Ingat, tanpa jejak dan jangan sampai ada yang tahu hubungannya denganku.”
“Baik Nona.”
**
Alessandro menunggu seorang dokter yang kini tengah memeriksa Bianca.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Alessandro.
“Ia tidak apa-apa. Hanya saja ia seperti mengalami serangan panik secara tiba-tiba. Apa ia pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan yang menyebabkannya trauma?”
“Ya, anda sudah boleh membawanya pulang,” sang Dokter pun meninggalkan Alessandro yang kini masuk ke dalam ruangan untuk menjemput Bianca.
“Ayo kita pulang,” ajak Alessandro.
“Aku tidak mau. Aku sudah menghubungi Dad Raymond dan ia akan segera datang ke sini.”
Ckkk …
Alessandro berdecak kesal. Ia masih ingin bersama dengan Bianca, tapi ia tak ingin bertemu dengan Raymond. Sejak malam ia bersama dengan Aurora, pikiran Alessandro selalu mengingat Bianca.
Ia menghela nafasnya kasar, dan pada akhirnya ia pergi meninggalkan Bianca. Sementara Bianca sebenarnya tidak menghubungi Dad Raymond. Ia tahu bahwa Daddynya saat ini sedang sibuk merencanakan sebuah perusahaan baru dan Bianca tak ingin mengganggunya karena masalah kecil seperti ini.
Setelah Alessandro pergi, Bianca menunggu hingga 30 menit, kemudian ia baru keluar dari rumah sakit. Ia berdiri di depan lobby rumah sakit dan kembali memesan taksi online. Suasana sudah agak gelap dan area depan rumah sakit tak terlalu ramai.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan Bianca. Mobil tersebut membuka pintu bagian belakang dan tiba-tiba dari arah belakang Bianca muncul seseorang dengan saputangan dan langsung membekap Bianca. Dengan cepat mereka memasukkan Bianca ke dalam mobil.
**
“Gi, sebaiknya kamu segera mengurus semua surat-surat yang diperlukan. Untuk sementara, kita akan menggunakan area garasi ini untuk kantor sementara kita,” Raymond menjelaskan pada Gio.
“Saya mengerti, Tuan. Mungkin akan lebih baik kalau kita membersihkan garasi ini terlebih dahulu agar waktu yang kita gunakan menjadi lebih efektif.”
“Hmm … aku akan meminta pelayan untuk membersihkannya. Oya, makan malamlah dulu di sini. Bianca pasti akan senang jika kita makan malam bersama.”
Raymond dan Gio masuk ke dalam rumah, “Bu Nah, panggilkan Bianca. Kita makan malam bersama.”
“Tapi … Nona Bianca belum kembali dari kampusnya, Tuan.”
“Belum kembali? Apa jadwal dia hari ini Gi?”
“Hari ini Nona Bianca akan kuliah sampai jam 4 sore saja, Tuan.”
“Tapi ini sudah jam 8 malam, Gi. Coba kamu cek posisi Bianca sekarang. Bukankah kamu sudah meletakkan GPS di dalam ponselnya?”
“Sudah, Tuan,” Gio langsung membuka laptopnya dan membuka program yang ia kembangkan, detektor yang berukuran mini yang diletakkan di dalam ponsel milik Bianca.
“Ini ….,” perkataan Gio terputus ketika melihat lokasi di mana Bianca berada.
“Gudang pelabuhan? Apa yang sedang ia lakukan di sana?”
Raymond dan Gio segera pergi menuju titik lokasi sesuai yang ditunjukkan oleh alat detektor. Dengan kecepatan penuh, Gio menyetir mobil milik Raymond. Jarak dari kediaman Costa menuju pelabuhan bisa dikatakan cukup jauh.
“Lan, cepat siapkan helikopter!” Gio memerintahkan sahabatnya, Arland untuk menyiapkan sebuah helikopter detik itu juga.
“Berapa lama kita sampai di sana?” tanya Raymond.
“30 menit,” Gio memperkirakan mereka akan sampai di gudang pelabuhan dalam waktu 30 menit.
Bertahanlah, Bi. Apa yang sebenarnya terjadi padamu dan siapa yang telah melakukan ini? - Raymond.
“Gi, perintahkan anak buah kita untuk memeriksa lokasi terakhir Bianca. Aku ingin tahu siapa yang telah melakukan ini,” perintah Raymond.
“Baik, Tuan,” Gio juga menghubungi informan yang ia miliki untuk mencari tahu mengenai Bianca seharian ini.
🌹🌹🌹