Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#38



“Kurang ajar!!! Sialann!!! Ternyata dia melakukan test DNA pada bayi yang ada dalam kandunganku, bagaimana bisa?” Aurora menatap nyalang ke arah televisi yang kini menyiarkan acara konferensi pers Alessandro.


Aurora langsung mengambil sebuah vas bunga yang terletak di atas meja dan melemparkannya ke layar televisi hingga keduanya hancur berantakan.


“Kamu tidak membantuku sama sekali untuk mendapatkan Alessandro, jadi apa gunanya lagi kamu berada dalam tubuhku!” ungkap Aurora kesal sambil memukul perutnya berkali-kali.


Pintu apartemennya terbuka dan tampak Riana, managernya, tiba di sana. Riana langsung menghampiri Aurora yang sepertinya kehilangan kendali atas dirinya melihat pemberitaan di televisi.


“Ra, hentikan! Kamu akan menyakiti bayimu,” kata Riana.


“Aku tidak peduli. Ia sudah tidak berguna lagi. Aku mempertahankannya karena aku bisa memiliki Alessandro. Tapi apa?”


“Tapi dia sama sekali tidak bersalah, ra. Mengapa kamu mau menyakitinya?”


“Lalu menurutmu aku harus mempertahankannya? Ia sudah tidak berguna, ia tidak bisa membuatku memiliki Alessandro … dan dia juga akan menghancurkan karirku,” Aurora berteriak ke arah Riana.


“Ra, tenangkan dirimu. Aku tahu ini tidak mudah. Apa kamu tidak ingin Juan bertanggung jawab atas bayimu?” Riana berusaha bertanya dengan lembut pada Aurora. Jika ia menasehati Aurora dengan suara keras, ia yakin Aurora akan berteriak lebih keras lagi.


“Tidak, aku tidak mau. Aku sudah mengusirnya. Aku sudah berkata padanya bahwa aku sudah memilih Alessandro untuk bertanggung jawab.”


“Aku akan berbicara baik-baik dengannya. Aku tahu bagaimana Juan. Ia sebenarnya adalah seorang pria yang baik, aku bisa melihat itu dari matanya.”


“Tapi aku menginginkan Alessandro! Aku ingin Alessandro yang bertanggung jawab! Aku ingin Alessandro yang menikahiku. Kamu tahu, Alessandro adalah mantan kekasihku. Ini semua adalah kesalahan Raymond Costa. Kalau saja ia tak ikut campur dengan hubungan kamu dulu, pasti saat ini aku sudah menjadi istri Alessandro. Aku tahu Alessandro sangat mencintaiku, buktinya ia tak menikah sampai saat ini,” Aurora terus berusaha mempertahankan pendapatnya. Obsesinya pada Alessandro membuatnya tak mampu berpikir dengan kepala dingin.


“Sebaiknya kamu beristirahat,” Riana membantu Aurora untuk bangkit dan menuju kamar tidurnya. Ia membantu Aurora dengan sabar, kemudian menyelimuti wanita itu.


“Ri, apa kamu bisa membantuku membujuk Alessandro? Katakan padanya bahwa aku melakukan semua ini karena aku mencintainya, aku tak bisa kehilangan dirinya lagi. Jika ia ingin aku menggugurkan anak ini, aku akan melakukannya, asalkan ia mau kembali bersamaku.”


“Istirahatlah dulu. Aku akan membersihkan ruang duduk dulu, setelah itu aku akan menyiapkan makanan untukmu, hmm,” Riana menepuk punggung tangan Aurora, kemudian keluar dari kamar.


**


“Jav, menurutmu bagaimana kalau kita menjalin kerja sama dengan Perusahaan Costa?” tanya Alessandro.


“Apa kamu akan menjatuhkannya lagi?” Javer bertanya balik.


“Tentu saja tidak! Aku ingin membantunya untuk bangkit. Ini semua kesalahanku dan aku harus menebus kesalahanku,” kata Alessandro.


“Ku rasa Tuan Raymond akan menolaknya. Bukankah ia juga mengembalikan semua surat kepemilikan Perusahaan Costa yang dulu kepadamu? Itu artinya ia tidak mau dikasihani olehmu atau memiliki hubungan lagi denganmu,” kata Javer.


Alessandro tampak berpikir. Dalam hatinya ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Javer. Sejak dulu, Raymond adalah pribadi yang sangat mandiri, bahkan Alessandro lah yang sepertinya bergantung padanya.


“Apa kamu punya saran agar aku bisa mendekatinya?” tanya Alessandro.


“Dekati putrinya,” jawab Javer.


Tanpa kamu suruh pun itu sudah kulakukan. Tapi ia dengan mudahnya melupakanku. Jika ingatannya kembali, aku yakin justru ia akan lebih membenciku dibandingkan dengan Raymond. - batin Alessandro.


“Apa tidak ada cara lain?”


“Ada, tapi ku rasa kamu tidak akan mau melakukannya.”


“Datangi dia, bicaralah empat mata dengannya. Semua permasalahn kalian seharusnya dibicarakan sejak awal, bukan dengan melakukan balas dendam. Aku juga salah pada awalnya karena mengikuti semua perintahmu,” gerutu Javer.


“Akan aku pikirkan,” Alessandro tampak diam meresapi ucapan Javer.


**


Bianca berdiri di taman belakang Mansion Costa. Ia memandang ke arah taman bunga yang menjadi tempat kesukaan Mom Amadea. Ia tersenyum sambil mengingat bagaimana dulu ia berlari-larian mengelilingi taman bunga itu, sambil menemani Mom Amadea merawat bunga-bunganya.


Ia berjalan mendekat, memegang daun-daun, serta setiap helai kelopak bunga yang berwarna-warni di depannya. Ia kembali tersenyum, namun meneteskan air matanya.


“Maafkan aku, Mom. Aku membuat Dad kecewa.”


Dari kejauhan, Raymond memperhatikan Bianca. Ia tahu Bianca pasti merindukan Dea, seperti ia juga merindukan istri tercintanya itu. Yang bisa ia lakukan untuk Dea saat ini adalah menjaga Bianca sebaik mungkin, juga menjaga cucu mereka.


“Apa yang harus Dad lakukan untuk membuatmu bahagia, Bi? Dad ingin kamu memiliki keluarga yang lengkap untuk calon anakmu,” gumam Raymond.


Dalam hatinya, Raymond tak bisa membenci Alessandro. Bagaimanapun, Alessandro adalah sahabatnya, bahkan hubungan mereka lebih seperti saudara. Namun, Raymond tak pernah menyesali apa yang telah ia lakukan untuk Alessandro, meskipun menimbulkan kebencian dan dendam di hati sahabatnya itu.


“Bi!” Raymond memanggil Bianca yang tengah berada di taman bunga milik Amadea. Raymond selalu meminta tukang kebun untuk merawat bunga-bunga milik Dea. Melihatnya tumbuh subur dan cantik, membuat Raymond merasakan kehadiran Dea di tengah-tengah mereka.


“Dad!” Bianca langsung menghapus air matanya. Ia tak ingin Dad Raymond melihat kesedihannya.


“Apa yang sedang kamu lakukan, sayang? Kemarilah, Dad akan mengajakmu makan malam di luar seperti dulu.”


“Makan malam?” Wajah Bianca terlihat sumringah. Sepertinya sudah lama sekali ia tidak makan malam berdua dengan Dad Raymond.


“Apa kamu sedang menginginkan sesuatu? Bukankah wanita hamil seharusnya mengidam? Mommymu dulu selalu meminta Dad mengambil mangga dari pohon mangga tetangga sebelah rumah,” Raymond seketika terkekeh bila mengingat permintaan Dea yang tidak masuk akal.


“Dad mencuri?”


“Hei, tentu saja tidak! Dad hanya mengambil mangga yang keluar dari lahannya saja. Itu bukan mencuri, kan sudah masuk dalam pekarangan kita,” ujar Raymond membela diri.


“Kalau begitu, apa Dad akan melakukan itu juga untukku?” tanya Bianca.


“Maksudmu?”


“Aku juga ingin mangga di tetangga sebelah,” goda Bianca yang membuat wajah Raymond tiba-tiba merengut.


“Nanti Dad lihat dulu, apa ada mangganya yang melewati batas atau tidak. Kalau tidak ada, kita beli saja di supermarket,” kata Raymond dengan kesal. Padahal tadi dia yang menawarkan pada Bianca mau apa, tapi sekarang malah dia yang menggerutu.


Bianca seketika tertawa melihat tingkah Dad Raymond, “Apa kamu sedang menggoda Daddy, Bi?”


“Aku? Tentu saja … iya,” sekali lagi Bianca tertawa. Sudah lama rasanya ia tak tertawa lepas seperti ini, hingga membuat perutnya terasa sedikit sakit.


“Dad, Dad … Bian menyayangimu. Mari kita pergi, sebelum aku benar-benar akan meminta mangga di tetangga sebelah.”


🌹🌹🌹