Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#58



“Sayang, aku pergi dulu,” pamit Diane pada Isacc yang tengah memberi makan sapi-sapi mereka.


“Baiklah. Oya, apa kamu sudah membangunkan Juan?” tanya Isacc.


“Biarkan dia beristirahat. Ia pasti masih lelah karena perjalanan kemarin. Aku akan membangunkannya nanti setelah aku mengantarkan susu ke rumah Aurora.”


“Baiklah, hati-hati sayang,” Isacc mengangkat sebelah tangannya yang masih memegang rerumputan yang akan ia letakkan di tempat makan sapi-sapinya.


Diane membawa sebuah keranjang dengan beberapa botol susu yang terbuat dari kaca. Suara dentingan botol begitu nyaring terdengar ketika Diane mengayuhkan sepedanya menuju rumah Aurora.


Dari kejauhan, Diane melihat ada seseorang yang berdiri di balik pohon di depan rumah Aurora. Ia mulai berpikir apakah orang itu ingin mencelakai Aurora, tapi masa di pagi hari dan suasana terang seperti ini, bukankah itu bodoh namanya.


Ia berjalan mendekat dan kini ia bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di sana, “Juan, kamu ada di sini?”


“Mom!” Juan menggaruk tengkuk ya yang tak gatal untuk menutupi tindakannya.


“Mom tanya, apa yang sedang kamu lakukan di sini? Mom kira kamu masih tertidur,” ujar Diane.


“Aku hanya berjalan pagi saja, Mom. Lalu aku melewati rumah Nona Aurora, jadi aku ingin menyapanya,” kata Juan beralasan.


“Apa kamu menyukainya?” Mom Diane langsung menanyakan pada Juan to the point. Ia tak pernah percaya jika pria mengatakan hanya menyapa, atau hanya berteman, karena pasti ada maksud di balik itu semua.


Juan masih terdiam. Karena tak mendapatkan jawaban apapun dari Juan, Mom Diane mendekat ke arah pintu pagar Aurora yang hanya setinggi pinggang dan terbuat dari kayu, “Ra, Aurora, ini Aunty.”


Aurora yang mendengar suara Aunty Diane pun langsung berlari ke arah depan. Ia membuka pinty pagarnya, “Selamat pagi, Aunty.”


Namun, mata Aurora menangkap sesuatu yang lain. Ia melihat Juan juga berdiri tak jauh dari posisi Aunty Diane. Ia tak ingin berpikir lebih, jadi ia menganggap Juan yang mengantarkan Aunty Diane untuk menemuinya.


“Ini susu untukmu. Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Diane.


“Terima kasih, Aunty. Aku sedang menyiram pohon buahku di taman belakang.”


“Apa Aunty boleh melihatnya?”


“Tentu saja, masuklah,” Aurora mempersilakan Aunty Diane untuk masuk. Diane sendiri memberi isyarat pada putranya untuk ikut masuk dengannya.


Aurora mengajak Aunty Diane untuk melihat taman pohon buahnya yang kini terlihat semakin tinggi. Aurora bercerita sambil tersenyum dan hal itu tak luput dari perhatian Juan. Ia tak pernah melihat Aurora yang tersenyum dengan sangat lembut dan tulus seperti ini. Penampilan Aurora pun sangat sederhana denga dress selutut dan make up seadanya, tapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Bahkan bisa ia katakan bahwa Aurora semakin cantik.


“Ara, Aunty mengajak Juan ke sini. Apa kamu mau berjalan-jalan di kota? Juan akan menemanimu,” kata Diane, kemudian ia menoleh ke arah Juan agar Juan juga membantunya.


“Tidak, Aunty. Sebaiknya aku di rumah saja hari ini. Lagi pula cuaca sedang bagus untuk berkebun,” jawab Aurora.


Diane kembali menoleh ke arah Juan dan sedikit berdecak kesal. Putranya itu benar-benar tidak tanggap dan tidak bisa memulai. Diane tidak tahu bagaimana agresifnya Juan pada Aurora jika berada di kota besar, sekarang saja ia terkesan malu malu … padahal …


“Kalau begitu, maukah kamu menemaniku ke kota?” Juan kini membuka mulutnya setelah tatapan Mom Diane padanya.


“Ayolah sayang, temani Juan. Aku dan Isacc harus mengurus peternakan hari ini. Sementara liburan Juan tidak lama, kami tak bisa memenuhi semua permintaannya,” pinta Diane.


“Aku akan menjemputmu 1 jam lagi,” tiba-tiba saja wajah Juan berbinar saat mendengar jawaban Aurora. Ia langsung keluar dari rumah Aurora dan meninggalkan Mom Diane di sana. Ia akan pulang untuk mandi, berganti pakaian, dan mengambil mobil.


**


“Halo, sayang,” Bianca menyapa putranya dari balik kotak inkubator yang berwarna transparan itu. Bianca mengelus kaca tersebut karena belum boleh menyentuh putranya.


“Cord, Mommy-mu sudah sangat merindukanmu. Ia ingin segera menggendongmu. Segeralah sehat,” Alessandro berbicara dengan putranya, sambil memeluk tubuh Bianca dari belakang.


Bianca kembali menyentuh kotak kaca tersebut dan Alessandro juga menyentuh punggung tangan Bianca dengan telapak tangannya, seakan memberi kekuatan bagi putra mereka. Alessandro mencium pucuk kepala Bianca.


“Grandpa datang!” Raymond menyapa mereka saat masuk ke dalam ruang rawat Bianca. Ia membawa beberapa macam mainan dan boneka.


“Dad! Cord belum bisa bermain dengan itu,” Bianca sungguh terkekeh dengan semua hal yang dilakukan oleh Dad Raymond. Grandpa muda tersebut benar-benar terlihat menggemaskan ketika membawa segala mainan dan boneka di tangannya.


“Ray! Apa kamu mau membuat putraku terbenam dengan semua boneka di tanganmu itu? Bahkan ukuran boneka itu lebih besar dari putraku … ck …”


“Kalian bisa menyimpan semuanya dan jangan lupa tuliskan kalau ini semua dari Hot Grandpa Ray,” ujar Raymond.


“Hot Grandpa?” Alessandro rasanya ingin tertawa terbahak-bahak dengan sebutan yang disematkan oleh Raymond untuk dirinya sendiri.


“Apa yang kamu tertawakan? Apa kamu iri denganku yang masih muda ini?” Raymond berjalan mendekati Bianca sambil merapikan kemeja yang ia gunakan.


“Untuk apa aku iri denganmu,” Alessandro kembali berdecak kesal.


“Halo tampan! Lihat Hot Grandpa di sini. Aku akan selalu berada di dekatmu dan bermain denganmu. Ayo segeralah pulih dan sehat,” Raymond kembali berbicara dengan Cord dari balik kaca inkubator.


“Kamu memang Hot Daddy dan Hot Grandpa. Aku menyayangimu,” Bianca langsung memeluk Raymond dari samping dan mencium pipi Raymond.


“Hei sayang! Kenapa kamu menciumnya? Lepaskan!” Alessandro berusaha melepaskan pelukan Bianca pada Raymond. Ia berdecak kesal karena Raymond kembali mendapat pelukan dan ciuman dari istrinya.


“Dasar suami posesif!” gerutu Raymond sambil terkekeh.


**


Di dalam mobil, tak ada yang membuka suara sama sekali. Juan dan Aurora sama-sama terdiam. Sebuah mobil bak terbuka menjadi alat transportasi yang digunakan oleh Juan dan juga Aurora.


Mobil tersebut sedikit bergoyang ketika melewati jalan yang sedikit berbatu, membuat Aurora langsung memegang perutnya. Juan yang memperhatikan Aurora pun menyadari hal itu, “Maaf, aku akan menyetir lebih perlahan.”


“Terima kasih,” kata Aurora.


Juan selalu melihat ke arah Aurora, sementara Aurora hanya melihat ke arah luar. Ia jarang sekali pergi ke kota. Ia sudah merasa nyaman berada di Desa Flam yang tenang dan damai. Ia hanya pergi ke kota ketika memeriksakan kandungannya. Ia biasa pergi bersama dengan Isacc dan juga Diane, karena tak ada tetangga yang sebaik mereka.


“Apa kamu bahagia dengan hidupmu saat ini?”


🌹🌹🌹