
Raymond berada dalam gejolak hati yang sangat sulit saat ini. Di satu sisi, ia ingin Alessandro kembali menjadi sahabatnya seperti dulu. Di sisi lain, ia sangat membenci Alessandro karena menyakiti putri yang paling disayanginya.
“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu. Kamu tahu, Bianca adalah segalanya untukku. Kamu menyakitinya, dan itu melukaiku,” kata Raymond sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.
“Aku akan mendekati Bianca perlahan-lahan. Aku berjanji tak akan menyakitinya lagi, Ray. Maafkan aku.”
“Apa dia akan mau kamu dekati?” tanya Raymond.
“Dia tidak mengingatku. Itu akan lebih mudah mendekatkan diriku padanya.”
Ahhh, aku lupa. Al tidak tahu jika Bianca hanya berpura-pura hilang ingatan. Bianca justru berlaku seperti itu karena ingin melupakannya, tapi jika Al terus berada dekat dengannya, itu sama saja aku ikut menyakitinya. - batin Raymond.
“Tapi Al, meskipun ia tidak mengingatmu … tapi masih ada trauma tersembunyi dalam dirinya. Aku tak ingin ia panik jika tiba-tiba kamu berada di dekatnya,” ujar Raymond.
“Maafkan aku Ray. Sebenarnya … aku sudah mendekati putrimu sejak ia berada di Acquafredda,” kata Alessandro.
“Maksudmu?”
“Aku langsung berangkat ke Villa Keluarga Romano ketika mengetahui bahwa ia berada di sana, sesaat setelah aku membongkar kelicikan Aurora. Aku selau menikmati sarapan pagi dengannya, setangkup roti dan secangkir kopi hangat.”
“K-kamu mendekatinya?” Raymond kini berpikir, berpikir sangat keras. Apa karena hal ini Bianca mau diajak kembali ke Mansion Costa? Untuk menghindari Alessandro. Jika memang ia pulang untuk menghindar, lau apa yang akan dipikirkan dan dikatakan ileh Bianca jika dirinya mengijinkan Alessandro untuk berada di dekatnya. Raymond menggelengkan kepalanya.
“Maafkan aku. Aku hanya ingin dekat dengannya dan membuatnya mengenalku, tanpa rasa takut.”
“Biarkan aku berbicara dengannya dulu, Al. Aku tidak ingin putriku semakin trauma, meskipun ia tidak mengingatmu.”
Alessandro menghela nafasnya pelan. Ia tahu tidak akan mudah meyakinkan Bianca, “Aku mencintainya, Ray. Aku mencintai putrimu.”
Mata Ray membulat dan segera menolehkan kepaanya ke arah Alessandro. Ia tak percaya, sahabatnya sendiri akan mencintai putrinya.
“Al … jangan mengatakan hal seperti itu hanya karena apa yang telah kamu perbuat padanya. Jangan mengatakannya karena rasa bersalah ataupun rasa kasihan. Aku sangat tahu Bianca bukanlah wanita yang ingin dikasihani.”
“Aku sungguh-sungguh, Ray. Aku mencintainya. Aku akan mengatakannya beribu-ribu kali jika memang kamu menginginkannya.”
“Biarkan aku bicara dengannya dulu Al. Sebaiknya kamu pulang sekarang, aku tak ingin ia melihatmu di sini. Bagiku, perasaan Bianca adalah yang utama. Aku memaafkanmu atas semuanya, tapi jika Bianca kembali mengingatmu dan tidak memaafkanmu, maka aku harus tetap mendukung setiap keputusannya,” kata Raymond.
Alessandro sedikit menunduk, mengarahkan pandangannya ke arah kedua tangannya yang saling meremas.
“Aku sudah sangat berterima kasih kamu mau memaafkanku, Ray. Mungkin memang tidak akan semudah itu membuat keadaan seperti dulu, apalagi dengan apa yang telah kulakukan. aku benar-benar menyesal,” ungkap Alessandro.
Raymond menepuk bahu Alessandro, mereka pun berpelukan dan menepuk bahu masing-masing. Alessandro dan Raymond sangat bahagia ketika mendapatkan sahabatnya kembali.
**
Bianca tenggelam dalam buku bacaan di dalam kamar tidurnya. Ia baru saja selesai menggambar beberapa desain pakaian bayi yang menjadi kesukaannya belakangan ini. Setelahnya, ia mengambil buku tentang manajemen bisnis yang diambilnya dari ruang kerja Raymond kemarin malam.
Meskipun ia sedang cuti kuliah, namun Bianca tak ingin ia hanya duduk diam dan bermalas-malasan. Bagaimanapun juga, setelah ia melahirkan nanti, ia akan kembali untuk menyelesaikan kuliahnya. Ia ingin menjadi wanita yang pintar, juga kuat. Bukankah menjadi seorang ibu harus seperti itu, pikirnya, apalagi jika menjadi seorang single parent.
Tokk tokk tokk …
“Bi,” panggil Raymond.
Bianca yang tengah duduk di atas tempat tidur tersenyum saat melihat kedatangan Dad Raymond.
“Apa kamu sudah makan siang?” tanya Raymond. Sejak area garasi dijadikan kantor sementara oleh Raymond, ia bisa dengan mudah mengawasi Bianca.
“Sudah, Dad. Apa Dad sudah? Jangan terlalu sibuk dengan Kak Gio. Lihatlah dia sampai tidak bisa mencari seorang kekasih karena waktunya dihabiskan oleh Daddy,” ungkap Bianca sambil tertawa.
“Dad sudah. Tadi Dad makan bersama dengan Gio setelah menemui klien. Bi …,” Bianca kembali menoleh ke arah Dad Raymond. Ia melihat bahwa ada sesuatu yang ingin Dad nya katakan padanya namun seperti tertahan.
“Apa ada sesuatu yang mengganggumu, Dad?” tanya Bianca.
Raymond berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, menghadap ke arah Bianca. Ia meraih kedua tangan Bianca dan menggenggamnya.
“Apa ada masalah, Dad?” kini Bianca merasa khawatir.
“Tidak ada, sayang. Dad hanya ingin menanyakan sesuatu padamu.”
“Apa itu, Dad. Katakanlah, Bian akan mendengarkan.” Bianca menatap manik mata Dad Raymond, mata teduh yang sangat ia sukai.
“Apa Alessandro menemuimu saat kamu berada di Acquafredda?”
Degggg …
Dad mengetahuinya? Bagaimana ini? Aku pasti sudah menyakitinya lagi. - batin Bianca.
“M-maafkan aku, Dad. Aku tidak mencarinya ataupun menemuinya. Dialah yang datang ke resort dan …,” perkataan Bianca terputus.
“Apa yang kamu rasakan saat berada di dekatnya?” tanya Raymond.
“A-aku? Aku tidak tahu, Dad. Tapi Dad tidak perlu khawatir, aku tak akan pernah mendekatinya. Aku tidak akan pernah melakukan apapun yang akan menyakiti Daddy, aku berjanji,” kini giliran Bianca yang menggenggam kedua tangan Raymond.
Raymond tersenyum, “Terima kasih, Bi. Kamu selalu memikirkan perasaan Daddy. Tapi, sekali-sekali, maukah kamu memberitahu Dad bagaimana perasaanmu?”
“Aku tidak punya perasaan apa-apa, Dad. Aku hanya menyayangi Daddy, hanya Dad seorang, tak ada yang lain,” Bianca langsung memeluk Raymond. Ia tak mau Raymond berpikiran bahwa ia tak menyayanginya karena telah bertemu dengan Alessandro di Acquafredda.
“Kamu lucu sekali, sayang. Dad tahu kamu menyayangi Dad dan Dad juga sangat amat menyayangimu. Dad tak akan membiarkanmu sendiri apalagi bersedih. Dad yakin Mommy juga tak akan suka jika kamu bersedih. Bi … apa kamu masih membenci Alessandro?”
Bianca melepaskan pelukannya dari Dad Raymond, “Dad?”
“Jika ia datang dan meminta maaf padamu atas semua kejadian yang telah ia lakukan padamu, apa kamu akan memaafkannya?” tanya Raymond lagi.
Bianca terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Di dalam hatinya yang terdalam, ia berharap memiliki keluarga yang utuh untuk anaknya. Namun, itu berarti ia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri, tanpa memikirkan perasaan Dad Raymond.
“Aku … aku akan memaafkannya kalau Daddy memaafkannya. Aku tak akan membiarkan siapapun menyakiti Daddy lagi. Maafkan aku, Dad,” Bianca memeluk Raymond.
“Dad memaafkan Alessandro. Bagaimanapun juga ia adalah sahabat Dad, saudara Dad. Tapi Dad menyerahkan semua permasalahan antara Al denganmu pada dirimu sendiri. Kamu berhak memaafkannya ataupun membencinya, Dad tidak akan mencampurinya.”
🌹🌹🌹