
Brakkk!!!
“Kamu tidak bisa seenaknya membatalkan kontrak kerja sama denganku, Al!” teriak Aurora saat memasuki ruangan Alessandro dengan terburu-buru. Ia harus melakukannya dengan cepat atau sekretaris dan asisten pribadi Alessandro akan menghadangnya di depan pintu.
Dengan tatapan tenang, Alessandro melihat ke arah Aurora yang tengah marah-marah.
“Saya berhak melakukannya karena saya adalah CEO Romano Production House. Anda telah melanggar isi kontrak tersebut maka kami bisa melakukannya. Kami sudah cukup baik hanya memberhentikan anda … atau anda mau kami menagih denda yang sangat besar juga pada anda sesuai isi kontrak yang telah anda tanda tangani?” Alessandro tersenyum puas.
“Tapi aku ini sedang mengandung anakmu. Aku ini ibu dari anakmu. Kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti itu,” Aurora mulai berteriak seperti orang yang kesetanan.
“Javer! Cepat bawa dia keluar!” perintah Alessandro.
“Lepaskan aku! Jangan pernah berani-berani kamu menyentuhku!” Aurora langsung mengibaskan tangannya agar Javer tidak menyentuhnya.
“Keluar! Aku tak ingin melihat wajahmu di sini!” Alessandro memicingkan matanya, “Bawa dia keluar Javer atau panggil security jika kamu tidak mampu!”
Javer yang tak ingin dianggap tidak mampu pun langsung menarik lengan Aurora dan membawanya keluar dari ruangan Alessandro. Wanita itu terus berteriak, namun Javer tak mempedulikannya.
Di lobby, Javer baru melepaskan wanita itu dan memberi peringatan padanya, “Jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di Perusahaan Romano karena aku tak akan tinggal diam. Kali ini kamu hanya membatalkan kontrak kerjasama denganmu, lain kali mungkin kami akan langsung mem blacklist dirimu dari dunia keartisan,” ancam Javer.
Aurora menghentakkan kakinya dan keluar dari Perusahaan Romano. Sudah beberapa kali dirinya merasa dipermalukan dan ia sungguh tak menyukainya. Semua mata pegawai perusahaan Romano yang berada di lobby melihat ke arahnya, ntah apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini.
**
“Bi …”
“Dad,” sapa Bianca saat melihat Dad Raymond sudah berdiri melihat ke arahnya. Saat ini Bianca tengah berdiri di dapur dan mempersiapkan sarapan pagi mereka.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Raymond.
“Aku sedang menyiapkan sarapan untuk kita. Duduklah Dad,” Bianca membawakan piring yang berisi omelet dan salad.
“Kamu jangan terlalu lelah sayang, itu tidak baik untuk bayimu,” Dad Raymond menasehati Bianca.
“Tenanglah Dad. Aku adalah wanita yang kuat. Jika aku hanya berdiam diri, malah membuatku lemas dan malas,” Bianca tersenyum melihat ke arah Dad Raymond.
“Dad sudah meminta Gio untuk menjemput kita. Kita akan pergi ke dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan,” ungkap Dad Raymond.
“Aku sudah melakukannya, Dad.”
“Tapi Daddy ingin melihat cucu Daddy, sayang.”
Bianca tersenyum, “Dad akan menjadi Grandpa yang paling tampan di dunia. Terima kasih Dad sudah mau menerimaku dan bayiku.”
“Jangan bicara seperti itu. Kamu adalah putri Daddy, putri kesayangan Daddy. Jika bukan Dad yang ada di sampingmu dan menguatkanmu, siapa lagi yang akan melakukannya.”
“Dadd!! Aku sungguh-sungguh menyayangimu,” Bianca langsung menghampiri Raymond dan memeluknya. Ia merasa sangat beruntung memiliki Raymond sebagai Daddynya.
“Sekarang duduk dan makanlah dulu, biar Dad yang akan membereskan sisanya,” Raymond segera berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan jus untuk menemani sarapan mereka. Bianca tersenyum dan tertawa, hatinya bahagia meski tanpa Alessandro di sampingnya … tanpa Dad dari anaknya.
**
Alessandro tengah menunggu hari ini, hari di mana ia akan menyeret wanita licik itu untuk melakukan test DNA. Al sama sekali tidak memberitahukan kepada Aurora mengenai hal ini karena ia tak ingin wanita ini merencanakan hal-hal yang aneh.
Kedua orang tuanya malah memarahinya dan memaksanya untuk segera menikah dengan Aurora.
Flashback on
“Al, apa lagi sebenarnya yang kamu tunggu? Usia kandungan Aurora akan semakin besar dan perutnya akan semakin terlihat. Sebaiknya segera nikahi dia,” Lilian, ibu dari Alessandro menasehatinya ketika mereka melakukan sebuah video call.
“Mom, sudah kukatakan padamu bahwa itu bukan anakku dan aku sangat yakin akan hal itu. Aku akan membuktikannya padamu.”
“Tapi Al, usiamu sudah banyak. Sudah seharusnya kamu menikah. Aktris seperti Aurora tidak akan berbohong tentang kehamilannya hanya untuk sensasi, ia bahkan sudah terkenal sebenlumnya.”
“Momm!! Aku hanya akan menikah dengan wanita yang kucintai dan itu bukan Aurora. Aku akan secepatnya membawa seorang wanita untuk kunikahi, jadi jangan pernah memaksaku lagi,” Alessandro sebenarnya tak ingin membantah atau berdebat dengan Mom Lilian, tapi jika ia disudutkan dan diharuskan menikah dengan Aurora, maka ia akan melawan.
“Aku akan menikahinya jika memang yang dikandungnya adalah anakku. Tapi aku yakin 100% kalau itu bukan anakku, karena aku tidak pernah menanam benihku padanya,” lanjut Alessandro.
“Bagaimana kamu tidak menanam benihmu, Al? Mom melihat sendiri foto-fotomu bersama dengan Aurora,” kata Lilian.
Alessandro mengepalkan tangannya, ternyata Aurora berdiam selama ini karena ia melancarkan taktik gerilya, yakni melalui keluarganya.
“Aku pasti akan membuktikan semuanya, Mom.”
Flashback off
“Apa kalian sudah menyiapkan semuanya?” tanya Alessandro via telepon dengan dokter kepercayaannya. Ia tersenyum ketika dokter mengiyakan dan mereka akan siap kapanpun.
Ia menutup sambungan teleponnya dan langsung memanggil Javer, “seret wanita itu ke rumah sakit tempat Dokter Gabby berada. Hari ini juga!” perintah Alessandro.
Ia tak akan menunda lagi karena ia tak mau orang tuanya terus memaksa dirinya. Ia juga akan membuktikan bahwa aktris terkenal Aurora Frederica yang dipuja banyak kalangan, telah membuktikan kepada netizen bagaimana aktingnya dengan membohongi masyarakat luas.
“Javer!” panggil Alesandro lagi ketika ia baru saja akan melangkahkan kaki keluar.
“Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan lagi?” tanya Javer.
“Apa kamu memiliki informasi terbaru tentang keluarga Costa?” Javer menggelengkan kepalanya. Ia memang tidak mencari informasi apapun jika Alessandro tidak memintanya. Javer juga berharap Alessandro bisa hidup dengan lebih baik dan melupakan dendamnya pada keluarga Costa.
“Bantu aku mencarinya,” Javer pun mengangguk, kemudian ia segera meninggalkan ruangan Alessandro.
Sementara itu di kediaman Costa,
“Bi, Dad pergi dulu ya. Ada klien yang harus Dad temui. Doakan Daddy hari ini berhasil,” Raymond memeluk Bianca dan mengecup kening putrinya.
“Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Daddy.”
Setelah kepergian Raymond, Bianca kembali menyibukkan diri dengan beberapa kertas dan pensil serta laptop di hadapannya. Ia sedang belajar untuk mendesain beberapa pernak-pernik bayi, mulai dari pakaian, sepatu, topi, sarung tangan dan kaki, serta beberapa kebutuhan lainnya.
Bianca memutuskan untuk cuti dari kuliahnya sebanyak 2 semester. Ia tak ingin kehamilannya menjadi bahan perbincangan yang nantinya akan kembali menyakiti Dad Raymond. Sahabatnya, Melanie, sering datang ke rumah dan memberikan support pada Bianca, membuat dirinya tak merasa sendirian.
🌹🌹🌹