Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#20



“Dad, Mom, maafkan aku,” di dalam taksi online yang dipesan oleh security kediaman Romano atas perintah Alessandro, Bianca menangis tersedu. Ia telah kehilangan mahkotanya, masa depannya.


Di tangannya kini sudah ada setumpuk berkas kepemilikan Perusahaan Costa, juga surat pernyataan bahwa proyek Hotel di Milan adalah sepenuhnya tanggung jawab dari Perusahaan Romano.


Sampai di kediaman Costa, Bianca langsung masuk ke dalam kamar tidurnya. Ia terus menahan sakit sedari tadi pada inti tubuhnya. Perlakuan kasar yang dilakukan oleh Alessandro membuat inti tubuhnya terasa luka dan sobek.


Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Di bawah pancuran shower ia duduk tanpa melepas pakaiannya. Kejadian semalam seperti terulang terus-menerus. Rasa sakit seperti tak berhenti ia rasakan. Bianca menangis seorang diri di dalam kamar mandi. Ia berharap suara air yang keluar dari shower bisa meredam suara tangisnya.


Selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berjalan menuju berkas-berkas yang ia bawa pulang. Ia ingin menghubungi Melanie untuk mengatakan bahwa ia tak akan ke kampus hari ini, namun ia tak menemukan tas miliknya.


Bianca tersadar bahwa ia meninggalkan tas nya di kediaman Romano. Ia hanya berjalan keluar dari rumah itu sambil membawa berkas-berkas Perusahaan Costa di tangannya. Bahkan ia tak sadar bahwa bukan dirinyalah yang memesan taksi online untuk pulang.


Bianca meletakkan berkas-berkas itu di atas nakas, ia akan membereskannya nanti. Saat ini yang ingin ia lakukan hanyalah beristirahat. Ia benar-benar lelah, lelah tubuh dan juga lelah hati.


**


Malam tiba, Bianca masih berada di dalam kamarnya. Raymond yang baru saja pulang setelah melakukan pertemuan dengan Gio dan beberapa petinggi perusahaan, merasakan kesunyian di dalam rumahnya.


“Bu Nah, apa Bianca sudah pulang?”


“Sepertinya sudah, Tuan. Tapi saya belum melihat Nona Bianca turun.”


“Baiklah kalau begitu,” Raymond tahu ia sudah menelantarkan Bianca selama beberapa minggu ini. Kesibukannya menghadapi masalah di kantor membuatnya melupakan putrinya yang membutuhkan kasih sayangnya.


Raymond menaiki tangga menuju kamar tidur Bianca, sambil melonggarkan dasinya, “Bi … sayang,” Raymond mengetuk pintu kamar Bianca beberapa kali, tapi sama sekali tidak ada jawaban.


Raymond akhirnya masuk ke dalam. Ia melihat Kamar tidur Bianca yang gelap karena lampu tidak dinyalakan dan jendela juga ditutup rapat. Raymond menyalakan lampu, ia melihat Bianca terlelap.


“Bi,” Raymond berjalan mendekat. Ia melihat tumpukan berkas di atas nakas, persis di sebelah Bianca. Tanpa memeriksa pun ia tahu berkas apa itu. Ia menoleh ke arah Bianca, memperhatikan putrinya. Wajah Bianca memerah dengan peluh yang mengalir di keningnya.


Raymond memeriksa dahi Bianca, “Bi, kamu demam?” Raymond langsung mengangkat tubuh Bianca dan membawanya ke rumah sakit.


**


Raymond menunggu Bianca di samping brankar. Bianca masih terlelap karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter.


Drttt drttt …


“Bagaimana Gi?” tanya Raymond.


📞 “semuanya benar Tuan. Surat-surat tersebut asli.”


“Tapi … bagaimana bisa semuanya ada di kamar tidur Bianca?”


📞”kalau mengenai hal itu, sebaiknya Tuan langsung bertanya kepada Nona Bianca.”


“Sebaiknya kita mencari tahu sendiri, Gi. Aku tidak yakin Bian akan menceritakan padaku. Kamu kerahkan orang kita untuk mencari informasi.”


📞 “Baik, Tuan.”


Tak berselang lama setelah Raymond memutus sambungan ponselnya, seorang dokter masuk ke dalam ruangan.


“Tuan Costa,” Raymond langsung berdiri dari duduknya.


“Apa yang terjadi dengan putri saya?” tanya Raymond.


“Putri anda mengalami demam. Seperti perintah anda untuk memeriksa secara keseluruhan, kami menemukan bahwa …,” dokter tersebut menghentingkan perkataannya.


“Cepat katakan!”


**


Raymond tanpa mencari tahu lagi, ia langsung mendatangi kediaman Romano. Ia sejak tadi berpikir, Bianca pasti mendapatkan berkas-berkas itu dari Alessandro, tak mungkin dari orang lain.


“Saya ingin bertemu dengan Alessandro, katakan Raymond Costa mencarinya,” Kata Raymond pada security.


Raymond akhirnya dipersilakan masuk setelah mendapat persetujuan dari Alessandro. Alessandro yang sedang duduk di sofa, langsung mendapat bogem mentah dari Raymond.


“Sialannn kamu Al!” teriak Raymond dan terus memberi pukulan pada Alessandro.


“Teruslah memukulku. Aku akan memberikan video ini pada pihak kepolisian dan jangan harap kamu bisa bebas menemui putrimu lagi. Aku akan memastikan kamu berada di dalam penjara!” teriak Alessandro.


“Kenapa kamu lakukan itu pada putriku? Kenapa kamu lakukan itu?!” Raymond meraih keeah Alessandro.


“Memang apa yang kulakukan?”


“Sialannn!!!” bugghh!!!! Sebuah pukulan kembali mendarat di wajah Alessandro. Namun kali ini Alessandro tidak tinggal diam. Ia membalas semua pukulan yang dilakukan oleh Raymond.


“Gio!!! Bawa masuk semuanya!!” Raymond memerintahkan Gio untuk membawa masuk semua berkas yang dibawa pulang oleh Bianca. Sejak tadi, Gio berada di mobil, tidak diizinkan masuk oleh Raymond.


Raymond memerintahkan Gio untuk meletakkan semua berkas itu ke atas meja, “kamu mengembalikan semua ini dan mengambil kehormatan putriku!”


“Hei, apa yang salah? Bukankah itu setara? Perusahaan dan putrimu sama-sama tidak berharga,” ucap Alessandro ketus.


Bughh …


“Ambil kembali semua ini. Aku tidak memerlukannya. Aku tidak akan pernah menjual kehormatan putriku demi perusahaanku,” teriak Raymond.


“Apa kamu yakin? Bukankah perusahaan itu hasil perjuanganmu bersama Dea?”


“Jangan pernah kamu menyebut nama istriku, apalagi setelah kamu melakukan hal kejam pada putriku.”


“Apa Dea tahu bahwa dirimu dulu berselingkuh, hah?! Sungguh kasihan dirinya jika ia mengetahui semuanya. Pria yang ia cintai ternyata mengkhianatinya dan membohonginya.”


Raymond mengepalkan tangannya, “Kamu tidak perlu mengatakan apa yang tidak kamu ketahui.”


“Aku tahu semuanya, bahkan aku melihat sendiri bagaimana sahabatku tidur di satu ranjang bersama kekasihku, cihhh!!! Kamu tahu bagaimana perasaanku? Sekarang kamu merasakannya, saat putrimu itu kehilangan kehormatannya, sakit!!! Kamu tahu, sakitt!!!” teriak Alessandro.


Gio yang berada di sana berusaha mundur, ia tak ingin ikut campur dalam masalah pribadi antara Tuannya dengan seorang Alessandro Romano.


“Pria sepertimu tak akan mengerti bagaimana perasaan cinta, karena yang bisa kamu lakukan hanyalah berkhianat. Mungkin lebih baik bagi Dea untuk meninggal lebih dulu, sehingga ia tidak perlu mengetahui bahwa suaminya, pria yang ia cintai, ternyata adalah orang yang paling menyakitinya. Pria yang tidur dengan sahabatnya sendiri, menjijikkan!!”


Raymond diam mendengarkan semua kelu kesah Alessandro. Ternyata sahabatnya ini masih menyimpan dendam dan luka masa lalu. Bahkan ternyata luka itu tak membaik sedikitpun, malah bertambah besar dan telah menimbulkan nanah.


“Aku sudah menjelaskan semuanya padamu! Tapi kamu tidak pernah mengerti,” ujar Raymond.


“Menjelaskan? Menjelaskan bahwa kamu sama sekali tidak tidur dengannya, dan hanya menjebak dirinya. Cihhh!!! Kamu kira aku akan percaya dengan semua alasanmu itu? Jangan pernah membela dirimu. Apa kamu takut kalau putrimu itu tahu bahwa Daddy yang ia banggakan ini ternyata mengkhianati Mommynya? Sehingga kamu perlu diriku untukmu nanti membela diri?”


“Atau jangan-jangan kamu sebenarnya iri dengan kedekatanku dengan Ara? Apa kamu mencintainya? Seharusnya kamu mengatakannya langsung padaku, maka aku akan dengan sukarela memberikannya padamu. Jangan bermain api di belakangku,” lanjut Alessandro masih dengan suara keras dan geram.


“Sepertinya kita tidak perlu bicara lagi. Kamu tak mengerti dan tak akan pernah mengerti. Ambillah perusahaan Costa untukmu dan kamu juga telah mengambil kehormatan putriku. Kurasa semua ini cukup untuk membalaskan semua dendam dan sakit hatimu … Mulai saat ini, detik ini, aku yang akan mengatakan bahwa kamu, Alessandro Romano, bukan lagi sahabatku dan aku tak ingin memiliki hubungan apapun lagi denganmu,” Raymond melangkahkan kakinya keluar.


“Aku juga tak pernah menganggapmu sahabatku sejak kamu mengkhianatiku!! Ingat itu baik-baik!” Balas Alessandro sambil melihat kepergian Raymond dari kediaman Romano.


🌹🌹🌹