Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#14



Bianca menyelesaikan semesternya kali ini dengan hasil yang memuaskan. Ia pun tanpa ragu meminta kepada Raymond untuk belajar di perusahaan Costa.


“Kamu mau ikut Daddy ke perusahaan?” tanya Raymond.


“Hmm, apa tidak boleh?” tanya Bianca.


“Tentu saja boleh, sayang. Tapi bukankah kamu akan kuliah?”


“Libur semesterku masih tersisa 1 minggu, Dad. Aku ingin belajar di perusahaan, bukankah itu akan membantuku saat aku belajar di perkuliahan,” Bianca terus berusaha meluluhkan hati Raymond.


“Baiklah, kalau begitu ayo! Ikutlah dengan Daddy,” kata Raymond sambil tersenyum.


“Aku gantu baju dulu. Tunggu aku Dad,” Bianca berhenti sebentar di tangga, “Jangan tinggalkan aku ya.”


Di dalam kamar, Bianca terus bersenandung sambil mengganti pakaiannya. Ia senang sekali permintaannya dikabulkan oleh Raymond. Awalnya ini bukanlah idenya, tapi ide Alessandro.


Flashback on


“Bagaimana hasil kerjaku?” tanya Bianca.


“Kamu hebat, Bi. Semua laporan bisa kamu selesaikan dengan cepat dan kulihat hasilnya sangat memuaskan. Kamu benar-benar cepat belajar.” Ujar Alessandro.


“Benarkah?” Alessandro mengangguk.


“Kamu sekarang sudah tahu apa yang harus kamu kerjakan pada setiap laporan-laporan itu, sehingga akan memudahkanmu dalam memeriksanya.”


“Ya, kamu mengajariku trik-trik hebat. Aku tidak sabar ingin memperlihatkannya pada Daddy,” kata Bianca.


“Bukankah kamu masih dalam masa libur semester? Mengapa kamu tidak mencoba untuk bekerja di perusahaan Daddymu. Bukankah kamu bisa membantunya memeriksa laporan? Atau kamu bisa diam-diam membantunya. Aku yakin pemikiranmu sekarang bisa membuat perusahaan Daddymu semakin besar dan maju.”


“Ahhh, kamu benar Al. Mengapa aku tidak terpikir untuk menghabiskan liburku ini dengan ikut ke perusahaan bersama Daddy. Terima kasih atas idemu,” tanpa sadar Bianca memeluk Alessandro dari samping. Alessandro menoleh kemudian mencium keningnya, hingga akhirnya kembali terjadi ciuman panas di antara mereka.


Flashback off


Dengan semangat, Bianca memasuki perusahaan Costa bersama dengan Raymond. Banyak pasang mata melihat kehadirannya dan memuji kecantikannya dan juga bagaimana Daddynya itu masih terlihat muda meskipun sudah memiliki anak seusianya.


“Masuklah, sayang,” Raymond mempersilakan Bianca masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Bianca mengedarkan pandangannya. Ia melihat sebuah lukisan besar terpajang di dinding, lukisan keluarga mereka. Ia tersenyum melihatnya.


“Duduklah, sayang.”


Raymond memanggil Gio dan memintanya untuk memperlihatkan pada Bianca bagaimana situasi dan suasana di dalam perusahaan Costa. Bianca terlihat begitu gembira mendengarnya.


Bianca berkeliling sambil terus tersenyum. Ia memperhatikan setiap pekerjaan yang sedang dilakukan oleh para pegawai Daddynya. Semua pegawai di sana terlihat menyukai Bianca. Selain cantik, Bianca juga sangat ramah dan mau menyapa mereka terlebih dahulu.


“Bagaimana?”


“Aku suka, Dad! Apa aku boleh ikut bekerja di sini?” tanya Bianca.


“Kamu yakin?” Bianca pun mengangguk antusias.


“Kamu benar. Dad bangga padamu, sayang. Baiklah, kamu bisa memakai ruangan di sebelah ruangan Dad untuk bekerja,” kata Raymond.


“Aku tidak mau, Dad. Aku ingin berada di mana pegawai Daddy berada. Biarkan aku belajar bersama mereka. Aku ingin merasakan bekerja dari level staf keuangan. Oya, aku ingin ditempatkan di bagian keuangan ya Dad, sesuai dengan kuliahku,” pinta Bianca.


“Baiklah. Gio, kamu bisa antarkan Bianca ke bagian keuangan. Mulai hari ini ia akan bekerja sekaligus belajar di sana. Jam kerja fleksibel karena dia masih kuliah, jadi kamu bisa membantunya mengatur jadwal.”


“Baik, Tuan,” Gio pun kembali mengajak Bianca ke bagian keuangan.


Sesampainya mereka di divisi keuangan, Gio mengajak Bianca masuk ke dalam ruangan.


“Ibu Bertha, selamat pagi,” sapa Gio. Gio seseorang yang sopan dan ramah. Yang berada di hadapannya saat ini adalah seorang wanita paruh baya yang sudah bekerja bahkan sebelum ia bekerja menjadi asisten pribadi Raymond.


“Pagi Gio. Ada apa kamu tiba-tiba mengunjungiku? Dan siapa gadis manis ini?” Bertha tersenyum melihat ke arah Bianca.


Gio mempersilakan Bianca untuk duduk, kemudian ia menjelaskan kepada Ibu Bertha bahwa Bianca adalah putri Raymond. Dengan penjelasan itu, Gio berharap Bertha tidak terlalu keras terhadap Bianca.


“Perkenalkan, nama saya Bianca. Saya memang masih kuliah, tapi saya ingin mulai belajar tentang seluk beluk perusahaan, sehingga ketika saya lulus nanti, saya bisa membantu Daddy mengelola perusahaan,” jelas Bianca.


“Aku kagum padamu. Tapi … ada satu hal yang perlu kutekankan padamu. Kamu berkata ingin belajar, maka aku tidak akan segan-segan padamu. Kamu harus tahu bagaimana dunia kerja yang sesungguhnya, jadi aku akan memperlakukanmu sama seperti staf yang lain,” Bertha tak peduli dengan perkataan Gio. Jika memang gadis ini ingin belajar, maka ia harus belajar, tanpa pilih kasih.


“Aku mengerti. Hanya saja aku butuh keringanan dalam hal waktu,” pinta Bianca.


“Aku tidak mengapa masalah itu. Kamu harus menyerahkan jadwal kuliahmu padaku, dan aku akan membantumu menyusun jadwal kerjamu. Bagaimana?” Bianca langsung tersenyum dan menganggukkan kepala.


Bianca sangat mengerti tipe wanita seperti Ibu Bertha. Ia adalah sosok wanita yang tegas dan disiplin, namun juga seorang yang penyayang.


**


“Jav, sebentar lagi kamu bisa meminta perusahaan Milenia untuk melakukan rencana,” ujar Alessandro.


“Apa harus secepat ini? Mereka baru saja memulai pemasangan tiang pancang,” kata Javer menjelaskan.


“Apa kamu menginginkan bangunan itu roboh ketika sudah mencapai 50%? Kurasa itu juga bukan ide yang buruk. Hanya saja jika itu terjadi, maka akan banyak nyawa yang dipertaruhkan,” Alessandro meletakkan kedua tangannya di atas meja.


“Tunggu sampai mereka mengeluarkan dana untuk tahap konstruksi selanjutnya, itu tidak lama. Setelah selesai, aku akan meminta Milenia melakukannya,” Javer kini memberi ide lebih gila kepada Alessandro.


“Sepertinya kamu mulai tahu bagaimana permainan yang akan kulakukan, Jav. Kamu mulai menjiwai,” Alessandro terkekeh.


“Aku tidak tahu sebenarnya apa yang kamu rencanakan. Tapi melihat dari cara kerjamu, tujuanmu hanya satu, yakni menghancurkan perusahaan Costa. Kamu adalah atasanku dan jika itu tujuanmu, maka itu akan menjadi tujuanku juga. Hanya saja aku tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari karena melakukan ini,” pesan Javer.


Alessandro tertawa, “Aku tak akan menyesal, tenang saja. Aku ingin melakukannya sejak lama, tapi kurasa saat ini adalah saat yang tepat karena ia akan lebih hancur ketika semua miliknya sudah tak bersisa dan tak berharga.”


“Sepertinya dendammu sangat besar, Al. Apa kamu tidak ingin menelisik lebih jauh lagi sebelum kamu melakukannya?” tanya Javer.


“Tidak perlu. Aku tidak perlu bukti lagi, karena aku melihat bukti itu langsung di depan mataku. Sahabat yang kuanggap saudaraku, mengkhianatiku dan menghancurkan kepercayaanku. Aku selalu bercerita padanya tentang semuanya, tapi ia malah diam-diam menusukku dari belakang,” gumam Alessandro. Javer tidak terlalu jelas apa yang dikatakan oleh Alessandro. Ia pun akhirnya keluar dari ruangan Alessandro, membiarkan atasannya itu yang kini sedang termenung sendiri.


🌹🌹🌹