Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#54



Juan berjalan mondar mandir di dalam apartemennya. Sudah 1 bulan sejak kepergian Aurora dan hidupnya merasa sangat tidak tenang. Setiap malam ia selalu memegang foto USG sebelum tidur, bahkan ia mengajaknya berbicara.


Ia sudah seperti orang gila yang berbicara dengan sebuah foto. Semakin hari rasanya kepalanya mau pecah karena memikirkan Aurora dan juga calon anaknya. Ia selalu bertanya mengapa, mengapa, dan mengapa Aurora tidak mau menemuinya secara langsung dan mengatakan bahwa itu adalah anak mereka. Mungkin jika Aurora berani datang padanya, ia akan langsung menikahi wanita itu dan mereka bisa bersama dalam satu keluarga yang utuh.


Juan sudah berusaha mencari Riana untuk mencari keberadaan Aurora. Namun, ia tak tahu ke mana Riana pergi. Kedua wanita itu bagai hilang ditelan bumi, membuat dirinya kebingungan seorang diri.


“Ra, apa kamu benar-benar tidak membutuhkan aku untuk menjagamu dan anak kita?” gumam Juan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


**


Pagi ini, seperti biasanya Bianca akan menyiapkan semua keperluan Alessandro. Kini mereka telah menempati Mansion Romano yang terbilang sangat besar. Alessandro secara khusus meminta seorang desainer interior untuk merubah interior di dalam rumahnya, terutama untuk ruang kerjanya. Ia tak ingin Bianca teringat hal buruk ketika memasuki ruangan tersebut.


Usia kandungan Bianca kini telah mencapai 27 minggu, “Apa kamu ingin ikut denganku ke kantor? Aku akan sangat senang jika kamu menemaniku.”


“Hari ini aku berencana menemui Dad Raymond. Aku ingin memeluknya.”


“Tidak boleh! Jika kamu ingin memeluk, peluk saja aku,” Bianca menengadahkan wajahnya melihat ke arah Alessandro. Ia menautkan kedua alisnya, merasakan sikap Alessandro yang berbeda.


“Aku haya ingin memeluk Dad Raymond. Apa itu salah?” Kini Bianca yang sedikit meninggikan suaranya.


“Tentu saja salah. Aku tidak mau kamu dipeluk oleh pria manapun.”


“Tapi aku hanya minta dipeluk oleh Daddyku,” kata Bianca dengan kesal. Ia sudah lama tidak menemui Dad Raymond dan rasa rindunya begitu besar.


“Tidak boleh!” Bianca yang kini telah memasuki trimester ketiga, menjadi kesal dengan sikap Alessandro yang terlewat posesif padanya. Bahkan ia tidak boleh memeluk Dad Raymond. Bianca yang awalnya ingin merapikan dasi Alessandro, malah memutar tubuhnya dan menjauh dari pria itu. Ia duduk di tepi tempat tidur tanpa melihat ke arah Alessandro lagi.


Alessandro menghela nafasnya. Ia sebenarnya tak ingin melarang Bianca, tapi ia tak suka jika Bianca dipeluk oleh pria lain, meskipun itu sahabatnya sendiri.


“Jika kamu ingin pergi ke tempat Raymond, tunggu aku. Kita akan pergi bersama nanti. Aku akan pulang saat jam makan siang,” Alessandro merapikan sendiri dasinya kemudian keluar dari kamar. Bianca sedikit melirik kepergian Alessandro, dan perasaannya semakin kesal karena Alessandro meninggalkannya seorang diri.


**


“Dad!!”


“Bi, kamu datang?” Raymond terlihat sangat bahagia ketika Bianca datang menemuinya.


“Apa Dad sibuk?” tanya Bianca.


“Dad akan mengesampingkan semua pekerjaan Dad untuk menemanimu saat ini. Bagaimana pernikahanmu, hmm?”


“Aku benci! Aku benci Alessandro, Dad!” ungkap Bianca kesal.


“Apa yang ia lakukan padamu? Apa ia menyakitimu?” Dad Raymond langsung memeriksa Bianca. Ia akan menghajar Alessandro jika sampai menyakiti putri kesayangannya itu.


“Ia melarangku menemui Dad. Bahkan ia mengatakan aku tidak boleh memelukmu,” Bianca membenamkan wajahnya ke dada Dad Raymond, membuat Dad Raymond mengelus rambut Bianca yang dibiarkan terurai.


“Telepon dia dan katakan bahwa kamu akan menginap di sini dan tidur bersama Dad.”


Bianca tersenyum ketika Dad Raymond membelanya. Ia langsung mengambil ponsel dan menghubungi Alessandro.


“Ia tidak mengangkat teleponku, Dad,” kata Bianca gelisah.


“Kalau begitu, kirimkan saja pesan padanya,” Bianca pun mengetikkan pesan singkat pada Alessandro.


Sementara itu di Perusahaan Romano, Alessandro kini tengah memimpin sebuah meeting yang sangat penting. Jika kerja sama ini berhasil, maka Perusahaan Romano akan semakin bertengger di puncak sebagai Perusahaan Raksasa yang memiliki pengaruh besar pada perekonomian di Negara Italia.


📥 Aku akan menginap di rumah Dad Raymond. Dad mengijinkanku untuk tidur sambil memeluknya.


Alessandro mengepalkan tangannya. Kalau ia sedang tidak berada di tengah-tengah meeting penting, ia akan langsung berlari keluar dan menjemput istrinya itu. Bagaimana bisa ia mau tidur sambil memeluk pria lain.


Tidak! Tidak! Ia tidak boleh tidur dan memeluk Raymond. Hanya bersamaku ia boleh melakukan itu. - batin Alessandro.


Beberapa kali ia sudah melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu terasa lama sekali berputar. Saat ini Alessandro sudah tidak fokus akan semua penjelasan dari rekan kerjanya. Pikirannya kini sudah berada di tempat lain. Ia membayangkan saat ini Raymond tengah memeluk Bianca-nya.


Alessandro mengusap wajahnya kasar. Ia pun duduk dengan tidak tenang. Javer yang berada di sebelahnya menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan atasannya itu karena tidak biasanya Alessandro terlihat sangat gusar.


Akhirnya setelah menunggu sekitar 1 jam, meeting tersebut selesai. Alessandro ingin langsung keluar dari ruangan itu, namun dihentikan oleh Javer.


“Al, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”


“Aku harus segera pulang, Jav.”


“Tapi kamu harus menemani Mr. Gerardo untuk makan siang.”


“Tolong gantikan aku, Jav. Aku tidak bisa menunda lebih lama lagi.”


“Baiklah, baiklah. Tapi katakan padaku, apa yang sedang terjadi,” tanya Javer.


“Bianca. Bianca sedang memeluk pria lain saat ini, bahkan mereka akan tidur bersama,” Alessandro terlihat sangat gusar. Javer membulatkan matanya seakan tidak percaya bahwa Bianca akan melakukan itu.


“Tenanglah Al. Tidak mungkin Bianca melakukan itu. Ia sangat mencintaimu,” Javer berusaha menenangkan Alessandro.


“Tidak! Aku harus segera pulang. Aku tidak akan membiarkan siapapun memeluk Bianca. Aku tidak rela Jav. Ia bahkan mengirimiku pesan bahwa ia akan menginap.”


Akhirnya Javer merelakan kepergian Alessandro. Ia akan menggantikan atasannya itu untuk menemani Tuan Oscar Gerardo dan putranya makan siang bersama.


Saat belum menikah, ia gusar. Setelah menikah, lebih gusar lagi. Sepertinya aku harus mulai mencari pekerjaan lain, sebelum aku ikut gusar menghadapinya. - batin Javer.


🌹🌹🌹