
“Sakit, Al!” Aurora meringis kesakitan. Ketika ia menunjukkan testpack dan mengatakan pada Alessandro kalau dia sedang hamil, wajah Alessandro langsung berubah dingin sekali.
Dengan rahang yang mengeras dan tatapan tajam yang seakan menusuk Aurora hingga tepat ke jantungnya. Ia memegang pergelangan tangan Aurora, kemudian menghempaskan wanita itu ke atas sofa.
“Jangan pernah sekali-sekali kamu mengatakan hal itu lagi. Apa kamu kira aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana? Wanita yang hanya mengharapkan laki-laki untuk menghangatkan ranjangnya … cihh!!!”
“Tapi apa kamu tidak sadar kalau kamu yang justru menghangatkan ranjangku? Ini anakmu, apa kamu tidak ingin mengakuinya?” Aurora terus berusaha untuk mendesak Alessandro dan mencoba meyakinkan Alessandro untuk mengakui bahwa janin yang ada di dalam perutnya sekarang adalah milik Alessandro.
Aurora berusaha meraih tangan Alessandro. Ia harus membuat Alessandro luluh bagaimanapun caranya. Kini ia berlutut di hadapan pria itu dengan air mata yang membasahi pipinya.
“Al, apa kamu masih melihat kesalahan dalam diriku karena masa lalu? Itu semua hanya jebakan. Aku dijebak oleh Costa sialan itu. Ia tidak suka kaau aku mencintaimu. Al … kami tidak melakukan apa-apa. Kamu lah pria pertama untukku,” Aurora berusaha meraih simpati Alessandro.
“Berdiri! Aku tidak suka melihat seseorang memohon seperti itu. Bagaimanapun kamu memohon, aku tidak akan mengakui anak itu, karena aku yakin anak itu bukan milikku,” ucap Alessandro.
“Al!! Kamu boleh tidak mencintaiku lagi, tapi jangan kamu sakiti anak ini. Ia tidak bersalah. Kalau kamu memang tidak menginginkannya, aku akan menggugurkannya saja,” ancam Aurora.
“Kamu gila!!!” Teriak Alessandro.
“Aku tidak gila! Justru karena aku waras maka aku akan memilih jalan itu. Untuk apa aku melahirkannya kalau ia hanya akan ditolak oleh ayahnya, yang tidak akan pernah mengakuinya,” isak tangis memenuhi ruang kerja Alessandro.
“Pergilah!”
“Aku tidak akan pergi, sebelum kamu mengakui anak ini. Kalau kamu mengusirku lagi, itu berarti adalah jalanku untuk menggugurkannya. Sekali aku keluar dari ruangan ini, maka kamu tidak akan pernah lagi melihat anak ini!” Ancam Aurora.
“Terserah padamu! Aku tidak akan mengakui anak yang memang kuyakini bukan milikku.”
“Kamu jahat, Al!” Aurora berdiri sambil berpikir apa yang harus ia lakukan untuk menarik simpati Alessandro. Aktingnya saat ini sungguh tidak bisa membuat Alessandro luluh.
Aurora tersenyum ketika ia mendapatkan ide. Jika memang aktingnya pada Alessandro tidak mempan, ia harus menggunakan kemampuannya untuk para fans yang sangat menggilainya.
“Baiklah, kamu lihat saja. Aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku,” gumam Aurora, kemudian sambil menghapus aur matanya ia keluar dari ruangan Alessandro.
**
Wahhh waaahhhh …..
Terdengar suara riuh di depan perusahaan Romano. Semua orang yang mendengar pun mulai mencari tahu. Mereka memandang ke atas, terlihat seorang wanita tengah berdiri di ujung atap, seperti hendak bunuh diri.
Semua orang berteriak agar wanita itu turun dan mengurungkan niatnya.
“Bukankah itu aktris cantik Aurora Frederica?”
“Benar, itu dia.”
“Apa dia sedang syuting?”
“Tidak mungkin! Kamu lihat, tidak ada peralatan syuting di sini.”
“Apa yang terjadi padanya? Kasihan sekali. Wanita cantik yang harus mengalami masalah dalam hidupnya.”
Pihak security gedung menghubungi pemadam kebakaran untuk membantu penanganan masalah ini. Javer berlari menghampiri ruangan Alessandro.
Tokkk tokk tokkk …
“Masuk.”
“Al!” Alessandro yang melihat kedatangan Javer dengan wajah sedikit panik akhirnya menghentikan pekerjaannya.
“Ada apa? Kenapa kamu panik dan tergesa-gesa?”
“Ada apa?”
“Ia berada di atap dan se-sepertinya ia a-akan bunuh diri dengan melompat dari gedung,” kata Javer.
“Ooo … biarkan saja,” jawab Alessandro dengan dingin dan sedikit ketus.
“Tapi Al. Ia akan membuat kekacauan di Perusahaan Romano. Kita akan masuk pemberitaan jika ini benar-benar terjadi.”
“Mau ia bunuh diri atau tidak, pasti akan tetap masuk dalam berita. Itulah tugasmu untuk menekan semua berita itu agar tidak muncul ke permukaan.”
Javer mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Alessandro. Akhirnya ia meninggalkan Alessandro dan menuju ke atap gedung.
Dengan nafas terengah-engah karena panik dan terburu-buru, akhirnya ia sampai di atap gedung. Ia membuka pintu dan melihat Aurora yang berada di tepi pagar atap gedung.
“Nona Aurora!” teriak Javer, membuat Aurora kaget dan hampir saja benar-benar terjatuh.
Sialannn!! Hampir saja aku terjun bebas. Bisa-bisa aku benar-benar kehilangan Alessandro. - gerutu Aurora yang semakin mengeratkan pegangannya ke pagar yang tingginya hanya sebatas pinggulnya saja.
“Pergilah! Jangan mendekatiku!” teriak Aurora.
“Tenang Nona. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik,” Javer berusaha berjalan mendekati Aurora dengan perlahan.
“Sudah kukatakan jangan mendekatiku!!! Atau aku akan terjun sekarang juga!” ancam Aurora dengan tatapan sendu yang dibuat-buat.
“Masalah apa yang sedang anda hadapi nona, katakan padaku …,” Javer mencoba untuk bernegosiasi.
Bughhh …
Tiba-tiba pintu yang merupakan satu-satunya akses ke lantai atap terbuka, dan beberapa orang wartawan, reporter dan juga security muncul di sana.
Akhirnya mereka datang juga. Apa mereka tidak tahu bahwa aku ketakutan di sini dan sangat gemetar. - gerutu Aurora.
Para reporter dan wartawan mulai mengambil gambar, sementara Javer dan security mencoba untuk terus bernegosiasi dengan Aurora.
“Kita bicarakan semuanya baik-baik dan dengan kepala dingin Nona Aurora. Langkah bunuh diri bukanlah jalan keluar,” Javer berkata-kata lagi.
“Aku ingin Alessandro ke sini, menemuiku!” teriak Aurora dan membuat para reporter serta wartawan langsung merekam dan mengabadikan momen tersebut. Mereka juga menyiarkannya secara langsung. Javer yang seharusnya meredam berita kini malah terpaku dengan situasi yang sangat tidak ia inginkan.
“Tapi Nona. Tuan Al sedang meeting,” Javer berusaha mencari alasan. Tak mungkin ia mengatakan kalau Alessandro membiarkan wanita itu untuk bunuh diri.
“Meeting? Kapan dia meeting? Jangan berani-berani kamu menipuku. Apa kamu tidak tahu siapa aku? Aku Aurora Frederica.”
“Iya Nona, aku tahu. Tapi Tuan Al sedang meeting saat ini.”
“Aku tidak mau tahu. Jika kamu ingin aku mengurungkan niatku, bawalah ia kemari dan aku ingin dia yang meminta padaku untuk tidak melakukannya,” kata Aurora.
Mereka berdua benar-benar membuatku gila! - batin Javer.
Javer meraih ponselnya. Pada akhirnya ia mengalah pada Aurora karena ia ingin masalah ini cepat selesau dan Alessandro lah yang bisa menyelesaikan ini.
“Al ….,” di ujung telepon satunya, Alessandro mendengus kesal dan membuat Javer juga mengurut dadanya karena jawaban Alessandro.
“Katakan pada atasanmu itu. Aku akan melompat sekarang dan membunuh calon bayi kami. Dia hanya pria tidak bertanggung jawab!! Aku hamil karena dia!!!” teriak Aurora.
🌹🌹🌹