Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#10



Sepulang dari kuliah, Melanie mengajak Bianca menuju kantor tempat Daddynya bekerja, Romans Production House.


Baru saja mereka menapakkan kaki di lobby, mereka bisa melihat aktris Aurora Frederica sedang dikelilingi oleh wartawan. Mereka melakukan sedikit interview dan mengambil beberapa gambar.


“Kamu lihat Bi, cantik sekali kan? Aku benar-benar tersepona,” kata Melanie.


“Terpesona, Mel. TER - PE - SO -NA,” Bianca mengeja setiap suku katanya.


“Iya iya, aku tahu. Lagipula kamu ngerti kan maksud aku? Itu yang penting. I know you know.” Melanie berjalan mendekati Aurora.


“Mel, sebaiknya kita ke ruangan Uncle saja. Bukankah kita akan mengganggu sesi wawancara itu kalau kita kesana. Lagipula, aku tidak mau nanti kamu terinjak-injak di sana. Nanti judul headline berita malah ‘Seorang gadis terinjak mengenaskan hanya karena ingin sebuah tanda tangan’,” Melanie langsung menoleh ke arah Bianca sambil menautkan kedua alisnya.


“Aku rasa kamu benar Bi. Aku belum punya pacar, masa sudah mati mengenaskan, tidak asyik sama sekali.”


Mereka akhirnya menjauh dan langsung memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai tempat ruangan Tuan Peter Rodrigo.


“Dad! Uncle,” sapa Melanie dan Bianca bersama-sama.


“Kalian sudah sampai? Tapi Nona Aurora belum datang,” kata Peter.


“Dia sudah ada di bawah, Dad.”


“Hmm … kalau begitu sebentar lagi dia pasti akan sampai di sini. Duduklah dulu,” Peter pun mempersilakan Melanie dan Bianca untuk duduk di sofa ruang kerjanya.


Intercom yang berada di atas meja Peter berbunyi, ‘Tuan, Nona Aurora sudah tiba.’


“Persilakan dia untuk masuk.”


Aurora pun masuk ke dalam ruangan bersama dengan manager pribadinya, Nora. Wajah Melanie sudah sangat berseri melihat betapa dekatnya ia dengan aktris favoritnya ini, ia pun langsung berdiri.


Peter yang melihat bahwa Melanie sudah tidak sabar, akhirnya memperkenalkan putrinya itu, “Maaf sebelumnya Nona Aurora. Perkenalkan ini adalah putri saya, Melanie dan sahabatnya, Bianca.”


Melanie langsung maju menghampiri Aurora, “Aku Melanie. Aku sangat menyukai akting anda dan anda sangat cantik sekali jika dilihat lebih dekat.”


Aurora pun tersenyum, “Apa kamu ingin berfoto bersamaku?”


Melanie langsung tersenyum dan mengambil ponselnya dengan cepat. Aurora meminta managernya untuk mengambil gambar dirinya bersama dengan Melanie. Sementara itu Bianca hanya duduk diam dan menyaksikan. Ia sama sekali tidak tertarik.


“Bi, ayo kemari!” Celetuk Melanie, “Kamu harus mengambil beberapa foto juga.”


Setelah melakukan pemaksaan, akhirnya Bianca berfoto bertiga bersama Melanie dan juga Aurora. Melanie sangat senang sekali. Ia bahkan ingin memeluk Aurora, hanya saja dihalangi oleh manager pribadinya, karena Aurora tidak suka disentuh oleh para fans nya.


Setelah pamit dengan Daddynya, Melanie berjalan pulang dengan wajah yang terus tersenyum, “Kamu bisa gila Mel jika tertawa terus seperti itu,” ujar Bianca.


“Hari ini sungguh adalah haru yang membahagiakan untukku. Aku bisa berdekatan dengan aktris favoritku, seruangan dengannya, bahkan berfoto bersamanya … Aahhhh,” Melanie kini berteriak sambil menutup wajahnya. Sebenarnya ia sudah ingin berteriak sejak tadi pertama kali Aurora masuk ke dalam ruang kerja Daddynya, tapi ia tak ingin membuat Daddynya malu karena sikapnya.


“Kamu itu benar-benar ya Mel,” Bianca hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Apa kamu tidak memiliki aktris atau aktor favorit, Bi?”


“Hmmm,” Bianca tampak berpikir, “Mungkin Bruce Lee, Jet Lee, Donnie Yen.”


“Sudah, sudah … semuanya berhubungan dengan kungfu. Kita sepertinya berbeda haluan, Bi. Ahhh aku ingin belajar berdandan seperti Nona Aurora. Aku pasti juga akan terlihat cantik,” ujar Melanie, Bianca memutar bola matanya malas. Bianca memang jarang sekali berdandan. Ia akan menyapukan make up tipis saja ketika berangkat kuliah, selebihnya ia lebih suka tanpa make up karena banyak aktivitas yang ia lakukan dan membuatnya berkeringat.


**


“Jalan-jalan? Kemana?”


“Berkeliling kota.”


“Bagaimana kalau kita pergi ke Danau Como saja?” Tanya Bianca.


“Baiklah, aku akan menjemputmu di kampus,” Bianca tersenyum sambil nenganggukkan kepala, meskipun ia tahu bahwa Alessandro tak akan melihatnya.


Danau Como adalah danau yang terletak di Italia Utara, yang berbatasan di antara Lembah Po dan Alpen. Danau ini merupakan danau terbesar ketiga di Italia setelah Danau Garda dan Danau Maggiore. Danau ini memiliki luas 146 km2. Wilayah Lierna adalah tempat bersejarah yang mempesona. Danau dengan pantai putih dan kastil yang terkenal.


Air di Danau Como cenderung tenang dan yang paling istimewa danau ini dikelilingi pemandangan luar biasa. Dari Danau Como dapat terlihat barisan Pegunungan Alpen yang megah. Saking indahnya, Danau Como bahkan telah menjadi tempat pelesiran sejak zaman Romawi Kuno.



Ada berbagai kegiatan yang dapat dilakukan di sana. Seperti hiking, tur dengan kapal, melihat pemandangan dari cable car, berlayar dengan kapal layar, bersantap hidangan khas setempat di restoran pinggir danau, bermain paralayang, sampai belanja di Kota Como.


“Kamu terus tersenyum?” Tanya Alessandro.


“Hmm … jujur ini pertama kalinya aku kemari. Daddy tak pernah mengajakku kemari,” katanya.


“Mengapa?”


“Karena Daddy akan teringat pada Mommy jika datang kemari. Dulu Mommy sering bercerita padaku tentang keindahan Danau Como, dan kini aku bisa melihatnya. Tempat di mana Daddy dan Mommy berbulan madu, tempat yang menjadi salah satu saksi cinta mereka.”


Kalau Raymond benar-benar mencintai Amadea, tentu ia tak akan bermain api di belakang. Sepertinya Dea benar-benar tidak tahu mengenai perselingkuhan dan pengkhianatanmu, Ray. Apa aku buka saja semuanya pada putrimu ini, agar ia membencimu karena telah mengkhianati Mommynya? - batin Alessandro.


“Apakah weekend ini kamu sibuk?” Tanya Alessandro.


Bianca tampak berpikir, “Sepertinya tidak. Aku hanya akan pergi ke tempat latihan seperti biasa. Bukankah kamu juga akan ke sana?”


“Minggu ini aku tidak bisa, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Apakah kamu mau membantuku?”


“Membantumu?” Tanya Bianca.


“Ya, bukankah kamu kuliah di jurusan bisnis? Tentu kamu bisa membantuku.”


“Tapi … aku belum lama kuliah,” ujar Bianca.


“Tidak masalah. Lama atau tidaknya seseorang berkuliah tidak akan terlalu berpengaruh. Justru kamu harus lebih banyak berada di suatu perusahaan dan melakukan kerja praktek, itu baru benar. Kalau hanya diisi teori dan teori yang malah kadang berbeda dengan kenyataan di dunia kerja, bukankah itu akan sia-sia?”


“Kamu benar, Al. Apakah kamu benar-benar memintaku membantumu?”


“Tentu saja. Bukankah kalau nanti kamu berhasil, kamu bisa memperlihatkan pada Daddymu?” Alessandro terus memberikan rayuan agar Bianca mau bekerja dengannya.


“Sepertinya idemu tidak buruk. Aku akan mencobanya.”


“Aku akan menunggumu di apartemenku. Semua berkas kerjaku ada di sana,” kata Alessandro.


“Siap Bos!” Bianca memberikan tanda hormat dengan tangannya.


Bianca memperhatikan Alessandro lekat-lekat. Ia seperti semua gadis yang seumuran dengannya, ia akan cepat jatuh cinta pada pria yang memberikan dirinya perhatian. Selama ini semua pria hampir takut dan segan padanya karena ia menguasai ilmu bela diri. Bianca sebenarnya tak peduli. Namun, saat Alessandro dengan mudahnya mendekat ke arah dirinya dengan apa yang ia sukai, membuat dirinya terpesona.


🌹🌹🌹