
Bianca tampak berpikir sendiri di dalam kamarnya. Kedatangan Alessandro tadi sore membuatnya merasa telah salah mengambil langkah. Alessandro kini kembali mendekatinya tanpa merasa bersalah sama sekali, karena ia berakting telah kehilangan memorinya.
“ahhh!!!” teriak Bianca gelisah.
“Sayang, apa yang harus Mommy lakukan sekarang. Apa sebaiknya Mommy meminta Grandpa menjemput Mommy saja? Tidak tidak, Kak Gio baru saja pergi tadi karena mereka akan pergi ke luar kota menemui klien,” Bianca kini berjalan mondar mandir di dalam kamarnya.
Tanpa ia ketahui, Alessandro masih berada di teras belakang resort keluarga Costa. Ia duduk di sebuah bangku panjang dan merebahkan dirinya di sana. Ia hanya pulang sebentar untuk mengambil sebuah selimut. Alessandro tak ingin membiarkan Bianca seorang diri di resort itu.
**
Aurora menghancurkan barang-barang di dalam ruangan tempat ia menjalani test. Beberapa orang penjaga telah dikerahkan untuk selalu mengawasi dan menjaga agar Aurora tidak dapat kabur.
Dokter Gabby juga terpaksa menggunakan obat penenang (yang aman untuk ibu hamil) agar ia bisa melakukan semua prosedur untuk melakukan test DNA.
“Keluarkan aku dari sini atau aku akan menghancurkan semuanya!” teriak Aurora.
Pranggg!!!
Terdengar kembali suara pecahan gelas dan juga suara kursi yang dibanting ke lantai. Ruangan tersebut tidak kedap suara sehingga membuat orang-orang yang lewat di sana merasa ingin tahu.
Dokter Gabby yang akan masuk ke dalam ruangan Aurora pun akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tak ingin menjadi sasaran amukan Aurora.
“Sialannn kalian semua!!! Alessandro Romano, kamu tidak berani menghadapi secara langsung hingga melakukan cara licik seperti ini,” Aurora merasa kesal, namun tiba-tiba perutnya terasa sakit. Ia mengaduh kesakitan.
Dokter Gabby yang baru mau pergi dari sana pun sudah tak mendengar amukan Aurora. Ia membuka pintu ruangan itu sedikit dan melihat Aurora tengah memegang perutnya dan meringis kesakitan. Jiwa dokter dalam diri Gabby pun menyeruak. Ia segera masuk ke dalam dan membantu Aurora, kemudian merebahkan tubuh Aurora di atas tempat tidur.
“Apa kamu salah satu dokter yang membantu Alessandro?” tatapan tak bersahabat ditujukan Aurora pada Gabby.
“Tenanglah nona, anda sebaiknya beristirahat. Jika anda terus seperti ini, maka itu akan membahayakan calon bayi anda,” kata Dokter Gabby.
“Apa pedulimu? Kamu hanya wanita jahat berkedok dokter. Kamu pasti bekerja sama dengan Alessandro untuk menggugurkan bayi ini kan? Aku tahu semua rencana kalian dan aku tak akan pernah membiarkannya!” ungkap Aurora tegas.
Aurora tidak tahu sama sekali bahwa ia dibawa ke rumah sakit hanya untuk menjalani test DNA. Ia mengira Alessandro akan menggugurkan bayinya agar terlepas dari tanggung jawab. Aurora menyangka test DNA yang dikatakan oleh Alessandro akan dilakukan saat bayinya lahir, bukan saat masih di dalam kandungan.
“Kami tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu, nona. Jadi tenanglah. Aku akan keluar dulu, sebaiknya anda beristirahat,” pesan Dokter Gabby sebelum meninggalkan ruangan.
**
Pagi hari, Bianca terbangun karena cahaya matahari yang masuk melalui celah gordennya. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Bianca membuka gorden dengan kedua tangannya, membiarkan wajahnya terkena sinar matahari pagi.
Setelah meletakkan sarapannya di atas meja, ia membuat secangkir teh hangat yang akan menemaninya pagi ini. Bianca berjalan menuju ruang duduk, kemudian membuka pintu yang langsung menghadap ke arah pantai.
Matanya seketika membulat ketika melihat sosok Alessandro yang tengah tidur di sofa. Tubuhnya yang besar terasa tidak muat di sofa, membuat salah satu kaki dan tangannya menggantung.
“Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Apa yang ia lakukan di sini?” gumam Bianca sambil meremas kedua tangannya. Ia pun beringsut ke dalam dan memakan sarapannya tanpa membangunkan Alessandro.
Bianca sebenarnya khawatir dengan Alessandro. Tidur di teras belakang dengan hanya berselimut tipis, pasti terasa sangat dingin. Ia makan di ruang makan sambil matanya sesekali melihat ke arah Alessandro yang masih dengan tenang terlelap di sofa teras.
Setelai selesai makan, akhirnya Bianca berinisiatif untuk membuatkan roti panggang dan secangkir kopi hangat untuk Alessandro. Ia meletakkannya persis di meja dekat Alessandro. Harum kopi dan roti panggang menusuk hidung Alessandro, membuatnya membuka mata perlahan.
Duduk di sofa sambil mengerjapkan matanya, kemudian melihat ke arah Bianca yang sedang memegang nampan.
Kalau saja setiap pagi aku akan terbangun dengan dirimu di sampingku, pasti aku akan sangat bahagia. - batin Alessandro.
“Uncle kenapa tidur di sini?” tanya Bianca dengan masih berpura-pura.
“Ah maaf. Semalam aku tidak bisa tidur dan berjalan-jalan di pantai. Lalu aku duduk sebentar di sini, malah jadi tertidur,” Alessandro terpaksa berbohong karena ia tak ingin Bianca merasa takut dengan kehadirannya.
“Makanlah dulu Uncle.”
“Terima kasih,” Alessandro menyesap kopi yang disuguhkan. Ia merindukan rasa kopi ini, kopi yang sering dibuat oleh Bianca saat mereka bekerja bersama. Tidak! Tidak! Tapi saat ia mengajarkan pada Bianca bagaimana menghancurkan Perusahaan Costa.
Alessandro benar-benar menyesal telah melakukan hal itu dan yang paling ia sesali adalah ketika ia merenggut kehormatan Bianca secara paksa, bahkan ia melakukannya tanpa rasa kasihan sama sekali.
Melihat wajah Bianca yang kini tersenyum di hadapannya, membuat Alessandro tak bisa mengungkapkan isi hatinya. Namun, ia berjanji akan selalu melindungi dan menjaga wanita di hadapannya ini dengan segenap jiwa raganya.
“Aku akan menelepon Dad Raymond dan mengatakan bahwa Uncle berada di sini dan mencarinya,” Bianca berpura-pura mengeluarkan ponsel dari saku dress nya dan mengetik sesuatu di sana.
“Ahh tidak perlu, Bi. Aku hanya mampir sebentar untuk beristirahat di Acquafredda. Aku akan menemui Raymond nanti di Kota saja. Aku memiliki Villa di ujung sana, mampirlah jika kamu ada waktu senggang,” kata Alessandro sambil menyeruput habis kopinya dan memakan roti panggang hingga tandas.
“Baiklah, Uncle,” Bianca tak akan menolak secara frontal. Tentu saja ia tak akan mampir ke tempat Alessandro.
Alessandro melipat selimut miliknya dan memegang dengan siku di sebelah tangannya, “Apa besok aku boleh mampir lagi untuk menikmati roti panggang dan secangkir kopi? Sepertinya aku cocok dengan kopi buatanmu.”
“Silakan Uncle. Besok mungkin Uncle bisa menikmatinya sambil mengobrol dengan Dad Raymond,” Bianca terus menggunakan nama Raymond untuk membuat Alessandro pergi dari resort milik keluarga Costa. Ia yakin Alessandro tak akan pulang jika mengetahui bahwa Raymond sedang pergi ke luar kota.
🌹🌹🌹