Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#37



Bianca akhirnya pulang ke Mansion Costa. Ia sangat merindukan kamar tidurnya. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menggoyang-goyangkan kedua tangan dan kakinya.


“Ahh nyamannya,” gumam Bianca.


“Bi,” Raymond masuk ke dalam kamar tidur Bianca setelah sebelumnya mengetuk pintu.


“Iya, Dad.”


“Ayo turun, kita makan malam dulu,” ujar Raymond.


“Okay, Dad,” dengan menggandeng tangan Raymond, Bianca turun menuju ruang makan.


Mereka menyantap makan malam bersama sambil membicarakan tentang keseharian mereka.


“Apa kamu ingin kembali kuliah?” tanya Raymond.


“Aku akan melakukannya setelah aku melahirkan, Dad. Aku ingin menggapai cita-citaku menjadi seorang wanita karir.”


“Bukankah kamu sedang suka mendesain, sayang?” Bianca menganggukkan kepalanya.


“Tapi itu hanya hobbyku saja, Dad. Cita-cita terbesarku adalah menjadi wanita karir dan bekerja bersamamu,” Bianca tersenyum ke arah Dad Raymond.


“Karena kantor Dad sekarang di rumah, kamu bisa selalu menemani Dad, sayang,” kata Raymond sambil tersenyum.


“Baiklah Dad, aku mencalonkan diri menjadi sekretarismu.”


“Sepertinya Dad akan tergoda pada sekretaris Dad kalau cantik seperti ini,” mereka berdua tertawa dan melanjutkan pembicaraan mereka. Raymond menjelaskan pada Bianca tentang seluk beluk perusahaan yang dibangunnya. Bianca sendiri memperhatikan dengan sangat intens. Ia benar-benar ingin belajar tentang perusahaan Costa dari Dad Raymond, tak ingin lagi dari orang lain.


**


Alessandro kembali menyambangi resort milik keluarga Costa, namun suasana pagi itu terasa sangat sepi.


“Apa ia masih tidur?” gumam Alessandro.


Kemarin setelah berjalan-jalan di pantai, Javer menghubunginya dan memintanya untuk melakukan meeting meskipun itu online. Banyak kerja sama yang tertunda karena kepergian Alessandro ke Acquafredda. Alessandro menghabiskan waktu di ruang kerjanya hingga tengah malam, hingga ia akhirnya kelelahan dan tertidur di sana.


Gorden di pintu kaca yang berbatasan dengan teras belakang, masih dalam keadaan tertutup. Ada sedikit rasa khawatir di dalam diri Alessandro. Ia takut Bianca sakit atau mengalami sesuatu semalam karena ia tak menjaganya. Ia berusaha mengintip ke dalam resort namun nihil, tak ada tanda-tanda kehidupan.


Alessandro berjalan memutar ke arah depan resort, di sana juga terlihat sepi. Tak lama terlihat seseorang memasuki resort milik Keluarga Costa tersebut, Alessandro langsung menghampiri.


“Maaf, apa Tuan Raymond ada?” tanya Alessandro, untuk sekedar basa basi.


“Apa anda ingin bertemu dengan Tuan Raymond?” Alesandro berpura-pura mengangguk.


“Tuan Raymond sudah kembali ke Kota. Ia hanya semalam saja di sini. Ia datang ke sini hanya untuk menjemput Nona Bianca,” jelas sang penjaga.


Jadi mereka sudah kembali? Sebaiknya aku juga kembali. Tujuanku ke mari hanya untuk Bianca. - batin Alessandro.


**


Javer meletakkan sebuah amplip berwarna cokelat dengan logo sebuah rumah sakit di bagian atasnya.


“Apa kamu sendiri yang mengambil amplop ini dari Dokter Gabby?” tanya Alessandro.


“Ya,” jawab Javer singkat.


“Baiklah. Aku akan melihatnya, kamu bisa keluar … dan aku minta agar kamu tetap mengawasi gerak-gerik Aurora. Aku tak ingin dia melakukan kekacauan.”


Javer pun keluar dari ruangan Alessandro. Sementara Alessandro memegang amplop tersebut dan mulai membukanya. Ia memperhatikan dengan seksama hasil test DNA yang dilakukan oleh Dokter Gabby pada Aurora.


Alessandro mengangkat teleponnya dan menghubungi Javer yang baru saja keluar, “Siapkan ruangan untukku, aku akan mengadakan konferensi pers.”


Sebuah ruangan besar yang terletak di lantai 2 Perusahaan Romano kini telah disulap menjadi ruangan dengan meja dan kursi. Javer memfasilitasi para wartawan, reporter, maupun staf pemberitaan di media sosial. Begitu banyak kamera telah siap di ruangan tersebut yang akan meliput konferensi pers yang dilakukan oleh Alessandro.


Kasak kusuk masih mewarnai pembicaraan di ruangan tersebut. Mereka mengira Alessandro mengadakan konferensi itu untuk memperjelas hubungannya dengan Aurora dan mengakui bahwa bayi yang ada dalam kandungan Aurora adalah miliknya.


Alessandro masuk ke dalam ruangan tersebut dengan gagahnya. Tanpa diminta, semua mata tertuju pada Alessandro, terutama para wanita. Sebenarnya mereka begitu sedih ketika mendapatkan kabar berita bahwa Aurora tengah mengandung anak dari CEO Perusahaan Romano, pria sukses yang banyak diminati para wanita.


Acara tersebut ternyata disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun televisi. Pemberitaan mengenai Alessandro Romano akan banyak menarik minat para penonton televisi, surat kabar, maupun media sosial.


“Selamat siang!” sapa Alessandro dan dibalas olehpara tamu undangan yang hadir.


“Terima kasih atas kesediaan anda sekalian datang ke mari. Saya berada di sini untuk menjelaskan semua pemberitaan yang berhubungan dengan saya belakangan ini.


Seperti yang anda semua ketahui bahwa Nona Aurora Frederica mengklaim bahwa dirinya tengah mengandung anak saya. Apa jawaban saya? Tentu saya tidak mengakuinya. Bukan karena saya bukan seorang gentleman, namun karena saya yakin bahwa anak yang dikandungnya memang bukan anak saya.


Banyak foto yang beredar yang tidak perlu saya perlihatkan secara gamblang di sini, dan itu pasti menarik bagi anda sekalian. Saat itu, saya sedang mabuk. Saya yakin bahwa saya tidak menyentuh Nona Aurora Frederica sama sekali. Namun, karena obsesinya yang terlau besar pada diri saya, ia mengambil foto-foto seperti yang mungkin anda semua sudah dapatkan.


Dari foto itu sendiri anda akan bisa tahu bagaimana keadaan saya saat itu dan bagaimana keadaan Nona Aurora. Dan … di sini, saat ini, saya tegaskan pada anda semua bahwa saya, Alessandro Romano, tidak pernah melakukan hal seperti itu kepada Nona Aurora Frederica. Jika ia tetap mengklaim bayi yang dikandungnya adalah milik saya, maka saya akan menunjukkan pada anda sekalian test DNA yang telah saya lakukan antara saya dengan bayi yang dikandung oleh Nona Aurora Frederica.”


Sebuah layar besar memperlihatkan sebuah gambar, yakni laporan tertulis dari sebuah rumah sakit terkenal di Kota Roma. Pada laporan tersebut tertulis bahwa tidak ada kecocokan antara Alessandro dengan bayi yang dikandung oleh Aurora.


Suasana ruangan tiba-tiba menjadi ramai, dan Alessandro pun berdehem untuk melanjutkan perkataannya.


“Kami juga Romanov Production House, telah membatalkan kontrak kerja sama dengan Nona Aurora Frederica karena telah melanggar kontrak yang telah disepakati selama proses pembuatan film berlangsung. Terima kasih.”


Alessandro pun turun dari atas panggung dan langsung keluar dari ruangan tanpa meladeni para wartawan dan reporter yang ingin melakukan wawancara tambahan. Para pengawal Alessandro langsung memberikan ruang bagi pria itu agar bisa kembali ke ruangannya dengan leluasa tanpa adanya kejaran dari para pencari berita.


Sementara di tempat lain, seorang wanita kini tengah mengepalkan tangannya dengan kesal dan mulai membanting barang-barang yang berada di sekitarnya.


🌹🌹🌹