
Bianca pulang diantarkan oleh Alessandro. Sepanjang perjalanan, Alessandro selalu menggenggam tangan Bianca dan sesekali memberikan kecupan. Sikap Alessandro membuat Bianca merasa bahagia hingga ia bisa merasakan tendangan kecil dari anak di dalam perutnya. Mungkin anaknya turut senang karena kedua orang tuanya bisa bersama.
“Aku akan segera kembali. Setelah itu kita akan mempersiapkan semua keperluan pernikahan kita,” Alessandro mengecup kening Bianca kemudian meninggalkan kediaman Costa.
Dengan wajah bahagia, Bianca masuk ke dalam rumah. Ia melihat Raymond yang sedang duduk bersantai, seperti baru saja tiba di rumah.
“Dad!”
“Bi, kamu baru pulang? Dad kira kamu ada di dalam kamar.”
“Aku pergi ke kantor Alessandro, Dad,” Bianca tak ingin menyembunyikan apapun lagi dari Dad Raymond.
“Kamu ke sana? Apa ada masalah dengan Alessandro?” tanya Raymond.
“Tidak ada, Dad. Sebenarnya kemarin saat aku memeriksakan kandunganku bersama Al, kami bertemu dengan Nona Aurora.”
“Apa dia mengganggumu, sayang?” tanya Raymond dengan khawatir.
“Tidak sama sekali. Ia hanya berbicara dengan Al saja.”
“Apa lagi yang mau dibicarakan olehnya?” Raymond berpikir, namun tak ingin mengambil kesimpulan sendiri karena ia tahu bahwa Alessandro juga tidak akan semudah itu percaya dengan perkataan Aurora lagi.
“Sepertinya ia hanya berpamitan saja, Dad. Managernya bilang padaku kalau Nona Aurora akan meninggalkan negara ini,” Raymond sedikit bernafas dengan lega, namun tak memungkiri bahwa ia juga merasa sedikit khawatir dengan keadaan Aurora yang tengah hamil.
“Dad … aku …”
“Katakanlah sayang, apa ada sesuatu yang kamu inginkan?” tanya Alessandro.
“Aku sudah menyetujui untuk menerima lamaran Alessandro, Dad. Kami akan segera menikah.”
Raymond tersenyum bahagia, kemudian mengelus rambut putrinya, “sudah saatnya kamu bahagia sayang. Dad akan selalu mendukung keputusanmu.”
“Terima kasih, Dad. Kami akan mempersiapkan semuanya setelah Al kembali dari Meksiko.”
“Baiklah. Jika kamu membutuhkan bantuan Dad, beritahu Dad. Dad akan dengan senang hati membantumu.”
“Ok, Dad. Aku mau ke kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu.”
Bianca akhirnya naik ke atas, tapi ketika ia sampai di pertengahan tangga, ia kembali menoleh ke arah Dad Raymond.
“Dad, aku tadi bertemu dengan Aunty Margaretha. Katanya ia sangat merindukan Dad. Kapan Dad akan menjenguknya?” tanya Bianca.
Raymond langsung menepuk dahinya dengan telapak tangan, “mati aku!”
**
Alessandro menyelesaikan pertemuannya dengan Tuan Gerardo lebih cepat. Mereka setuju menandatangani kesepakatan untuk bekerja sama dalam proyek pembangunan sebuah pusat perbelanjaan besar yang akan dibangun di Kota Roma.
“Terima kasih atas kesempatan yang anda berikan, Tuan Gerardo,” kata Alessandro sambil berjabat tangan dengan Pengusaha sukses di Kota Meksiko, Oscar Gerardo.
“Saya justru yang berterima kasih karena anda sudah mengijinkan pembangunan pusat perbelanjaan tersebut di tanah milik anda. Saya pastikan kerjasama ini akan memberikan keuntungan bagi kedua perusahaan. Oya, untuk selanjutnya proyek ini akan dipegang oleh putra saya, Nicholas Gerardo, Kebetulan saat ini ia sedang pergi ke New York untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.”
“Tidak masalah. Saya akan dengan senang hati bekerja sama dengannya. Kalau begitu, saya pamit lebih dulu.”
Ia pun memutus sambungan ponselnya dan segera kembali ke hotel. Ia akan segera terbang kembali ke Roma karena pikirannya benar-benar tak lepas dari Bianca.
**
Alessandro dengan cepat mempersiapkan acara pernikahannya. Mereka hanya akan melakukan upacara pernikahan di gereja. Setelah Bianca melahirkan nanti, baru mereka akan mengadakan resepsi.
Tamu undangan juga sangat dibatasi, yakni hanya keluarga dan teman terdekat. Mereka tak ingin menciptakan rumor buruk terhadap Alessandro ataupun Bianca.
Bianca kini berada di depan tempat latihan bela diri yang dulu sering ia datangi, sebelum dirinya mengetahui bahwa ada sebuah nyawa lain di dalam tubuhnya.
“Dulu Mommy belajar bela diri di sini, sayang. Nanti kamu juga harus membekali dirimu dengan kemampuan ini agar tak ada seorang pun yang bisa mengganggumu,” gumam Bianca sambil mengelus perutnya.
Ia berjalan masuk, membuka pintu. Ia langsung melihat suasana tempat latihan yang sangat dirindukannya. Bianca memegang beberapa alat yang berada di sana, seakan ingin merasakan menggunakan semuanya kembali.
“Mommy pertama kali juga bertemu Daddymu di sini. Mungkin ia sudah menargetkan Mommy sebelumnya, tapi Mom yakin ia adalah pria yang baik,” gumam Bianca lagi.
Ia berjalan menuju ruangan yang biasa ia dan Bruno gunakan untuk berlatih. Kedatangannya ke sana memang khusus untuk memberikan sebuah undangan, undangan pernikahannya dengan Alessandro, kepada sahabatnya Bruno.
“Kak,” Bianca memanggil Bruno saat ia membuka pintu ruang latihan. Matanya membulat ketika melihat Bruno sedang bersama dengan seorang wanita.
Kini, mereka duduk di sebuah meja bundar dengan 4 buah kursi yang berada di ruang latihan tersebut. Bianca menatap ke arah 2 orang yang berada di hadapannya. Sang wanita terus menundukkan kepalanya dan tidak berani melihat ke arah Bianca.
“Aku tidak menyangka ternyata kamu mengikuti saranku juga pada akhirnya,” kata Bianca sambil sedikit membungkukkan tubuhnya untuk melihat wajah wanita yang tengah menunduk itu.
“Bi, jangan menggodanya terus,” Bruno berusaha menghentikan godaan Bianca pada wanita di sebelahnya.
Bianca rasanya ingin tertawa. Ternyata kedua sahabatnya kini sudah berada di jalan yang sama, “Baiklah, baiklah, aku tidak akan menggodanya lagi. Tapi katakan padaku, sejak kapan kalian bersama?”
Bruno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “hmm … aku tidak ingat, Bi,” Bruno meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya.
“Ya ampun, kalian romantis sekali. Aku jadi terharu.”
“Bi …”
“Ahh iya iya, maafkan aku,” Bianca sedikit terkekeh. Ia berpindah kursi untuk mendekati wanita tersebut. Bianca melepas genggaman tangan Bruno dari wanita itu, kemudian gantian memegangnya. Ia juga meraih tangan yang sebelah lagi, kemudian menyatukannya.
“Aku tidak marah, Mel. Aku senang sekali melihat kebersamaan kalian. Aku hanya kesal karena kalian tidak memberitahukan padaku, padahal aku akan senang sekali mendengar kabar ini. Apa kamu malu, hmm?”
“Maaf Bi. Bukannya aku tak ingin memberitahumu, tapi aku belum menemukan waktu yang tepat. Aku tak ingin berbahagia dengan hubunganku dan menceritakan kebahagiaan tersebut, padahal kamu sendiri sedang dalam kondisi tang tidak baik-baik saja,” ujar Melanie.
Bianca terkekeh, “Kamu tahu, jika aku mengetahui berita ini sebelumnya, mungkin aku tak akan bersedih. Aku turut bahagia dengan kebahagiaanmu. Malah mungkin berita ini akan meningkatkan imun tubuhku.”
“Apa kamu datang ke sini hanya untuk memergoki kami?” tanya Bruno.
“Ahhh hampir saja aku lupa tujuanku datang ke sini. Sebenarnya aku ingin memberikan undangan ini untukmu Kak, tapi berhubung Melanie juga ada di sini, maka aku juga akan memberikan milikmu di sini,” Bianca menyerahkan 2 buah undangan, masing-masing untuk Bruno dan Melanie.
“Undangan?”
“Pernikahanku dengan Alessandro.”
🌹🌹🌹