Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPISODE 9



Dengan pelan aku membuka kedua mataku dan menyadari bawah tanganku telah di pasang selang infus.


Sam yang sedang bermain ponsel di sofa langsung menyadari dengan kesadaranku.


Sam beranjak dari sofa tersebut dan berjalan mendekat kearahku.


“Minumlah!” perintahnya dengan senyum lembut sambal menyodorkan gelas yang sudah di isi air olehnya sejak dari tadi.


Aku menerima gelas tersebut dan menyesapnya hingga setengah.


Sam mengambil kembali gelasnya kemudian ia letakkan di atas meja nakas.'


“Apa kamu merasa baikan?” tanya Sam.


“Hmm. Berkatmu aku sudah merasa agak baikan.” Jawabku dengan pelan sambil sediki mengangkat bibirku.


Sam menatapku dengan lembut, ia mengangkat salah satu tangan untuk menyelipkan rambutku kebelakang telinga kemudian dia memelukku dengan erat.


“Aku tau kamu sedang tidak baik, jadi menangislah gadis kecilku jika itu bisa membuatmu baikan.” Ucapnya lembut sambil mengelus rambutku.


Mendapat perlakuan seperti itu, aku memeluk balik Sam dengan erat.


Air mataku langsung jatuh dan membasahi kemeja milik Sam.


“Dasar gadis bodoh! kamu tidak perlu sok tegar saat di hadapanku”


Aku menangis tersedu-sedu di pelukan Sam sampai dia juga merasakan sakit di dalam hatinya itu. Bagaimana tidak, wanita yang selama ini dia jaga dan dia sayang menangis terisak-isak di hadapannya.


Sam memelukku tanpa berkata apapun, dia tau bahwa saat ini yang aku butuhkan hanya kehangatan dari seorang keluarga.


Setelah menangis cukup lama dan aku mulai lelah, Sam melepaskan pelukannya.


“Apa kamu sudah merasa baikan?"


"Hmm." jawabku dengan anggukan pelan.


Sam tersenyum kecil lalu dengan kembut dia menghapus sisa air mataku dengan kedua tangannya.


“Aku tau saat ini kamu sedang sedih dan terluka, tapi kamu juga harus jaga diri kamu sendiri. Bagaimana bisa kamu pingsan karena kelelahan?”


“Maaf, akhir-akhir ini karena mengurus kepulanganku jadi banyak yang harus aku selesaikan terlebih dahulu."


"Siap pak dokter!" ujarku dengan senyum terpaksa.


"Ri, berbaliklah jika kamu merasa lelah, aku akan selalu berada di belakangmu dan apapun keputusan yang kamu buat, aku juga akan selalu mendukungmu."


“Thank you Sam.” ucapku kemudian kembali memeluk Sam.


Setelah aku melepas pelukannya, Sam menatap ke dalam dua bola mataku.


“Andai aku bisa memiliki perasaan lebih terhadapmu Ri mungkin saat ini kamu tidak akan merasakan sakit hati.” Ujarnya dengan lirih.


Aku tersenyum menatapnya kemudian baru berkata


“It’s okay Sam, walau kita tidak memiliki perasaan itu tapi I’m glad I still have you at my beside. You are my family Sam.”


Mendengar ucapanku, Sam menarikku kembali ke dalam pelukannya.


“Sam, I wanna go home.”


“Okay, Ayok kita pulang.”


Setelah melepaskan infus yang ada di tanganku, Sam menghubungi Nina untuk bertemu di lobby hotel dan dia juga tidak lupa mengirim pesan kepada Tomy bahwa kami akan pulang terlebih dahulu.


Karena Sam tidak mengendarai mobil, jadi dia yang mengendarai mobil Nina untuk mengantarkanku pulang terlebih dahulu. Selama di perjalanan, kami bertiga di dalam mobil tidak banyak bicara, hanya mendengarkan alunan musik hingga tiba di depan apartemen rumahku.


“Ri, mau gue temenin?” tanya Nina


“Gak usah Nin, gue udah gakpapa kok.” Jawabku dengan senyum kecil.


“Beneran?” tanya Nina lagi.


“Iya, beneran. Udah ah, gue naik duluan ya. Thanks udah antarin gue balik.” Ujarku kemudian berbalik meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri di pintu mobil.


“Gakpapa Sam tinggalin dia sendirian di rumah?” tanya Nina lagi setelah melihat aku masuk ke dalam lobby apartemen.


“Gakpapa kok. Dia hanya butuh waktu untuk tenangin diri.” Ujar Sam kemudian kembali ke dalam mobil dan di ikuti oleh Nina.


“Ke rumah lo aja dulu, ntar biar gue nyetir sendiri pas pulang.” Ujar Nina sambil menarik safety belt.


“Gakpapa, gue antarin lo pulang ke rumah lo dulu setelah itu baru gue pulang sendir aja.” Ujar Sam sambil menatap lurus ke depan.