
Aku kembali ke dalam villa.
Aku mencari sosok Martin di tengah keramaian.
Setelah menemukan sosoknya, aku berjalan mendekati Martin.
“Kenapa kamu turun lagi?” tanya Martin dengan heran.
“Tadi Ethan menghubungiku untuk bilang kepada anda bahwa
malam ini wanita itu sudah pulang dan malam ini dia datang menghadiri acara
ini.” Ujarku dengan sedikit berbisik.
“Wanita?” tanya Martin.
“Dia bilang kamu akan mengerti maksudnya.” Jawabku sambil
melepaskan jas dan memberikannya kepada Martin.
“Kamu pakai saja dulu.” Tolak martin dengan memakaikan
kembali ke bahuku.
Sejak kejadian tadi, wajah Martin menggelap dan sekarang
setelah aku memberitahunya tentang wanita itu.
Aura Martin semakin dingin sehingga tidak ada yang berani
mendekati maupun menghampirinya.
“Siapa wanita itu? Kenapa dia terlihat begitu menakutkan?”
Tanyaku dalam hati.
Tiba-tiba saja tangan Martin memeluk pinggangku ketika
mendapati seorang pria paruh baya berjalan kearah kami.
“Terima kasih untuk waktu anda Direktur.” Ujar Direktur Wang
sambil menjabat tangan Martin kemudian baru menjabat tanganku.
“Anda terlalu segan Direktur Wang.” Ujar Martin kemudian
tersenyum.
“Wanita ini sangat cantik, apa anda tidak memperkenalkannya
kepada kami?” tanya Nyonya Wang.
“Ah..Maaf, Perkenalkan nama saya Riana dan saya.”
“Tunanganku.” Tambah Martin.
“Gadis yang cantik.” Ujar istri Direktur Wang.
Aku tersipu malu mendengar pujiannya.
“Terima kasih Nyonya.” Ujar dengan pipi merona.
DIrektur Wang pergi meninggalkan kami, dan datanglah seorang
wanita yang sangat cantik menghampiri kami.
“Hai, lama tidak bertemu.” Ujarnya dengan pelan.
“Hm, sudah lama tidak bertemu.” Ujar Martin lagi dengan
wajah menggelap.
Aura mereka sangat aneh sehingga membuatku tidak nyaman
berdiri di sana.
“A..Aku kesana dulu.” Ujarku dengan sopan.
Baru saja ingin meninggalkan mereka, Martin menarik lenganku
dan berkata.
“Kamu tidak perlu menjauh, tidak masalah jika kamu berada di
Mendengar ucapan Martin, aku jadi keingat pesan Ethan tadi.
“Halo.. Saya Laura mantan pacar Martin.” Ujar Laura sambil
mengulurkan tangannya.
Wajah Martin semakin menggelap setelah mendengar perkenalan
diri Laura.
Sekarang aku sudah mengerti maksud perkataan Ethan tadi, jadi
aku juga mengikuti permainan ini mengingat kemarin Martin juga sudah
membantuku.
Dengan percaya diri aku memperkenalkan diri.
“Oh..Halo..Saya Riana Tunangannya Martin,senang berkenalan
denganmu.”
Martin melirikku sekejap kemudian berbalik menatap Laura.
“Kamu terlihat tidak terkejut setelah mengetahui hubunganku
dengan Martin.”
Cengkraman Martin di pinggangku semakin erat sehingga
membuat tubuhku semakin dekat dengan tubuhnya.
Aku melingkar tanganku di pinggang Martin dan berkata dengan
mantap.
“Tentu saja tidak, Martin sudah menceritakannya kepadaku
tentang semua masa lalunya dan menurutku semua orang pasti mempunyai masa lalu
begitupun dengan Martin.”
Laura menggertakkan giginya karena tidak bisa
mempengaruhiku.
“Kalo begitu aku permisi dulu ya, sampai bertemu lagi.”
Ucapnya lalu berjalan meninggalkan kami berdua.
Martin melihat kepergian Laura dan aku langsung melepaskan
pelukanku yang ada di pinggang Martin itu.
“Maaf, tadi aku bermaksud.”
“Aku pergi ke kamar kecil sebentar.” potong Martin kemudian
pergi meninggalkanku.
Melihat kepergian Martin, Tomy yang juga berada di acara itu
bersama Joan datang menghampiriku.
“Riana.” Panggil Tomy.
Baru saja mau melangkah, Joan juga menyusul Tomy
menghampiriku.
“Hai Kak Riana.” Panggilnya Joan.
“Hai Joan, maaf aku lapar dan ingin makan sesuatu jadi aku
permisi dulu ya.” Ujarku kemudian meninggalkan mereka.
Aku berjalan mengambil beberapa dessert yang ada di meja dan
melahapnya dengan pelan.
Tiba-tiba entah dari mana datangnya seorang pria mabuk menghampiriku.