
“Tapi sekarang aku butuh seorang istri” ujar Martin sambil berbalik menatapku.
“APA?! ISTRI?!” tanyaku dengan kaget.
“Maaf Presdir, saya sudah lancang. Tapi mau kemana saya carikan anda istri?” ujarku lagi dengan cepat.
Dia berjalan mendekatiku dan berkata.
“Bagaimana jika kita menikah?”
Dengan mata melebar aku menatapnya dan berkata dengan nada marah.
“Menikah?! Apakah kamu sudah gila?!”
Martin berjalan ke samping dan duduk di kursi yang ada di bawah pohon itu.
Dia menyilangkan kakinya dan berkata dengan tegas.
“Aku harap kamu mau mempertimbangkannya.”
“Aku tidak akan mempertimbangkannya!”
Aku menatap Martin dengan marah.
Baru saja berbalik, Martin kembali berkata dengan datar.
“Aku akan membantu Tuan Nathan jika kamu setuju menikah denganku.”
Aku berbalik menatap Martin dengan mata memerah karena menahan emosiku.
“Aku akan memberimu waktu 2 hari untuk berpikir, aku tunggu jawabanmu.” Ujar Martin lagi.
Martin bangkit dari kursinya dan baru saja dia mau pergi, aku menghentikan langkahnya.
“Tunggu!!”
Martin berbalik dan menatapku dengan wajah dinginnya itu.
“Tidak perlu di pikirkan lagi, aku tidak akan menyetujuinya.”
Aku berbalik meninggalkan Martin di rumah sakit.
Sambil berjalan meninggalkan rumah sakit, aku terus mengoceh sendiri sampai bertemu dengan Ethan.
“Ada apa denganmu? Apakah kamu telah di marahi oleh Bos?” tanya Ethan dengan hati-hati saat melihat wajahku saat ini.
“Tanya saja pada bosmu!” ujarku kemudian pergi meninggalkan Ethan.
Ethan melihat kepergianku dengan tanda tanya kemudian dia kembali ke ruangan nenek dan menemui Martin.
Setelah pulang ke rumah, aku terus memantau berita dan perkembangan tentang perusahaan Om Nathan.
aku tidak bisa menghubungi Sam karena saat ini dia pasti sangat sibuk.
Jadi aku hanya bisa menunggu dan menunggu.
Ethan menghubungiku dan memintaku untuk menemuinya di bawah apartemenku.
Awalnya aku mengira hanya Ethan seorang ternyata ada Martin juga yang berada di dalam mobil.
“Kenapa Ethan? Apakah ada sesuatu yang penting?”
“Masuklah ke dalam mobil, Presdir ingin menemuimu.”
“Aku akan menunggu di luar, kalian bicaralah.”
Ethan membukakan pintu belakang mobil.
Aku berjalan memasuki mobil dan duduk di sampingnya.
“Ada apa Presdir mencariku malam-malam begini?” tanyaku dengan ketus.
“Apa sudah kamu pikirkan ucapan aku kemarin?” tanya Martin dengan datar dan dingin.
Aku menghela napas ringan kemudian menoleh kearah Martin dan berkata
“Jika kamu ingin menikah carilah orang lain bukankah kamu pujaan para wanita di Kota B?“
“Bacalah!”
Aku membuka berkas yang di berikan Martin kepadaku ini.
Setelah membacanya aku menoleh kearahnya dengan mata melebar.
“Apa kamu pikir aku akan menyetujuinya?”
“Semua keputusan ada di tangan kamu, aku tidak memaksanya.”
“Kenapa harus aku?”
“Karena kamu membutuhkan investor untuk perusahaan pamanmu dan aku membutuhkan seorang pasangan.”
Aku memejamkan mata sebentar kemudian aku kembali berkat kepada Martin.
“Aku akan memikirkannya, kamu kembalilah dulu.”
Aku membuka pintu mobil dan langsung berjalan kembali ke dalam apartemenku.
Setelah berpikir aku memutuskan untuk menghubungi sekretaris papa dulu.
“Halo Om Dodi, ini Kezia.”
“Iya Non, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin tau kondisi keuangan perusahaan om Nathan sekarang juga dan ingat jangan memberitahu siapapun.”
“Baik, akan saya laksanakan sekarang juga.”
30 menit kemudian aku menerima laporan dari Om Dodi.
“Om, bantu sebarkan berita bahwa perusahaan kita akan bekerja sama dengan perusahaan Om Nathan.”
“Maaf Non, kalua masalah ini aku tidak dapat membantumu.”
“Kenapa om?”
“Karena kamu belum mengambil ahli perusahaan ini. Selama ini Pak Nathan mengurusnya dia selalu berpesan kepadaku selama kamu tidak mengambil ahli perusahaan ini kamu tidak bisa bertindak atas nama perusahaan dan jika sesuai dengan surat wasiat alm papa anda bahwa anda dapat mengambil ahli perusaahan ketika anda berumur 30 tahun atau sudah menikah.”
“Baiklah.”
Aku mematikan panggilan dan duduk termenung memikirkan tawaran Martin tadi.
“Kali ini apa yang harus aku lakukan lagi?” ujarku dengan pelan.