
“Iya Nin, hanya ini yang bisa aku lakukan saat ini.”
“It’s oke Ri, aku akan mendukung apapun keputusan lo dan karena besok lo akan menikah dengan pria idaman para wanita, bagaimana kalo kita pergi happy malam ini?”
“Ide bagus Nin, aku butuh refreshing.”
Riana kembali ke kamarnya untuk berganti baju dan merias wajahnya sedikit.
Setelah itu mereka pun pergi ke pub yang biasa Nina kunjungi.
Dengan balutan gaun hitam, aku memasuki pintu masuk NN Pub.
Kami duduk di meja yang tidak jauh dari panggung DJ.
Dentuman musik merasuki ke dalam pikiranku, hingga aku merasa relax saat berada di sana.
Tidak ada yang aku pikirkan, hanya menikmati musik yang di mainkan oleh salah satu DJ milik pub ini.
Di salah satu sudut meja VIP, Martin duduk disana bersama temannya dan matanya terus mengawasiku.
“Wanita ini kenapa bisa ada disini?” tanya Martin dalam hati.
Aku sendirian duduk di meja tiba-tiba datanglah seorang lelaki duduk di sampingku dan berkata
“Hai cantik, mau minum bersama?”
“Tidak, terima kasih.”
Baru pergi satu, datang lagi seorang pria yang langsung duduk di kursi milik Nina.
“Hai sayang.”
“Maaf, kursi itu ada yang punya.”
“Oh ya? Bagaimana dengan kamu apakah sudah ada yang punya?”
Martin berjalan dan muncul di belakangku kemudian langsung menatap lelaki itu dengan tajam.
“Maaf sudah mengganggu” ujar laki-laki itu.
Aku berbalik melihat Martin dengan muka yang sangat dingin sedang menatapku.
“Presdir…” sapaku dengan ekspresi kaget.
Melihat wajahku yang sudah mulai memerah karena alcohol, Martin menarik lenganku untuk keluar dari pub itu.
“Kenapa kamu menarikku Presdir?” tanyaku dengan heran sambil mengikuti langkahnya.
“Ikut aku!” tanya Martin dengan dingin.
Martin menarikku keluar dari pub menuju ke mobilnya.
“Kita mau kemana?!” tanyaku lagi.
“Pulang!!” ujarnya dengan tegas.
“Lepaskan aku!! Temanku masih berada di dalam sana dan jika anda ingin pulang, pulang saja sendiri!”
Melihat tanganku yang memerah, dia melepaskan genggamannya dan berkata dengan marah.
“Ikut aku sekarang!”
Melihat wajah martin yang sudah menggelap dan aura marahnya sudah sangat mencekam, aku mengikutinya kembali ke apartemenku.
“Silahkan.” Ujarku mempersilahkannya masuk.
Martin duduk di depan ruang tamu dan aku pergi ke dapur menuangkannya segelas air putih hangat.
Wajah Martin saat ini tampak sangat lelah.
“Ada apa sampai Presdir datang ke rumahku saat tengah malam begini?”
Martin menoleh kearahku dan memberikan berkas yang kemarin aku baca itu kepadaku.
Aku menerimanya kemudian berkata dengan nada marah.
“Kamu sengaja menarikku pulang hanya untuk ini?!”
Martin menyandarkan tubuhnya ke belakang sofa dan menutup kedua matanya lalu berkata
“Tanda tanganlah! Besok kita akan pergi ke kantor sipil.”
“Baik! Aku akan tanda tangan setelah kamu menyetujui persyaratanku!” ungkapku dengan kesal.
“Baik.”
“Aku yakin kamu pasti sudah mencari tau tentangku dan tentunya kamu juga tau siapa aku sebenarnya.”
“Terus?”
“Aku ingin kamu memberikan semua info tentangmu yang menurutmu perlu aku ketahui. Yang ke-2 aku harap selama masa pernikahan kita tidak mencampur urusan masing-masing.”
“Hanya itu?”
“Ya, aku juga mau kamu hapus semua persyaratan ini karena aku tidak butuh hartamu jika suatu hari kita akan bercerai.”
“Apa kamu pikir aku akan menyetujuinya?”
“Kamu akan menyetujuinya karena kamu butuh aku untuk menjadi pasanganmu dan aku butuh kamu menjadi investor paman. Bukankah itu sudah cukup?”
“Baik, aku akan menyuruh Ethan untuk memberimu semua info yang perlu kamu ketahui.”
“Hm.”
“Besok aku akan mengumumkan soal pernikahan kita.”
Aku terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaannya.
“Bisakah..” ucapanku terhenti saat melihat Martin sudah tertidur.
Aku mengambilkan selimut untuk Martin setelah itu aku kembali ke kamarku dan tertidur.