Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
41



Martin menatapku kemudian kembali menatap Neneknya.


“Pergilah, aku tidak ingin makan.”


Aku menghela napas pelan kemudian berbalik meninggalkan Martin sendirian di ruangan.


Aku pergi ke kantin membeli sandwich dan sup ayam untuk Martin.


Tidak lupa aku juga membeli susu hangat untukku dan Martin.


Aku kembali ke ruangan Nenek dan Martin masih di posisinya yang sama sejak dari tadi.


Dia terus memegang tangan nenek dan terus berada di sampingnya.


“Kenapa kamu sudah kembali?” tanya Martin dengan datar.


“Maaf jika aku lancang tapi sebagai sekretarismu kesehatanmu adalah salah satu kewajibanku.” Ujarku sambil mengeluarkan segelas susu dan 1 kotak sup ayam yang ku beli tadi.


“Aku membelikan susu dan sup ayam untuk anda, anda pilihlah mana yang anda mau.” Ujarku lagi dengan menyodorkan gelas dan kotak makan.


Martin menatapku dengan tajam. Baru saja dia mau membuka mulut, Nenek Martin sadar dan membalas genggaman cucunya itu.


“Nenek, kamu sudah sadar?”


Melihat Nenek sudah sadar, aku segera meletakkan kembali gelas dan kotak makan itu.


Aku menekan bel untuk memanggil dokter dan dokterpun segera datang memeriksa kondisi Nenek, setelah itu dia pun meminta Martin keluar untuk membicarakan tentang kondisi Nenek.


Aku mendekati kasur nenek dan menanyakannya dengan lembut.


“Nek, apakah kamu membutuhkan sesuatu? Apa kamu mau minum?”


Nenek tersenyum terhadapku dan perlahan dia mengangkat tangannya.


Aku langsung memegang tangannya.


“Akhirnya Martin membawamu pulang menemuiku.”


“Hah? Bukan Nek, sepertinya.”


Belum selesai berbicara, Martin masuk dan berjalan kesampingku.


Martin merangkul pinggangku dan langsung berkata


“Nek, perkenalkan ini Riana, pacar Martin.”


Aku menoleh kearah Martin dengan wajah shock.


Tangannya yang berada di pinggangku sedikit kencang jadi aku mengikuti permainannya.


“I..iya Nek, perkenalkan aku Riana, maaf baru sempat datang menemui anda.”


“Tidak apa-apa Nak, Nenek senang akhirnya kamu mau membawa pulang pacarmu.”


Aku menarik tangan Martin dari pinggangku.


Aku berjalan ke meja dan kembali ke samping Martin dengan membawa segelas susu untuknya.


“Minumlah, lambungmu akan sakit jika kamu tidak meminumnya.”


Martin menerima gelas yang aku berikan dan meneguknya hingga setengah gelas.


“Pergilah makan terlebih dahulu Nak, Nenek sudah tidak apa-apa.”


Martin mengangguk kemudian aku juga berkata


“Kalo begitu, kami permisi ke kantin dulu yaa Nek.” Ujarku dengan lembut.


Baru saja mengambil tasku di sofa, Martin langsung menggenggam tanganku dan kami keluar dari ruangan Nenek bagaikan seorang kekasih.


Setelah keluar dari ruangan, aku langsung melepaskan genggaman dan menjaga jarak dengannya.


“Riana, bisakah kita bicara?” ujar Martin tiba-tiba.


“Silahkan Presdir, aku akan mendengarkannya.”


Martin menarikku ke taman rumah sakit.


“Maaf Presdir, apa yang ingin anda bicarakan sampai anda membawa saya ke sini?”


Martin menatapku dengan tajam dan berkata dengan datar.


“Bisakah kamu pura-pura menjadi pacarku saat berada di depan Nenek?”


Mataku membulat mendengarkan ucapan Martin barusan.


“Apakah benar ini Martin? Bukankah dia sangat terkenal di kalangan perempuan?” ujarku dalam hati.


Melihat aku yang masih bingung dan terdiam, Martin berkata lagi.


“Asal kamu mau.”


“Tunggu sebentar!” ujarku dengan memotong pembicaraan Martin.


“Kenapa Presdir harus berbohong kepada Nenek anda? Anda cukup me.”


“Keinginannya adalah aku segera mendapatkan pasangan.”


“Tapi kenapa aku?”


“Karena kamu tidak memiliki perasaan terhadapku.”


Aku berpikir-pikir sebentar maksud dari perkataan Martin.