Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 12



Sam menerima pesan Nina saat dia sedang memeriksa kondisi papanya Tomy.


Setelah membaca pesan Nina, Sam kembali memasukan ponsel ke dalam sakunya dan ia pun menjelaskan kepada Tomy soal kondisi papanya yang sudah stabil.


Selesai menjelaskan Sam pergi meninggalkan Ruangan papa Tomy tapi di tengah koridor Tomy memanggil Sam.


“Sam, apa Riana ada menghubungi kamu?”


“Tidak ada, memangnya dari kemarin lo gak hubungi dia?”


“Ada, tapi dia gak balas chat gue bahkan nomorku di block sama dia.” Ujar Tomy dengan khawatir.


Sam menghela napas dengan pelan.


“Gue belum bisa tinggalin Rumah Sakit. Jadi kalo bisa, lo nanti pergi ke apartemennya ya? Gue sedikit khawatir sama keadaan Riana.”


“Hmm..Baiklah. Setelah ini aku akan kesana.” Ujar Sam kemudian membalik dan kembali ke ruangannya.


Ting..Tong..


Bel pintu kembali terdengar. Aku menghela napas ringan kemudian menatap kearah pintu.


“Kali ini siapa lagi sih! Perasaan hari ini banyak banget yang datang.” Gumamku dalam hati.


Nina melihatku yang tidak bergerak sama sekali, dia pergi membukakan pintu. Melihat kedatangan Sam dengan membawa 2 kantong besar berisi snack dan minuman, Nina segera membantunya membawa masuk ke ruang tamu.


Aku menatap Sam dan isi kantong secara bergantian.


“Angin apa yang buat lo bisa membeli ini semua?” tanyaku dengan heran.


“Gak ada angin apa-apa, cuman lagi kepengen aja.” Jawabnya Sam dengan polos.


“Tumben banget seorang SAM bisa beli snack karena kepengen.” Ujarku dengan nada mengejek.


“Karena kamu sudah beli dan bawa ke sini jadi thank you ya, karena pas banget buat kami berdua yang lagi nonton.”Ujarku lagi dengan tertawa kecil.


Kami bertiga lanjut menonton hingga selesai. Aku dan Nina juga sudah berpindah duduk di atas karpet bersama dengan Sam dan meja juga sudah di penuhi beberapa kaleng minuman yang sudah kosong dan bungkusan bekas makanan.


Tiba-tiba Nina meneguk habis minumannya dan menatap kearahku.


“Riana, lo anggap gue sahabat lo gak sih?” tanyanya dengan wajah frustasi.


“Kalo begitu kenapa lo gak mau berbagi kesedihan lo sama gue? Kenapa lo pendam semuanya sendiri? Apa gue gak berguna buat lo?” tanya Nina lagi dengan mata berkaca-kaca.


“Gue..” belum selesai aku bicara, Nina sudah langsung memelukku dengan erat.


Nina menitikkan air matanya dan tubuhnya mulai bergetar. Aku membalas memeluknya dengan mata berkaca-kaca.


Aku menahan air mataku supaya tidak keluar.


“Menangislah Ri! Tidak perlu kamu tahan saat di depanku dan jangan sok tegar di hadapanku! Aku benci melihatnya.” Tambah Nina.


Air mata yang sejak dari tadi ku tahan, tidak dapat ku tahan lagi.


Semuanya berlomba mengalir keluar sehingga membasahi baju milik Nina.


Aku menangis tersedu-sedu sampai tubuhku bergetar kuat di pelukkan Nina.


Melihat kesedihanku yang seperti ini, Nina ikut merasakan sakit hati.


Setelah melepaskan pelukan Nina, aku memeluk kedua kakiku dengan erat sampai Sam menarikku masuk ke dalam pelukannya.


“Menangislah hingga kamu puas hari ini. Setelah hari ini, kamu tidak di perbolehkan bersedih lagi!” ujar Sam sambil mengelus rambutku dengan lembut.


Merasakan kelembutan Sam, aku semakin menangis.


Hatiku terlalu sakit dan rasa sakitnya itu susah di jelaskan oleh kata-kata.


Aku menangis semalaman hingga aku ketiduran.


Esok harinya mataku membengkak sampai aku merasa terlalu berat untuk membuka kedua mataku.


Aku berjalan ke dapur dan menemukan Sam bersama Nina sedang sarapan di meja makan.


“Nih, sarapan lo.” Ujar Nina sambil menyodorkan piring kearahku.


Karena tidak berselera, aku hanya memakan beberapa suap dan kembali ke ruang tamu. Selesai sarapan, Sam dan Nina menyusuliku.


“Apakah sekarang kamu sudah bisa katakan kepada kami kenapa nyokap Tomy datang ke sini?” Tanya Nina.