
Martin kembali ke kamarnya tetapi dia masih kepikiran dengan
sikapku tadi.
“Sh*t, mengapa aku begitu peduli kepadamu?” gumam Martin.
Semakin di pikir, hati Martin semakin tidak tenang. Dia pun
memutuskan untuk menghubungiku.
Sudah beberapa deringan, Riana masih saja tidak mengangkat
panggilannya. Martin memutuskan untuk keluar dan mengetuk pintu kamar Riana.
Pintu tidak terbuka, di dalam tidak terdengar suara Riana
sama sekali.
“kemana dia pergi?” pikir Martin.
“Dimana Riana?” tanya Tomy dengan berjalan menghampiri
Martin.
“Untuk apa anda bertanya tentang keberadaan wanitaku?”
“apa dia tidak apa-apa?” tanya Tomy lagi untuk memastikan
keadaan Riana.
Tomy tau soal kondisi Riana, apalagi setelah kejadian tadi
Tomy yakin bahwa Riana tidak akan baik-baik saja.
“wanitaku baik-baik saja anda tidak perlu
mengkhawatirkannya.”
Tomy menyerah dan pergi meninggalkan Martin yang masih
berdiri di depan pintu kamar Riana.
Martin mengambil ponsel dan menghubungi manager untuk segera
datang membukakan pintu kamar Riana.
Riana POV.
Aku merasa ketakutan di dalam kamar. Otakku juga tidak bisa
berpikiran jernih.
Bahkan ponsel berdering dan ketukan pintu dari luar pun aku
sudah tidak bisa mendengarnya lagi.
“Tidak, aku tidak seperti itu.” Gumamku sambil memegangi
kepalaku.
“Aku tidak melakukannya! Bukan aku!” gumamku lagi kali ini
air mata sudah membasahi wajahku.
“Stop! Aku masih perawan! Aku benar-benar tidak
melakukannya”
Tatapanku benar-benar kosong bahkan aku tidak menyadari
keberadaan Martin yang ada di hadapanku ini.
Aku kehilangan kendali atas pikiranku sehingga otakku terus
memikirkan masa lalu.
Pelan-pelan Martin mendekatiku dan memegangiku.
“Hey.. Are you ok?”
“No, jangan mendekat! Pergi!!” teriakku dengan ketakutan.
“Riana…ini aku Martin.”
“No, please trust me!!” ujarku lagi dengan suara melemah.
Melihat kondisiku yang seperti ini, Martin menghela napas pelan kemudian dia
berdiri dan melipat lengan kemejanya. Dia mengangkat tubuhku keatas kasur.
“Apa kamu dengar aku berbicara? Hey!” tanya Martin dengan
lembut.
Ponselku berdering dan itu panggilan dari Sam.
Martin mengambil ponselku dan mengangkatnya.
“Ri, gimana kamu di kota B? are you coming back tomorrow?”
tanya Sam.
“Sam, ini aku Martin.” Ujar Martin.
“Kenapa kamu yang mengangkat? Dimana Riana?” tanya Sam.
“Tidak! Semua itu tidak benar..Semua itu tidak benar..”
teriakku kemudian menyusut dengan memeluk kedua kakiku dengan erat.
“Siapa yang berteriak? Apakah itu Riana?” tanya Sam lagi.
“Ya, dia tidak mengizinkanku mendekatinya.”
“kemana kamu membawanya tadi?”
“Bukankah sekarang waktunya kamu kasih tau apa yang harus
“Kamu pelan-pelan mendekatinya dan membuatnya percaya bahwa
kamu sangat mempercayainya. Kamu harus sabar menghadapinya dan ingat jangan
tinggalkan dia sendirian, aku akan segera berangkat ke sana.”
“Baiklah.”
Martin menaruk kembali ponsel Riana dan berjalan ke samping
kasur sambil menghela napas dengan berat.
Martin memegang kedua pipiku, dia mengangkat wajahku untuk
menatap wajahnya.
“Riana, kamu lihat aku, ini aku Martin.”
“Tidak!! Itu semua tidak benar! Kamu harus percaya sama aku!
Aku tidak pernah melakukannya!”
“Riana! Sadarlah!!”
“Aku benaran tidak pernah di perkosa! Kenapa kalian tidak
percaya samaku!” ujarku dengan terisak dan frustasi.
“Kezia Margareth!”
Aku menoleh kearah suara yang memanggil namaku itu.
Sudah lama nama itu tidak di panggil oleh siapapun terakhir kali
yang memanggil nama itu adalah kedua orangtuaku.
Melihat wajah dan keadaanku yang berantakan, Martin merasa
iba.
Dia menarikku masuk ke dalam pelukannya.
“Aku tau bahwa kamu tidak pernah melakukannya, aku percaya
sama kamu.”
“Tidak, kamu berbohong! Kenapa tidak ada satu pun dari
kalian yang percaya sama aku? Kenapa ?!”
”Aku..”
“Jangan katakan bahwa kamu percaya kepadaku jika kalian
menatapku seperti itu!”
Martin tidak tau bagaimana harus menghadapiku jadi dia
menghubungi seseorang.
“Bagaimana cara menghadapi orang yang mengalami PTSD?”
“Siapa yang mempunyai riwayat penyakit itu?”
“Jangan banyak bertanya! Cepat memberitahuku!”
“Apa kau pikir aku adalah dokter yang serba bisa? Carilah
Dokter Psikologi.”
“Aku memberimu waktu 2 menit untuk mencari dan segera
menghubungiku kembali.”
Martin mematikan panggilan sebelum Mark berbicara lebih
banyak lagi.
Sesuai dugaan Martin, Mark selalu bisa di andalkan jika
mengenai profesinya.
“Aku akan menyambungkan panggilan ini.” Ujar Mark langsung menyambungkan
panggilan.
“Hallo.” Ujar Dokter Susan.
“Susan, Aku.”
Belum selesai Mark bicara, Martin langsung memotongnya.
“Hallo Dokter Susan, saya ingin bertanya bagaimana cara
mengatasi pasien yang sedang mengalami PTSD?”
“Apa anda tau penyebab atau kejadian apa yang memicunya?”
“Tidak.”
“Baiklah, bagaimana kondisi pasien sekarang?”
“Saat ini dia sedang ketakutan dan frustasi. Dia terus
berkata bahwa semua orang tidak mempercayainya.”
“Baik, saat ini anda harus mencoba menenangkannya dengan
sabar dan meyakinkannya bahwa anda sangat percaya kepadanya.”
Martin mematikan panggilan yang menurutnya sama sekali tidak
berguna itu.