Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 36



Martin kembali ke kamarnya tetapi dia masih kepikiran dengan


sikapku tadi.


“Sh*t, mengapa aku begitu peduli kepadamu?” gumam Martin.


Semakin di pikir, hati Martin semakin tidak tenang. Dia pun


memutuskan untuk menghubungiku.


Sudah beberapa deringan, Riana masih saja tidak mengangkat


panggilannya. Martin memutuskan untuk keluar dan mengetuk pintu kamar Riana.


Pintu tidak terbuka, di dalam tidak terdengar suara Riana


sama sekali.


“kemana dia pergi?” pikir Martin.


“Dimana Riana?” tanya Tomy dengan berjalan menghampiri


Martin.


“Untuk apa anda bertanya tentang keberadaan wanitaku?”


“apa dia tidak apa-apa?” tanya Tomy lagi untuk memastikan


keadaan Riana.


Tomy tau soal kondisi Riana, apalagi setelah kejadian tadi


Tomy yakin bahwa Riana tidak akan baik-baik saja.


“wanitaku baik-baik saja anda tidak perlu


mengkhawatirkannya.”


Tomy menyerah dan pergi meninggalkan Martin yang masih


berdiri di depan pintu kamar Riana.


Martin mengambil ponsel dan menghubungi manager untuk segera


datang membukakan pintu kamar Riana.


Riana POV.


Aku merasa ketakutan di dalam kamar. Otakku juga tidak bisa


berpikiran jernih.


Bahkan ponsel berdering dan ketukan pintu dari luar pun aku


sudah tidak bisa mendengarnya lagi.


“Tidak, aku tidak seperti itu.” Gumamku sambil memegangi


kepalaku.


“Aku tidak melakukannya! Bukan aku!” gumamku lagi kali ini


air mata sudah membasahi wajahku.


“Stop! Aku masih perawan! Aku benar-benar tidak


melakukannya”


Tatapanku benar-benar kosong bahkan aku tidak menyadari


keberadaan Martin yang ada di hadapanku ini.


Aku kehilangan kendali atas pikiranku sehingga otakku terus


memikirkan masa lalu.


Pelan-pelan Martin mendekatiku dan memegangiku.


“Hey.. Are you ok?”


“No, jangan mendekat! Pergi!!” teriakku dengan ketakutan.


“Riana…ini aku Martin.”


“No, please trust me!!” ujarku lagi dengan suara melemah.


Melihat kondisiku yang seperti ini,  Martin menghela napas pelan kemudian dia


berdiri dan melipat lengan kemejanya. Dia mengangkat tubuhku keatas kasur.


“Apa kamu dengar aku berbicara? Hey!” tanya Martin dengan


lembut.


Ponselku berdering dan itu panggilan dari Sam.


Martin mengambil ponselku dan mengangkatnya.


“Ri, gimana kamu di kota B? are you coming back tomorrow?”


tanya Sam.


“Sam, ini aku Martin.” Ujar Martin.


“Kenapa kamu yang mengangkat? Dimana Riana?” tanya Sam.


“Tidak! Semua itu tidak benar..Semua itu tidak benar..”


teriakku kemudian menyusut dengan memeluk kedua kakiku dengan erat.


“Siapa yang berteriak? Apakah itu Riana?” tanya Sam lagi.


“Ya, dia tidak mengizinkanku mendekatinya.”


“kemana kamu membawanya tadi?”


“Bukankah sekarang waktunya kamu kasih tau apa yang harus


“Kamu pelan-pelan mendekatinya dan membuatnya percaya bahwa


kamu sangat mempercayainya. Kamu harus sabar menghadapinya dan ingat jangan


tinggalkan dia sendirian, aku akan segera berangkat ke sana.”


“Baiklah.”


Martin menaruk kembali ponsel Riana dan berjalan ke samping


kasur sambil menghela napas dengan berat.


Martin memegang kedua pipiku, dia mengangkat wajahku untuk


menatap wajahnya.


“Riana, kamu lihat aku, ini aku Martin.”


“Tidak!! Itu semua tidak benar! Kamu harus percaya sama aku!


Aku tidak pernah melakukannya!”


“Riana! Sadarlah!!”


“Aku benaran tidak pernah di perkosa! Kenapa kalian tidak


percaya samaku!” ujarku dengan terisak dan frustasi.


“Kezia Margareth!”


Aku menoleh kearah suara yang memanggil namaku itu.


Sudah lama nama itu tidak di panggil oleh siapapun terakhir kali


yang memanggil nama itu adalah kedua orangtuaku.


Melihat wajah dan keadaanku yang berantakan, Martin merasa


iba.


Dia menarikku masuk ke dalam pelukannya.


“Aku tau bahwa kamu tidak pernah melakukannya, aku percaya


sama kamu.”


“Tidak, kamu berbohong! Kenapa tidak ada satu pun dari


kalian yang percaya sama aku? Kenapa ?!”


”Aku..”


“Jangan katakan bahwa kamu percaya kepadaku jika kalian


menatapku seperti itu!”


Martin tidak tau bagaimana harus menghadapiku jadi dia


menghubungi seseorang.


“Bagaimana cara menghadapi orang yang mengalami PTSD?”


“Siapa yang mempunyai riwayat penyakit itu?”


“Jangan banyak bertanya! Cepat memberitahuku!”


“Apa kau pikir aku adalah dokter yang serba bisa? Carilah


Dokter Psikologi.”


“Aku memberimu waktu 2 menit untuk mencari dan segera


menghubungiku kembali.”


Martin mematikan panggilan sebelum Mark berbicara lebih


banyak lagi.


Sesuai dugaan Martin, Mark selalu bisa di andalkan jika


mengenai profesinya.


“Aku akan menyambungkan panggilan ini.” Ujar Mark langsung menyambungkan


panggilan.


“Hallo.” Ujar Dokter Susan.


“Susan, Aku.”


Belum selesai Mark bicara, Martin langsung memotongnya.


“Hallo Dokter Susan, saya ingin bertanya bagaimana cara


mengatasi pasien yang sedang mengalami PTSD?”


“Apa anda tau penyebab atau kejadian apa yang memicunya?”


“Tidak.”


“Baiklah, bagaimana kondisi pasien sekarang?”


“Saat ini dia sedang ketakutan dan frustasi. Dia terus


berkata bahwa semua orang tidak mempercayainya.”


“Baik, saat ini anda harus mencoba menenangkannya dengan


sabar dan meyakinkannya bahwa anda sangat percaya kepadanya.”


Martin mematikan panggilan yang menurutnya sama sekali tidak


berguna itu.