Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPISODE 7



FLASHBACK ON (1 tahun yang lalu )


Malam itu aku di ajak pulang ke rumah kakek bersama kedua orang tuaku.


saat tiba di sana, keluarga Joan sudah berada di sana.


Pikirku saat itu mungkin hanya acara kumpul rekan bisnis biasa karena belakangan ini kami memang ada rencana untuk kerja sama.


Saat makan  malam tiba, di meja makan kakek berdeham ringan lalu berkata


“Ehem, hari ini aku panggil kalian semua berkumpul karena ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kalian.”


“Ada apa kek? Kok kelihatan serius begitu?” tanya Tomy sambil mengunyah makanannya.


“Nak, tidak lama lagi kamu akan berumur 28 tahun dan Kakek rasa sudah waktunya kamu untuk menikah.”


“Iya kek, Tomy ada rencana untuk.”  Sebelum Tomy menyelesaikan katanya, Kakek memotongnya.


“Kakek juga sudah menentukan pasangan untuk kamu saat kamu baru lahir ke dunia ini.” jawab kakek dengan suara khas miliknya.


Dengan mata terbelalak Tomy menatap kakek. Kakek menyesap sedikit air minum sebelum melanjutkan pembicaraanya.


“Sebelumnya kamu pasti pernah mendengar cerita bahwa dulu Kakek pernah di tolong oleh Pak William, Kakeknya Joan. Di saat itu aku berjanji dengan William untuk menjodohkan cucu kami ketika kalian sudah besar nanti.


Kakek berharap kalian bisa tunangan setelah ulang tahun kamu nanti.”


Wajah Tomy berubah menjadi tidak senang. Dia melepaskan peralatan makannya lalu menoleh ke arah Kakek.


“Kek, sampai kapanpun aku gak akan mau menerima perjodohan ini. Kakek juga tau kalo aku sudah punya pasangan dan selama ini aku menganggap Joan seperti adik perempuanku.” Ujar Tomy.


Mendengar pernyataan Tomy, Joan tertunduk dan hatinya merasakan sakit dengan penolakan Tomy yang terang-terangan. Tanpa Tomy ketahui, selama ini Joan mempunyai perasaan terhadapnya.


Kakek melepas peralatan makannya kemudian mengangkat wajahnya yang tegas kearah Tomy.


“Ini sudah di tentukan dan tidak ada yang bisa membantahnya!”Ujar Kakek kemudian beranjak pergi meninggalkan meja makan.


Tomy menoleh kearah orang tuanya secara bergantian.


Mereka tidak bersuara begitupun dengan keluarga Pak Nico yang hanya terdiam saja.


“Ternyata hari ini kalian mengajakku kesini hanya untuk pemberitahuan ini kah?!” ujarnya dengan senyum sinis.


Tomy melihat kearah Joan lalu bertanya kepadanya dengan datar.


Joan menunduk dan tidak berani membalas tatapan Tomy.


“Bukankah kamu tau aku punya seorang kekasih?” Tanya Tomy lagi.


“aku…” Ucapnya dengan lirih.


Tomy beranjak meninggalkan meja makan sebelum Joan selesai bicara. Langkahnya tiba-teba berhenti dan dia berbicara tanpa membalikkan badannya.


“Masalah hari ini aku tidak akan menyetujuinya. Aku tidak akan bertunangan dengan Joan.” Ujarnya kemudian pergi meninggalkan rumah kakek.


FLASHBACK OFF


“Setelah kejadian itu, gue sudah jarang pulang ke rumah ortu gue. Kejadian hari ini gue juga gak nyangka dia bakalan datang.” Ujar Tomy.


“Berarti lo rahasiain masalah ini dari Riana?” Tanya Nina dengan cetus.


“Gue gak bermaksud buat rahasiain dari Riana! Awalnya gue pikir gue bisa nyelesaikan masalah ini sebelum Riana pulang.”


“tapi lo gak nyangka dia akan pulang secepat ini.” Sambung Sam dengan datar.


Tomy menatap ke pintu kamar sesaat kemudian dia menghela napas dengan berat sebelum beranjak dari kursi.


“Sam, Nin, gue titip Riana bentar.” Ujar Tomy kemudian pergi meninggalkan mereka yang masih duduk di ruang tamu.


“Sam, Gue susul Tomy dulu nanti baru kita contact lagi.” Ujar Kevin yang dari tadi hanya diam berdiri di dekat jendala.


Dengan wajah datar tanpa ekspresi, Sam menghela napas pelan kemudian ia menoleh kearah Nina.


“Nin, kamu istrirahat aja dulu tadi juga udah nyetir lumayan jauh. Disini biar aku aja yang jagain Riana.”


“Hm, Baiklah Sam aku juga agak lelah. Aku kembali ke kamar dulu ya, nanti kalo ada apa-apa hubungi aku aja.”


Setelah Nina keluar, Sam duduk di samping kasur tempat tidur.


Dia menatap Riana dengan wajah penuh kelembutan.


“Gadis kecil, maafkan aku sudah membiarkanmu terluka hari ini dan aku merasa tidak


berguna ketika aku tidak bisa berbuat apa-apa.” gumamnya dalam hati.