
Riana menarik koper dan berjalan kearah lain dimana Sam sudah menunggunya sejak tadi.
Melihat Riana mendekat, Sam berjalan mengambil koper Riana dan menggandeng tangannya untuk ke mobil.
Sam mengantarkan Riana ke tempat klinik temannya.
“Ri, are you sure?” tanya Sam dengan ragu.
Dengan mimik wajah takut aku menganggukkan kepalaku.
“Jika kamu belum siap, it’s oke kita pulang dulu aja.”
Sam tau bahwa Riana belum siap untuk masalah ini.
“No Sam. I think sudah waktunya aku buat hadapinya.” Ujar Riana dengan senyum tegar.
Riana berjalan memasuki ruangan dokter tersebut.
Setelah melewati beberapa sesi, dokter pun memutuskan untuk menghipnotis Riana.
“Tenang dan fokuslah pada suara ini. Pelan-pelan kamu akan mengantuk dan tertidur.”
Riana tertidur dan dokterpun menuntunnya ke masa lalu.
Melihat reaksi mimic wajah Riana, dokter pun mengakhiri hipnotisnya dengan membangunkan Riana.
“Apakah kamu masih punya masalah lain yang kamu simpan di dalam hati sampai saat ini?”
Riana dengan heran bertanya kepada dokter.
“Apa maksud dokter?”
“Saya merasa anda bukan karena masalah penculikan tetapi ada masalah lain yang hanya anda sendiri mengetahuinya.”
Sam dengan penuh tanya menatap kearahku.
Dengan pasti dan meyakinkan aku menjawab “tidak ada masalah lain, hanya masalah ini saja yang membuatku tidak bisa berada di keramaian.”
“Pulanglah dan tanya hati kamu sendiri apa yang kamu kuburkan di dalam situ. Kamu akan menemukan jawabannya setelah itu.”
Dengan bingung aku meninggalkan ruangan tersebut dan kembali ke apartemen.
Melihat aku masih melamun di ruang tamu, Sam memanggilku.
“Ri, are you okay?”
“Hm, gue oke kok Sam. Kamu pulang saja dulu.”
“Baiklah, hubungi aku jika kamu butuh sesuatu.”
….
Hari ini adalah hari pertamaku kerja di perusahaan Dragon Empire.
Aku langsung melapor ke HRD dan aku di tugaskan menjadi sekretaris Martin.
Aku berjalan memasuki lift untuk ke departemen sekretaris untuk menemui Ethan.
“Hai Ethan.” Ujarku saat menemukannya.
“Eh Hai, kamu sudah datang?”
“Hm, aku habis dari HRD dan mereka memintaku untuk datang menemuimu.”
“Iya, mulai hari ini kamu menjadi sekretaris Presdir.”
“Tapi Ethan, aku masih bingung. Kenapa aku menjadi sekretaris Presdir sedangkan aku kemarin melamar di posisi lain.”
“Hm itu, kamu harus tanya dengan Presdir karena pekerjaanmu Presdir yang mengaturnya.”
Lupakan saja, aku akan mengerjakan tugasku dengan baik. Mohon bimbingannya.”
Ethan membawa Riana ke meja miliknya dan menjelaskan beberapa tugasnya.
“Eh, kenapa wanita itu dekat banget ya dengan Pak Ethan? Apa dia punya hubungan dengannya? Atau jangan-jangan dia lewat pintu belakang lagi makanya bisa mendapatkan posisi ini.” Bisikan sekretaris yang lain setelah
kepergian Ethan.
“Tenang Riana, everything will be okay. Selama kamu tidak melakukannya tidak perlu pedulikan mereka.” Gumamku dalam hati.
Akhirnya jam menunjukkan waktu makan siang dan aku pergi menikmati makan siang bersama Sam di sekitar kantor.
“Bagaimana hari pertamamu kerja?”
“Semuanya oke, teman kerja juga baik semua. Everything goes smoothly.” ujarku dengan mantap.
“Baguslah, aku khawatir kamu tidak kebiasaan di sana.”
“Enggak kok Sam. Don’t worry, mereka semua baik banget sama gue.”
“Baguslah, aku lega mendengarnya. Jika ada yang mengganggumu jangan lupa memberitahuku.”
“Iya-iya.”
“Apa kamu sudah tidak sayang kepada kekasih gelapmu lagi?” canda Sam dengan pura-pura sedih.
“Tidak, aku sudah lelah menjadi kekasih gelapmu.” Tambahku lagi dengan tawa bersama.