Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
49



“Kamu tidak apa-apa Nak?” tanya Nenek.


“Kamu sudah membuatnya kaget Nek.” Ujar Martin.


“Tidak..Tidak Nek, saya tidak apa-apa.” Ujarku dengan cepat.


Mendengar kata Martin tadi, Nenek merajuk dan kembali ke kamarnya yang di susul oleh Martin.


“Nek, apakah kamu marah?”


“Tidak, untuk apa Nenek marah?”


“Karena malam ini aku membawa cucu menantumu pulang.”


“Tidak marah, asal kamu segera memberiku cicit.”


“Nek, aku takut cucu menantumu akan kabur duluan setelah mendengar desakan kamu ini.”


“Apakah aku salah? Apa aku keterlaluan?”


“Tidak..tidak anda tidak salah tapi anda kurang sabar. Sekarang ini kami masih ingin menikmati masa berduaan dulu Nek dan aku sudah janji dengan Riana bahwa aku tidak akan memaksanya untu segera memiliki anak.”


Tegas Martin.


“Kamu…!!”


“Aku bawa Riana pulang dulu, selamat malam Nek.”


“Anak ini benar-benar!!” gumam Nenek.


Martin menemukan Riana yang sedang memainkan ponselnya di sofa ruang tamu.


“Ikut aku.”


“Kemana?”


“Pulang.”


Riana berlari kecil mengikuti langkah Martin yang memasuki mobil.


Ponsel Riana berdering dan ia terima pesan dari Sam.


Hi Ri, sorry gue baru smpat blas chat lo.


Kondisi papa sekarang sudah lumayan membaik and everything here is gonna be okay.


Kamu sendiri gimana? Apa sudah makan?


Aku segera membalas pesan Sam.


Don’t worry, gue udha mkn.


Lusa gue bakal ikut Martin ke Kota B, kita akan brtemu disana.


See you on Friday Sam.


Selesai mengirim, aku simpan ponselku dan menikmati pemandangan yang ada di luar jendela mobil itu.


Dengan mata tertutup, Martin bertanya.


“Sudah Presdir.”


Martin membuka kedua matanya dan menatapku sesaat sebelum dia menutupnya kembali.


“Apa maksud dengan orang ini?” gumamku dalam hati.


Mobil terparkir di depan villa yang sangat besar dan di kelilingi dengan taman dan bunga-bunga yang indah.


Aku takjub melihat desain bangunan yang ada di depan mataku ini.


“ternyata seleranya bagus juga.” Gumamku lagi.


“Tuan, Nyonya.” Sapa seorang pegawai.


“Nyonya, mari saya antarkan anda ke kamar.” Ujar seorang pegawai.


“Baik.”


Riana berjalan mengikuti pegawai tersebut ke lantai 2.


“Nyonya, perkenalkan nama saya Lulu dan yang tadi di bawah itu adalah Lala saudara saya. Kami berdua akan melayani anda di rumah ini. Jika anda membutuhkan sesuatu silahkan memanggil kami berdua.”


“Baik, terima kasih Lulu.”


“Sudah sepantasnya Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu.”


“Baik.”


Melihat kepergian Lulu, Riana langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur.


“Hari yang lelah.” Ujar Riana dengan mata tertutup.


tidak lama Riana pun tertidur hingga esok hari.


Martin POV


Martin memasuki ruang kerjanya. Ia mengeluarkan rokok dan menghisapnya sambil berpikir.


“Tidak ku sangka, Aku akan menikah dengan wanita lain selain kamu.”


Martin menghisap beberapa batang rokok sebelum meninggalkan ruang kerjanya.


“Malam Tuan.” Ujar Lulu saat bertemu dengan Martin saat meninggalkan kamar Riana.


Martin berjalan melewati Lulu dan membuka pintu kamar Riana.


“Wanita ini.” Ujarnya dengan pelan saat melihat Riana sudah tertidur di atas kasur tanpa mengganti pakaian.


Martin mendekat dan menyelimuti Riana dengan pelan sebelum kembali ke kamarnya.



Martin duduk di meja makan sambil memeriksa pekerjaannya di ponsel miliknya.


Riana baru saja turun dari kamar langsung menuju ke meja makan.


“Maaf aku kesiangan Presdir.”