
Suara bel pintu berbunyi terus menerus sampai Martin dan aku terbangun.
Ketika aku membukakan pintu kamar, Martin sudah membukakan pintu dan ternyata Ethan datang mengantar dokumen milik Martin dan baju ganti untuknya.
“Selamat pagi.”
“Pagi Ethan, apakah kamu sudah sarapan?”
“Belum.”
“Bagaimana jika kita sarapan bersama?”
Wajah Martin tiba-tiba saja berubah menjadi tidak senang.
“Apakah kamu sudah siap?”
“Hah?”
“Bersiaplah, kita akan berangkat sebentar lagi.”
“Ah, tunggu sebentar.”
Dengan buru-buru aku kembali kamar dan merapikan diri.
Setelah selesai bersiap-siap, Ethan langsung mengantarkan kami ke kantor sipil.
“Aku Kezia Margareth sudah menikah dengan Martin Goh! Pria yang di kagumi oleh para wanita di Kota A ini sekaligus juga termasuk sebagai atasanku sudah sah menjadi suamiku” gumamku dengan tidak percaya.
“Beritahu media tentang pernikahanku.”
“Baik Presdir.”
“Tunggu sebentar!” ujarku dengan menahan Ethan
Ethan dan Martin berdua menoleh kearahku.
“Bisakah untuk tidak mengumumkannya?”
“Baiklah, lakukan sesuai kemauannya.”
“Baik Presdir.”
Ethan membukakan pintu mobil untukku dan Martin.
“Kamu pulang berkemaslah barang-barangmu, nanti sore aku akan meminta Ethan untuk menjemputmu ke rumahku.”
“Kerumahmu? Kita akan tinggal bersama?”
“Bukankah itu hal biasa bagi pasangan yang sudah menikah?”
Aku terdiam karena sebenarnya aku tidak berpikir sejauh itu.
“Kenapa kamu tidak berpikir jauh Riana!” ujarku dalam hati.
Aku memijit pelipisku yang sama sekali tidak sakit ini.
“Bolehkah untuk tidak tinggal bersama?” tanyaku dengan hati-hati.
“Apa kamu pernah melihat pasangan baru yang pisah rumah?” tanya Martin dengan datar.
Aku menatapnya dengan kesal lalu berjalan meninggalkan mereka begitu saja.
“Nin, lo dimana?”
“Gila lu, semalam di Tarik Martin kemana lu?”
“Pulang ke apartemen cumin buat tanda tangan kontrak doank! Sorry yaa semalam gue tinggalin lo di sana.”
“It’s oke, lo udah tanda tangan?”
“Udah, malah udah siap dari kantor sipil gue.”
“Gercep banget woi.”
“Sudahlah tidak usah di bahas lagi, gue mau kasih tau lo kalo hari ini gue pindah ke rumah Martin jadi apartemen kosong.”
“Gilak Ri, kalian cepat banget kayak orang kebelet nikah.”
“Ntahlah Nin, gue sekarang di suruh pulang beres-beres barang dan begoknya gue, gue gak kepikiran buat tinggal bareng after married.”
“Butuh bantuan ga?”
“Gak usah Nin, gue cuman bawa beberapa kebutuhan aja kok.”
“lo di apartemen?”
“No, gue di jalan mau pulang sih.”
“yaudah kalo gitu lo hati-hati di jalan, hubungi gue kalo lo butuh sesuatu ya.”
“Hm, oke. Bye.”
Dalam perjalanan pulang, aku masih berpikir dengan tidak percaya bahwa aku sudah menikah dengan orang yang tidak ku kenal ini dan sekarang bahkan aku akan tinggal bersamanya.
“Bagaimana aku akan menjelaskan kepada Sam, Om Nathan dan tante Mischa nanti?” gumamku dalam hati.
…
Ethan mengantarkanku ke villa besar milik nenek.
“Silahkan masuk nyonya.” ucap Ethan dengan sopan.
“Ethan, kamu tidak perlu memanggilku seperti itu. Aku harap kamu tetap memanggil namaku seperti biasanya.”
“Maaf Nyonya, anda adalah istri Presdir dan sebaga sekretarisnya saya harus memanggil anda dengan sebutan Nyonya.”
Merasa percuma saja bicara dengan Ethan, aku memasuki vila tersebut.
Aku di sambut dengan hangat oleh Nenek dan para pegawai rumah.
“Nenek.” Sapaku.
“Haha..Kamu sudah datang Nak?Nenek sudah tidak sabar menunggumu sejak dari tadi.”
“Hm iya Nek, tadi Riana harus pulang bereskan barang-barang dulu.”
“ayok duduk sini, Nenek mau memberikanmu sesuatu.”
Aku duduk di samping nenek. Nenek mulai memerintahkan seseorang untuk mengeluarkan satu kotak perhiasan.