Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 21



setelah berpamitan, aku berjalan meninggalkan kedua orang itu dan langsung berjalan kearah tante Mischa.


“Tante Mischa, Om Nathan.” Panggilku kemudian memeluk tante Mischa.


“Riana sayang.” Ujar tante Mischa membalas pelukku dengan erat.


Kami berpelukan bagai ibu dan anak yang sudah lama tidak bertemu.


Om Nathan tersenyum melihat kami berdua yang melepas kangen. Om Nathan berjalan ke sampingku untuk mengambil koper dan memberikannya kepada sang supir.


“Apa kamu sudah makan?” tanya Om Nathan.


“Sudah Om, tadi makan sandwich di dalam pesawat.” Jawabku dengan tersenyum.


“Kalo begitu nanti kita makan bersama dengan tamu Om Nathan ya sayang soalnya orangnya juga baru tiba di Kota B.” ujar tante Mischa


“Oke deh Tan.”


“Halo Riana, kita berjumpa lagi.” Sapa Ethan dari belakang.


“Eh Halo.” Balasku dengan kaget.


“Kalian kenal?” tanya Om Nathan.


“Tadi mereka yang duduk di sebelah Riana.” Jelasku kepada Om Nathan.


“Wah, kebetulan sekali ya kalo begitu mari kita makan siang bersama dulu.” Ujar Om Nathan.


“Jadi mereka adalah tamu Om Nathan yang di maksud tante tadi?” tanyaku kepada tante Mischa sambil berjalan kearah mobil.


“Iya Nak.” Jawab tante Mischa.


….


Kami semua masuk ke dalam satu mobil dan langsung menuju ke restoran yang sudah di reservasi oleh Om Nathan.


“Ma, aku akan bicara dengan Tuan Martin. Mama nanti ajak Riana ke kamar mandi dulu ya.” Bisik Om Nathan saat berjalan memasuki restoran.


Tante mischa menganggukkan kepalanya kemudian langsung berdekatan dengan Riana.


“Ayok tan.” Jawabku dengan melingkar tangan di lengan tante Mischa.


Kami berdua berjalan ke toilet sedangkan ketiga lelaki itu langsung pergi ke dalam ruangan yang sudah di reservasi.


“Apa ada sesuatu yang ingin anda bicarakan kepada saya?” tanya Martin dengan dingin.


“Tuan Martin sebelumnya saya meminta maaf karena saya tidak tau kedatangan keponakan saya itu dan saya berharap dan meminta tolong kepada kalian untuk tidak membahas masalah pekerjaan di depan keponakan saya karena dia belum tau apapun yang sedang menimpa perusahaanku.” Jelas Om Nathan.


Mendengar penjelasan Om Nathan, Ethan langsung menoleh ke Martin.


Martin menganggukkan pelan kepalanya dan langsung menarik kursi untuk dia duduki.


Melihat persetujuan Martin, Om Nathan merasa lega.


“Terima kasih.” Ujar Om Nathan dengan sopan.


Aku dan Tante Mischa memasuki ruangan dan merasa suasana dalam ruangan terlalu canggung.


Tante mischa berusaha memecahkan keheningan dan kecanggungan dengan bertanya.


“Apa kalian sudah memesan makanannya?”


“Belum Ma, kami menunggu kalian.” Jawab Om Nathan.


“Kalo begitu biar Riana dan Ethan saja yang memesan, karena Riana tau selera Om dan Tante sedangkan Ethan tau selera Presdir Martin.” Ujar Riana


“Baiklah, kalian berdua saja yang menentukan, Bolehkah Presdir?” tanya Tante Mischa.


“Hmm.” Ujar Martin dengan datar dan wajah yang dingin.


Selesai memesan kami mengobrol bersama dengan Ethan mengenai Kota B sedangkan Martin hanya diam mendengarkan. Tidak lama hidangan sudah datang dan memenuhi meja. Kami semua langsung memulai makan dan melewatinya tanpa membahas pekerjaan.


“Tante kenapa Om Nathan menjamu client tapi tidak membahas pekerjaan sama sekali?” tanyaku dengan heran.


“Tante juga tidak mengerti mungkin mereka akan membahasnya saat berada di kantor.” Jawab tante Mischa asal.