
“I want your project on NY!”
“Did you mean my new project?”
“Yes, can I?”
“Okay! Send your company detail to my assistent, I’ll process it.”
“Thankyou.”
“It’s my pleasure baby.”
Setelah mematikan panggilan, aku mengirim detail perusahaan Martin kepada Leo.
Leo adalah teman yang ku kenal saat berada di NY.
1 tahun yang lalu aku pernah menyelamatkannya saat berada di NY.
Saat itu dengan putus asa dia berjalan ke menyebrangi jalan tanpa melihat lalu lintas.
“Hey! Be careful!!” teriak Riana.
Leo tidak menghiraukannya dan terus berjalan sampai Riana berjalan dan menariknya ke tepi.
“Are you okay?” tanya Riana dengan jantung deg-degan.
“Why? Why don’t you just let me die? She leaves me with other men! Why she is so cruel ?!” teriak Leo
“Do you think your life or your love is more valuable?” tanya Riana.
“Hey Girl, you don’t know the pain of the broken heart!” ujar Leo dengan sedikit mabuk.
“Then did you know the pain when you know your partner is cheating?”
“Your boyfriend is cheating on you?”
“Maybe.”
Sejak kejadian itu, kami menjadi akrab dan Leo menganggapku seperti adiknya.
Dia akan memberikan apapun yang aku minta selama permintaan itu tidak keterlaluan karena dia merasa jika hari itu tidak ada aku mungkin dia sudah tidak ada di dunia ini dan dia juga merasa apa yang dia punya hingga saat
ini adalah berkat dukunganku.
Ponselku kembali berdering setelah aku mengingat kejadian masa laluku dengan Leo.
“Hallo.”
“Baby, I’ll send you the contract and I hope you can come here to discuss the project.”
“Okay, I’ll let you know asap and thank you Leo.”
“Hm, Bye Leo.”
“Bye Baby.”
Baru saja mematikan panggilan, ponsel kembali berdering dan ini panggilan dari Ethan.
“Halo.”
“Nyonya, apa kamu sudah merasa baikan?”
“Tidak usah khawatir Ethan, aku sudah tidak apa-apa.”
“Baik Nyonya.”
Aku mematikan panggilan dan kembali berbaring di kasur seharian hingga malam hari Martin mengetuk pintuku.
“Siapa?” tanyaku dengan hati-hati.
“Ini aku.” Ujar Martin dengan dingin.
Aku berjalan membukakan pintu dan dengan heran bertanya kepadanya.
“Ada apa?”
“Makanlah bersama!”
“Maaf Presdir, aku sedang tidak berselera, bagaimana jika anda mengajak Ethan saja?”
Martin langsung berjalan memasuki kamar dan duduk di sofa yang ada di samping kasur tersebut.
“Aku akan menunggu disini, sebentar lagi Ethan akan mengantarkan kemari.”
“Baiklah.” Ujarku sambil menutup pintu
“Dasar Bossy!! Gak tau apa kalo orang lagi dapet tuh gak pengen makan!!! Gumamku dengan kesal di dalam hati.
Martin duduk di sofa sambil memainkan ponselnya sedangkan aku kembali ke kasur dan berbaring di sana.
Baru saja berbaring, aku mulai merasakan kantuk sampai menguap berkali-kali.
Tidak lama aku pun tertidur di atas kasur. Martin menyadari Riana sudah tertidur, dia pun mengirim pesan kepada Ethan untuk tidak mengirimkan makanannya ke kamar karena ia takut membangunkan wanita yang sedang tertidur ini.
Melihat Riana tidur dengan nyenyak, Martin kembali ke kamarnya.
Martin masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah itu dia kembali ke meja kerjanya dan mengecek beberapa email dan berkas miliknya.
Alis mata Martin mulai mengerut saat melihat email dari Riana.