Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
59



Martin kembali ke hotel setelah menemani Riana semalaman di rumah sakit.


Baru saja di pertengahan jalan, ponsel Martin berdering.


“Boss, istri anda menghilang dari rumah sakit.”


“Apa katamu?! Kembali ke rumah sakit!” perintah Martin kepada supir yang berada di depannya itu.


Dengan kecepatan tinggi, supir mengantarkan Martin kembali ke rumah sakit.


Melihat wajah Sam dan om Nathan yang khawatir ditambah tante Mischa yang menangis, Martin mendekat dengan langkah besar.


“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Martin.


“Tadi dia masih berada di dalam saat tante pergi. Tante hanya pergi membeli makan untuknya dia sudah tidak berada di dalam ruangan.” Jelas tante Mischa sambil tersengguk.


“Aku akan mencari Riana dulu.”


Ethan berlari dengan langkah besar menghampiri Martin.


“Saya sudah memeriksa CCTV rumah sakit ini, Nyonya Riana meninggalkan rumah sakit ini dengan taxi. Aku sudah meminta orang untuk melacak plat taxi tersebut.”


“Perintahkan semua orang untuk mencari Nyonya!” perintah Martin.


“Ini salah Tante, seharusnya tante tidak biarkan dia sendiri!” ujar Tante Mischa lagi.


"Tunggu!! Apa maksud dengan panggilan Nyonya barusan?" Tanya om Nathan sambil menahan lengan Ethan.


Ethan berbalik menatap Martin.


"Karena Riana sudah sah menjadi istriku!" ujar Martin dengan dingin.


"Apa kamu bilang?!" Tanya Sam dengan shock.


Om Nathan melepaskan lengan Ethan dan berjalan kearah Martin.


"Apa kalian menikah karena aku?" tanya Om Nathan dengan pelan.


Om Nathan masih shock mendengar pengakuan Martin barusan,


tapi bagaimanapun dia tetap harus menanyakan hal ini kepada Martin.


Martin menatap om Nathan dan berkata dengan sungguh.


"Tidak, kami menikah bukan karena anda." ujar Martin kemudian melangkah meninggalkan mereka yang masih terkejut dengan berita barusan.


2 jam sudah berlalu dan tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan Riana.


“Kemana dia bisa pergi?” pikir Sam sambil berjalan bolak balik dengan tidak tenang.


Nina yang sudah mengetahui ini pun terus berusaha menghubungi Riana tapi ponsel Riana sudah tidak dapat di hubungi lagi.


Sam menghampiri Martin dan menanyakan keberadaan Tomy kepadanya.


“Dimana Tomy sekarang?”


“Untuk apa kamu menanyakannya?”


“Mungkin dia tau keberadaan Riana.”


Martin mengerti maksud Sam, ia pun menyuruh Sam menghubungi Tomy.


“Riana hilang, apa kau tau dia dimana?”


“APA!! Apa yang terjadi dengannya?”


“Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang coba berpikirlah dimana kemungkinan Riana berada.”


“Makam orang tuanya apa sudah kalian periksa?”


Mendengar ucapan Tomy, Martin segera kesana bersama dengan Sam sedangkan Tomy pun ikut menyusul kesana.


Di depan pemakaman kedua orang tua Riana, Tomy bersujud dengan wajah babak belur dan berurai air mata mengalir di kedua pipinya.


“Om, Tante maafkan Tomy yang sudah menyakiti Riana!! Tomy tidak bisa menerima kenyataan bahwa hubungan kami akan berakhir seperti ini. Tomy merasa sesat hingga tidak menyadari bahwa perlakuanku telah menyakitinya.”


“Tolong hukum saya Om, Tante. Maafkan aku sudah menyakitinya.” Ujar Tomy lagi kemudian dia berdiri meninggalkan pemakaman di ikuti Sam yang sejak dari tadi menemaninya di sana.


“Tom!” Panggil Sam.


Tomy menghentikan langkahnya dan berkata.


“Maaf Sam, aku sudah mengecewakannya kamu dan dia. Aku tidak pantas kalian maafkan tapi aku tidak bisa mengontrol diriku ketika melihat dia bersama dengan laki-laki lain.”


Tomy kembali melangkah meninggalkan Sam yang berada di belakangnya itu.


Martin masih terus mencari Riana.


Yang dia takutkan adalah emosi Riana yang masih belum stabil, ia takut Riana akan melakukan hal bodoh lagi.


Ponsel Martin tiba-tiba berdering dari nomor yang tidak di kenal.


Biasanya Martin tidak pernah mengangkat panggilan yang tidak dia kenal, apalagi ini adalah nomor pribadinya yang tidak di ketahui oleh banyak orang.


“Halo”


“Ini aku.” Ujar Riana dengan suara yang sangat lemah.


“dimana kamu sekarang? Aku akan menjemputmu!”


“Tolong jangan mencari keberadaanku!! Mulai sekarang hubungan kontrak kita akan berakhir, aku akan mengirim surat perceraian ke kantormu dan maaf sudah tidak menepati janji.” Ujar Riana kemudian mematikan panggilan begitu saja.


“Ethan, lacak nomor ini sekarang juga!!”


Tidak lama Ethan kembali dan melaporkan kepada Martin “Presdir, itu adalah nomor telepon umum yang berada di Jalan Orchid.


“Kita segera kesana!!” perintah Martin.


Ethan mengebut ke jalan tersebut dan mereka mencari Riana di daerah jalan sana tapi tetap saja tidak dapat menemukannya.


Drrrttt…


Ponsel Martin bergetar dan dia menerima sms dari Riana.


Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku dan terima kasih sudah membantu om Nathan.


Periksalah emailmu, aku sudah memberikanmu sebuah kontrak yang kamu inginkan sebagai gantinya.


Tolong sampaikan ke Sam, Om Nathan dan Tante Mischa.


Aku tidak apa-apa, jangan khawatir.


Aku hanya butuh waktu dan tolong jangan mencariku.


Setelah membaca pesan tersebut, Martin menghubungi Sam dan memberitahunya soal sms dari Riana.


“Bagaimana mungkin kita tidak mencarinya pa? bagaimana dia bisa pergi begitu saja.” Tanya tante Mischa dengan terseduh-seduh.


“Ma, berikan Riana waktu, Dia akan pulang jika sudah tepat waktunya. Papa yakin Riana bisa jaga dirinya sendiri dan mungkin ini yang terbaik menurutnya.” Jawab Om Nathan.


“Benar ma apa kata papa. Kejadian kemarin lumayan pukulan besar bagi Riana mungkin dia benar-benar ingin menyendiri dulu.” tambah Sam.


Om Nathan memeluk istrinya ke dalam pelukannya sambil menenangkannya.


Martin POV


Martin kembali ke hotel dan berjalan ke ruang kerjanyasetelah pulang dari pencariannya terhadap Riana.


Dia membuka email yang di maksud oleh Riana dan dia juga mendapatkan kontrak yang di maksud oleh Riana tadi.


Martin membaca semua kontrak tersebut dan meminta Ethan untuk memberikan padanya esok hari.


Martin kembali ke kamarnya dan menemukan sebuah amplop putih di atas kasurnya.


Di dalam terdapat surat, cincin nikah dan juga barang pemberian nenek kepada Riana.


Martin dengan wajah gelap menghubungi Ethan dan memerintahnya.


“Tutup semua perjalanan keluar kota! Temukan Riana malam ini juga!!” perintah Martin.