Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
43



Ntah sudah berapa kali aku menelpon, Sam tetap tidak mengangkat panggilanku sampai Martin keluar dari ruangan Nenek dan bertanya.


“Ada apa denganmu?”


“Bolehkan aku meminta izin sebentar? Ada masalah yang harus aku selesaikan.”


“Pergilah.”


“Terima kasih Presdir.”


Aku pergi dengan buru-buru ke ruangan Sam yang kebetulan ada di sini juga.


“Maaf, Dokter Sam ada?” tanyaku kepada suster yang ada di sekitar.


“Maaf bu, hari ini Dokter Sam tidak Praktek ada yang bisa saya bantu?”


“Apakah kamu tau dia kemana?”


“Hm, sepertinya dia sedang keluar kota untuk beberapa hari ke depan.”


“Baiklah, terima kasih.”


Aku mengeluarkan ponsel dan kali ini aku menghubungi Tante Mischa


“Halo Riana, ada apa sayang?”


“Tante, Riana sudah baca berita apa kalian baik-baik saja?”


“Iya Riana, kami baik-baik saja kamu tidak perlu khawatir.”


“Sam ada di sana Tan?”


“Sam?! Ada, dia ada di sini kamu mau bicara dengannya?”


“Boleh Tante, soalnya dari tadi aku hubungin dia gak angkat telpon Riana.”


“Oh, sebentar ya.” Ujar tante Mischa sambil berjalan mendekati Sam.


“Halo.” Ujar Sam.


“Kamu tidak perlu banyak bicara cukup jawab iya atau tidak saja pada pertanyaanku.


"Is it true?”


“Ya.”


“Apa mereka baik-baik saja?”


“No.”


“Should I go there?”


“No!”


“Take care, jangan lupa terus kabarin aku.”


“Okay.”


Baru saja mematikan panggilan, ponselku langsung bergetar dan aku mendapatkan pesan dari Sam.


Don’t worry about us Riana.


Setelah membacanya, aku langsung membalas pesannya itu.


Okay, kamu juga jaga diri di sana ya.


Jangan khawatir, aku akan menjaga diriku dgn baik.


Kabari aku jika butuh sesuatu, aku akan usahakan untuk kembali ke sana.


Baru saja mengirimnya, aku mendapat pesan lagi dari Sam.


Tidak, kamu jangan ke sini!


Teruslah berpura-pura tidak tau masalah ini karena Papa sudah berpesan untuk tidak memberitahumu.


Kamu tenang saja aku akan terus mengabarimu perkembangan disini.


Setelah membaca pesannya, aku menyimpan kembali ponselku.


Aku berjalan ke ruangan nenek dengan sedih.


Baru saja tiba di depan pintu ruangan, aku mendengar suara nenek tertawa dengan senang.


Aku memasuki kamar pasien nenek dengan wajah yang ku tutupi dengan senyuman.


Melihat kedatanganku, Nenek dengan senang langsung mengangkat salah satu tangan dan mengayunnya.


“Kamu sudah kembali nak?”


“Iya Nek, maaf tadi Riana ada urusan jadi keluar sebentar.”


“Tidak apa-apa Nak, Nenek mengerti jika kalian sibuk. Oiya, barusan Nenek dan Martin sedang berdiskusi tentang perni.”


Belum selesai Nenek bicara, Martin langsung memotongnya dengan cepat.


“Nenek! Biarkan Martin yang memberitahunya.”


“Hahaha, baiklah. Maafkan Nenek yang sudah tidak sabar ini. Hari ini Nenek sangat senang.”


Dengan wajah bingung aku menoleh secara bergantian kearah Nenek dan Martin.


Melihat kebingunganku, Martin berdiri dan mendekat kearahku dengan berkata


“Ikutlah denganku.”


Aku menoleh kearah Nenek sekali lagi sebelum mengikuti Martin.


“Pergilah dengannya Nak.” Ujar Nenek dengan bahagia.


Aku mengikuti Martin sampai ke taman yang ada di sebelah Rumah Sakit itu.


“Ada apa Presdir?” tanyaku dengan heran.


Martin memunggungiku dan dengan datar dia berkata.


“Kita tidak perlu berpura-pura pacaran lagi.”


Aku tersenyum lega karena tidak usah memikirkan masalah ini lagi.


“Bukankah itu berita baik, jadi anda tidak usah berpura-pura lagi di hadapan Nenek anda sendiri.”