Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
50



Lulu dan Lala melihat satu sama lain. Mereka merasa aneh dengan pasangan yang ada di depannya ini.


Bukankah mereka suami istri tapi kenapa mereka terlihat seperti orang asing.


Martin menyadari tatapan Lulu dan Lala, Martin berkata dengan dingin.


“Makanlah! Kita akan segera ke bandara.”


Riana dengan cepat menghabiskan sarapannya dan diapun kembali ke kamar untuk segera bersiap-siap mengemas barang-barangnya.


Waktu sudah menunjukkan jam 09.00 tapi Riana belum juga keluar dari kamarnya.


“Lulu, periksa nyonya apakah sudah siap? Katakan padanya sudah waktunya kita untuk berangkat.”


“Baik Tuan Ethan.”


Lulu berjalan ke kamar Riana dan mengetuk pintu.


“Nyonya.” Panggilnya.


“Masuk.”


Lulu membuka pintu dan berjalan memasuki kamar Riana.


“Nyonya, apakah anda sudah siap?”


“Lulu, bisakah kamu membantuku membeli pembalut? Aku tiba-tiba kedatangan tamu.”


“Baik Nyonya, aku akan segera membelinya.”


Lulu berlari kecil ke ruang tamu.


Lala dengan sigap menghampiri Lulu dan bertanya.


“Apakah nyonya sudah siap?”


Lulu membisikkan sesuatu di telinga Lala dan Lala spontan mengerti langsung menarik lengan Ethan.


“Tuan Ethan, Nyonya kedatangan tamu. Bisakah anda mengantarkan saya untuk pergi membelikannya?”


Ethan mengerti maksud Lala, dengan telinganya sedikit memerah Ethan berjalan melaporkan kepada Martin.


“Kedatangan tamu? Maksudnya?”


Lulu dan Lala merasa canggung begitupun dengan Ethan.


Mau tidak mau Lulu bersuara.


“Tuan\, maksud Ethan adalah Nyonya tiba-tiba datang b***n.”


Dengan canggung Martin meminta Ethan segera pergi mengantarkan Lala.


Tidak lama Lala kembali ke kamar Riana dengan membawakan p*****ut.


Selesai berganti, Riana segera turun ke bawah.


“Maaf sudah membuat kalian menunggu lama.”


Dengan canggung Martin menjawab


Selama perjalanan ke bandara, aku kelihatan pucat karena perutku sudah mulai kram dan kesakitan.


Sesampai di bandara, aku pergi ke kamar mandi untuk merias sedikit wajahku supaya kelihatan segar.


Aku kembali dan kami segera memasuki pesawat dan untungnya kami duduk di ruang VIP sehingga aku bisa sedikit nyaman.


Pesawat telah lepas landas dan aku semakin merasa kesakitan.


Martin melihat aku yang terus memeluk perutku dengan erat, dia memesan segelas air putih hangat untukku.


“Apa begitu menyakitkan?” tanya Martin


Aku tidak menjawabnya sampai seseorang mengantarkan air putih untukku.


“Terima kasih.”


“Apa anda baik-baik saja?” tanya pramugari itu dengan sopan.


“Ya, saya baik-baik saja hanya sedang kedatangan tamu.”


Pramugari itu mengangguk mengerti.



Pesawat dari kota A telah tiba dan Sam sudah menungguku di pintu kedatangan.


Melihat kedatanganku bersama dengan Martin, Sam berjalan mendekatiku.


“Are you okay? Kok kamu kelihatan sedang tidak enak badan?”


“Aku tidak apa-apa hanya kedatangan tamu saja.”


“Kalo begitu kamu pulang ke rumah istrirahat aja.”


“No Sam, hari ini aku akan temani Martin kemanapun dia pergi.”


“Hari ini aku hanya pergi bertemu beberapa client saja, kamu pulang saja bersamanya.” Ujar Martin tiba-tiba.


“Tapi.”


“Ayo Ethan.” Ujar Martin sambil meninggalkan aku dengan acuh.


“Sudahlah, hari ini dia juga tidak membutuhkanmu. Ayo kita pulang.”


“Hmm.”


Sam mengantarkanku kembali ke hotel karena dia sangat tau bahwa selama di kota B, aku tidak akan menempati tempat lain selain hotel.


Setelah memberikan aku obat Pereda nyeri, Sam pergi mengurus perusahaan orang tuanya.


#HOTEL


Setelah melihat kepergian Sam, aku mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.


“You said I can request anything from you right?”


“Yes, anything baby. What do you want?”