
Tomy menghapus air mataku dengan lembut dan kembali berkata dengan pelan.
“Please Ri, jangan menangis lagi.”
Melihat diriku yang begitu sedih, Tomy menarikku ke dalam pelukannnya.
Mendapat kehangatan dari dia, aku malah semakin sedih bahkan air mataku juga membasahi kemejanya.
Selang beberapa saat, Tomy melepaskan pelukannya dan berkata dengan berat.
“Kamu boleh marah dan memukulku sepuasmu tapi berhentilah menangis.”
“Please leave me alone, I’m tired.” Kataku dengan pelan.
“Oke, tapi aku harus mengantarkanmu ke kamar dulu baru aku akan pergi.” Ucapnya lembut.
Aku menganggukkan kepalaku dengan pelan.
Melihat jawabanku, Tomy segera mengantarkan ku kembali ke hotel karena aku menolak untuk kembali ke vila.
Setelah memastikan aku masuk ke dalam kamar, dia pun pergi untuk memberiku waktu menenangkan diri.
Aku masuk ke dalam kamar langsung merebahkan tubuhku di atas kasur.
Pelan-pelan aku merasa tubuhku semakin lemas dan hangat bahkan kepalaku mulai terasa berat dan pusing.
LOUNGE
Setelah mengantarkan Riana ke kamar, Tomy segera berpesan ke dapur untuk menyiapkan bubur abalone untuk Riana. Pelayan hotel segera mengantarkannya untuk Riana setelah disiapkan oleh koki hotel, tapi 10 menit
sudah berlalu tetap saja masih belum di bukakan pintu oleh Riana.
Pelayan berbalik dan berkata.
“Maaf Pak, Makanannya saya bawa balik lagi soalnya dari tadi saya menekan bel dan mengetuk pintu tidak ada jawaban dari dalam mungkin tamunya sedang istrirahat.“
Tomy mengangguk mengerti.
Ia pun memerintahkan pelayan untuk meninggalkannya. Baru saja berbalik badan, Tomy kembali memanggil pelayan tersebut karena firasatnya tidak enak.
“Segera ambilkan kartu kamar itu!”
“Baik pak.”
Pelayan itu dengan buru-buru berjalan kearah resepsionis untuk mengambil kartu kamar dan kembali ke kamar bersama dengan Tomy.
Tililit ( pintu kamar terbuka )
Tomy bergegas memasuki kamar dan menemukanku sedang tertidur di atas kasur.
Dia bernapas lega dan berjalan ke samping kasur untuk menyelimutiku.
“Maaf, aku sudah membuat kamu sedih dan menangis hari ini.” gumamnya dengan pelan.
Tomy mendekatkan wajahnya dan mengecup keningku dengan lembut secara bersamaan dia merasakan bahwa keningku sangat panas. Tomy memastikan lagi dengan telapak tangannya.
“Berikan saya baskom dan kain bersih.” Perintahnya.
“Baik pak.” Jawab pelayan yang sedari tadi berdiri di dekat pintu kamar.
Tomy langsung menghubungi Sam untuk segera memeriksakan Riana.
Tidak butuh waktu yang lama, Sam sudah berada di dalam kamarku dan memeriksa keadaanku.
Setelah memeriksa, Tomy berjalan mendekati Sam dengan wajah cemas dan bertanya.
“Gimana Sam keadaan Riana?”
“Dia gakpapa. Aku juga sudah memberikannya infus, biarkan dia istrirahat dulu.” Jawab Sam dengan datar.
Mendengar jawaban Sam, Tomy merasa lega.
Dia kembali duduk di samping kasur dan menatapiku.
Nina dengan cetus berkata.
“Aku rasa kamu sudah boleh pergi Tom! Di sini cukup ada kami saja.”
“Aku gak akan meninggalkan dia sampai dia sadar.” Ujar Tomy.
“Apakah tidak ada yang ingin kau katakan?” tanya Sam dengan sinis.
Tomy menegakkan tubuhnya dan menatap Sam dan Nina secara bergantian.
Dia mengusap wajahnya dengan kasar lalu berbicara dengan nada frustasi.
“Semua yang kalian liat itu cuman salah paham! Gue gak mungkin hianati Riana! Gue.. Hais..”
Tomy menghela napasnya dengan berat setelah itu baru melanjutkan bicaranya.
“ Sam, Lo paling tau seberapa besarnya cinta gue buat dia. Liat dia sedih aja gue gak tega Nin, gak mungkin gue tega hianati cinta kami dan bikin dia terluka.” ucapnya dengan wajah frustasi.
“Salah paham?! Terus kenapa tadi kalian ciuman?! Lo pikir Riana buta gak bisa liat itu semua?! Heh gak tega? Asal lo tau, tadi lo itu udah buat Riana terluka!” ujar Nina dengan emosi dan sedikit meninggikan suara.
“Gue.. Gue beneran gak tau kenapa dia bisa nyium gue. Gue juga..”
“Iya! Lo emang gak tau kenapa dia bisa nyium lo tapi sebagai cowoknya Riana, lo gak nolak saat dia nyium lo!”
“Gue..”,
“Udah, lo gak usah ngebacot lagi! Toh itu juga CALON TUNANGANMU.” Ujar Nina dengan penuh penekanan.
“Gue kecewa sama lo Tom! Tetapi sebagai sahabat lo, gue mau tau sebenarnya apa yang terjadi di antara lo dan cewek itu.” Ujar Sam dengan wajah dingin.
Tomy kembali mengacak rambutnya sebelum memulai cerita.
“Sebenarnya Joan dia adalah teman kecilku yang baru pulang dari luar negeri. Dia juga sudah ku anggap seperti adikku sendiri bahkan Riana dulu juga kenal sama dia.”