
Sebelum Martin memasuki kamarnya, dia sempat terdengar suara dari kamarku.
Martin mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Ethan.
“Periksa lelaki itu” perintah Martin dan langsung mematikan panggilannya.
“mengapa aku peduli dengan urusan wanita itu?” gumamnya dalam hati Martin.
Ethan langsung memeriksa tentang Tomy sesuai dengan perintah Martin dan hanya butuh waktu 15 menit Ethan sudah mengumpulkan semua tentang Tomy.
Dia mengetuk pintu kamar Martin dan memberikan laptop kepada Martin.
“Presdir, ini data yang anda mau.” Ujar Ethan
Martin menerima laptop tersebut dan langsung melihat hasil yang Ethan berikan kepadanya.
“Dia putra tunggal keluarga Pratama?”
“Benar Presdir dan dia baru saja putus dengan Riana karena Riana mengetahui kejadian yang berada di Dubai itu.”
“Bagaimana wanita itu bisa mengetahuinya sedangkan dia berada di Negara lain?”
“Apa perlu saya periksa tentang Riana?”
“Tidak usah, biarkan saja.”
“Sebenarnya siapa kamu dan wanita seperti apa kamu?” tanya Martin dalam hati.
Ethan berdeham pelan saat menyadari Martin sedang memikirkan sesuatu.
“Presdir, Tadi Tuan Nathan menghubungiku dan membuat janji untuk bertemu di Café yang ada di samping hotel ini.”
“Baiklah, kita pergi sekarang.”
Martin berdiri dan memakai jas yang sudah di lepasnya sejak masuk ke dalam kamar ini.
CAFÉ
“Presdir Martin, saya harap anda dapat berpikir kembali sebelum menghentikan kerja sama kita yang
sudah lama ini.”
“Tuan Nathan, saya tidak akan berinvestasi pada perusahaan yang tidak menguntungkan Dragon Empire.”
“Saya mohon Presdir mempertimbangkannya kembali.”
“Tidak perlu di pertimbangkan lagi sudah saya putuskan untuk menarik kembali investasi saya.” Ujar Martin dengan tegas.
“Anda harusnya tau bahwa.”
“Bagaimana jika saya memberimu 20% saham milik istriku?” tanya Om Nathan
Martin menatap Om Nathan sekilas kemudian dia langsung pergi dan meninggalkan Om Nathan sendirian.
Melihat kepergian Martin, Ethan juga beranjak kemudian berbicara dengan hormat.
“Kamu tenang saja Tuan Nathan, Presdir akan memikirkannya dan jika aku sudah mendapatkan jawaban darinya aku akan segera menghubungi anda.” ujar Ethan kemudian memberi hormat dengan membungkuk badannya.
Ethan berlari kecil mengejar Martin yang sudah berada di depan pintu hotel.
Martin dengan acuh kembali ke kamarnya dan memulai rapat dengan para petinggi Group Dragon.
Martin dan Ethan bekerja jarak jauh dengan mengadakan rapat secara online dan mengurusi beberapa pekerjaan yang berada di Kota A sampai mereka tidak menyadari bahwa langit sudah gelap.
“Presdir, sudah waktunya makan malam anda mau makan apa?”
“Tidak usah, aku tidak lapar. Kamu pergilah makan dan kembalilah ke kamarmu.”
“Baik Presdir, kalo begitu saya permisi dulu.”
Ethan tau sifat atasannya yang satu ini ketika dia sudah bekerja, dia tidak akan berhenti.
Martin bekerja hingga tengah malam sampai perutnya mulai berbunyi dan merasakan lapar.
Martin melepaskan pekerjaannya dan berbicara sendiri sambil melihat kearah jam yang terletak di samping nakas itu.
“Sudah tengah malam begini apa ada sesuatu untuk di makan?”
Martin menghela napas ringan sebelum memutuskan untuk keluar mencari makan.
Saat berada di depan lift, Riana kaget dengan munculnya Martin yang tidak bersuara sama sekali.
“Presdir!”
Riana memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang membengkak akibat tangisannya tadi.
“Kamu mau kemana dengan memakai kacamata hitam itu?”
“Hmm, aku sedikit lapar dan i…ini karena mataku sakit jadi aku memakainya.”
Martin terdiam saat mendengar alasanku yang konyol itu karena Martin dapat menebak kalau di balik kacamata itu ada sepasang mata yang membengkak karena menangis terlalu lama.
“Bagaimana dengan Presdir kenapa anda keluar tengah malam begini?” tanya Riana.