Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 26



“Apa kalian sudah memesan?” tanya Om Nathan.


“Sudah kok pa, mama memesan semua kesukaan Riana.”


Pelayan restoran datang dan menyajikan beberapa lauk yang sudah di pesan oleh Tante Mischa tadi.


“Ayok di makan sayang.” Ujar tante Mischa.


“Iya tante, selamat makan semuanya.” Ujarku lalu melahap makananku.


“Selamat makan.” Jawab tante Mischa.


Selama makan, aku merasa aneh dengan Om Nathan.


Dia terlihat gelisah sehingga tidak begitu selera makan dan entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh kedua orang tua Sam.


Aku mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan kepada seseorang untuk memerika Om Nathan dan perusahaannya.


“Maafin aku Om aku terpaksa memeriksamu karena kalo aku bertanya kepada kalian, kalian pasti tidak akan memberitahuku.” Ujarku dalam hati kemudian menghabiskan makananku.


“Om, bolehkah membiarkanku membayar makanan malam ini?pleasee..” ujarku dengan wajah memohon.


“Tidak! Bagaimana mungkin Om membiarkanmu membayarnya.”


“Tidak apa Om, katanya Om dan tante menganggapku seperti putri kalian sendiri tapi aku merasa.” Ujarku dengan sengaja tidak menyelesaikan kataku.


“Haiss.. kamu selalu saja bisa membuat Om dan Tante tidak bisa berkata lagi.” Ujar Om Nathan dengan pasrah.


“bukankah itu baru Riana?” ujarku dengan canda dan di balas dengan senyum mereka.


Aku pergi ke cashier dan membayar tagihan makanan setelah itu Om Nathan dan Tante Mischa pun mengantarkanku kembali ke hotel.


Sesampai di depan pintu hotel,


“Om, makasih ya sudah antarin aku balik.”


“Kamu mau Om marah?”


“Tidak, aku hanya terbiasa mengatakannya saja aku masuk dulu yaa Om, Tan. Selamat malam.”


“Selamat malam sayang.” Ujar tante Mischa.


“Ada apa?” tanyaku dengan suara serak karena baru bangun tidur.


“Aku sudah memeriksanya perusahaan mereka sedang ada masalah. Aku sudah mengirimkan detailnya ke emailmu.”


“Baiklah, terima kasih.”


Aku menarik napas panjang kemudian menyandar di headboard kasur sambil membuka email yang di maksud tadi.


Setelah membaca aku sedikit terkejut dengan mengetahui apa yang sudah terjadi dengan perusahaan Om Nathan.


“Bagaimana bisa kalian menyembunyikannya dariku.” Ujarku dalam hati.


“Aku harus melakukan sesuatu untuk mereka.” Ujarku dengan berbicara sendiri kemudian langsung bersiap-siap untuk menemui Martin.


Cukup lama aku mengetuk pintu Martin tapi tidak ada satu orangpun yang membukanya dan lebih parahnya lagi aku tidak memiliki nomor ponsel Ethan maupun Martin. Dengan terpaksa aku memutuskan untuk meminta


bantuan resepsionis.


“Halo Mbak, bisakah kamu memberiku no ponsel laki-laki yang berada di kamar 806 itu?”


“Maaf Mbak, kami tidak bisa memberikan informasi mengenai tamu kami.”


“Tapi mbak saya ada perlu dengan mereka dan saya juga mengenal mereka.”


“Maaf mbak tetap tidak bisa karena ini sudah menjadi kebijakan kami.”


“Kalo begitu bisakah kamu membantuku menghubunginya?”


“ini.. saya bicarakan terlebih dahulu kepada atasan saya.”


“Baiklah.”


Wanita itu berbalik dan berjalan kearah Manager mereka yang sedang berdiri di sisi lain sambil mendiskusikannya dengan pelan setelah itu mereka kembali dan Manager Hotel tersebut bertanya kepadaku.


“Maaf Bu, bolehkah saya tau hubungan anda dengan tamu kami?”


“Saya sekretaris barunya dan hp saya lowbat jadi saya tidak bisa menghubungi mereka karena sebelumnya Pak Martin memerintahkanku untuk melakukan sesuatu.”


Sang Manager menatapku sesaat seperti sedang memastikan sesuatu di wajahku kemudian dia berbalik dan mengangguk pelan kearah resepsionis tadi yang melayaniku.