
“Riana, sebenarnya kedatangan tante hari ini tante berharap kamu mau putus dengan Tomy! Tante tau permintaan tante ini keterlaluan dengan ingatnya hubungan kalian yang sudah lama tapi tante terpaksa melakukannya demi
kebaikan Tomy.”
“Apa Tomy tau kedatangan tante hari ini?” tanyaku dengan dingin.
“Tidak, dia tidak tau. Tante rasa tante harus ke sini untuk membicarakannya denganmu.”
“Sebenarnya tidak ada yang perlu di bicarakan lagi tan. Jika tante tidak datang hari ini, aku juga akan pergi menjenguk om Adi sekaligus berbicara dengan Tomy. Aku sudah putuskan untuk mengakhiri hubungan kami berdua dan aku juga akan merestui hubungan mereka.” Ujarku kemudian tersenyum kecil.
Tante Clara sontak kaget mendengar penyataan Riana.
Sebelumnya dia berpikir akan susah untuk berbicara dengan Riana karena bagaimanapun hubungan mereka berdua sudah terjalin cukup lama. Tante Clara beneran tidak menyangka dengan apa yang ia dengar barusan ini.
“Riana, bolehkan tante bertanya?” ujarnya dengan ekspresi bersalah.
“Sebenarnya Riana tau apa yang mau tante tanyakan, Riana hanya bisa bilang bahwa di antara kami sudah tidak ada kejujuran lagi.”
“Maksud kamu?” tanya tante Clara dengan penasaran.
Aku tidak menjawab dan hanya membalas dengan senyuman.
Tante mengerti jadi dia tidak bertanya lagi. Dia mengulurka tangannya dan menggenggam tanganku.
“Maafkan kami sudah menyakitimu nak.” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak tan, jangan meminta maaf sama Riana karena keputusan ini aku yang buat dan sudah ku pikirkan dengan baik. Jadi tidak ada hubungannya dengan tante maupun Joan.” Ujarku sambil tersenyum.
Tante Clara tau senyum yang ada di wajahku itu hanyalah senyum paksa. Dari mataku dia dapat melihat ketegaranku sehingga membuat dia merasa iba. Karena tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, tante Clara pamit pulang dan aku mengantarkannya sampai di depan lift.
Baru saja menjatuhkan tubuhku di atas sofa, bel pintu kembali berbunyi.
Aku kembali membukakan pintu dan kali ini adalah Nina.
“Gue di bawah ketemu nyokap Tomy, dia habis dari sini?” tanya Nina sambil berjalan masuk ke dalam rumah dan melepaskan sepatunya.
“Hm.” Jawabku kemudian langsung kembali ke sofa.
“Lo gak kerja Nin?” tanyaku basa basi.
“Enggak, gue malas jadi sengaja cuti terus main deh ke sini. Hehe.” Ujarnya setelah itu dia berjalan ke dapur.
Nina berjalan kembali sambil mengambil beberapa makanan ringan dan minuman di tangannya.
“Masak gue datang bertamu tapi malahan self service sih.” Dengan sengaja dia mengoceh.
Aku cengengesan menghadap kearahnya.
“Bukan pertama kalinya pun.” Ujarku sambil merebut salah satu snack dan membukanya.
“Oiya kruak.., kamu mencariku ada apa? Kruak..kruakk..” tanyaku sambil mengunyah potato chips.
“Gakpapa sih, bosan aja gue di rumah sendirian.” Ujarnya sambil menyalakan TV.
Melihat Nina sudah menyalakan TV, aku langsung mengangkat kedua kakiku dan merentangkannya di atas sofa.
Aku dan Nina langsung menyari posisi senyaman mungkin.
tanpa di minta Nina langsung mematikan lampu dan menyetel film
horror. Film horror selalu menjadi pilihan kami berdua ketika sedang jenuh. Kami berdua sangat menyukai rasa tantangan dan ketegangan yang bisa membuat jantung kami berdetak dengan kencang.
Di pertengahan film, aku kepikiran dengan Tomy yang selalu mengoceh ketika kami menonton horror.
Tomy selalu mengatakan bahwa kami berdua bukan perempuan yang romantis, karena ketika pacar orang lain akan teriak ketakutan dan mereka akan langsung memeluk pasangannya sedangkan kami berdua hanya memaki atau membulatkan mata saja saat terkejut.
Tanpa kusadari, air mataku kembali jatuh.
Aku segera menghapusnya karena takut akan diketahui oleh Nina.
Nina melirik Riana sebentar, ia langsung mengeluarkan ponselnya dari tas dan mengirimkan pesan untuk Sam supaya dapat segera kesini. Tidak lupa Nina juga berpesan kepada Sam untuk membeli minuman yang beralkohol karena sebenarnya Nina tau tadi itu Riana sempat menghapus air mataku hanya saja dia pura-pura bodoh.