Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 15



Baru saja bangun tidur, aku sudah mendapatkan notifikasi chat dan


panggilan yang tidak terjawab sebanyak 8 kali.


Masih dalam keadaan mager, aku membuka pesan dari Sam, Nina dan salah satu sms panggilan interview dari


group Dragon Empire.


Riana, apa kamu sudah bangun? Jika sudah bangun segera hubungiku.


~ Sam


Kamu mati kemana Riana!! Aku dari tadi menelponmu kenapa tidak di angkat!! Aku bosan


dirumah jadi segera hubungiku balik!!


~ Nina


Selamat Pagi Nona Riana,


Kami dari HRD GROUP DRAGON EMPIRE.


Di sini kami memberitahukan bahwa anda lolos dalam seleksi pemilihan karyawan dan anda


di jadwalkan untuk datang melakukan interview pada besok jam 10 pagi di lantai 15.


Silahkan ambil kartu kunjungan anda di operator depan.


~ GROUP DRAGON EMPIRE


Selesai membaca pesan, aku bermalasan beranjak ke kamar mandi dan mempersiapkan diri. Selesai bersiap-siap, aku menghubungi Nina terlebih dahulu.


“Riana!” teriak Nina dari seberang telepon.


“Tidak usah berteriak, aku masih bisa mendengarkanmu.” Jawabku dengan menjauhkan ponsel dari telingaku.


“Hehehe. Kamu di rumah ya? Café yok.” Ajak Nina


“No! kita shopping aja gimana?”


“Oke deal! Siap-siap 15 menit lagi aku sampe.”


“Oke, bye.” Ujarku kemudian mematikan panggilannya dan kembali menghubungi Sam.


“Kenapa Sam?” tanyaku


“gak papa, apa kamu?” tanyanya dengan suara terbata-bata.


“Don’t worry, aku sudah gakpapa kok. Kamu di rumah sakit kah? Pulang jam berapa hari ini?”


“Ya, aku di rumah sakit mungkin 1 jam lagi sudah pulang kenapa?”


“Aku mau pergi shopping bersama Nina, setelah kamu pulang nanti


segera menyusul ke mall ya. Kita makan malam bersama.”


“Baiklah kalo begitu. Bye.” Ujar Sam kemudian mematikan panggilan.


Baru saja masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas, ponselku


kembali berbunyi dan itu panggilan dari Nina.


“Halo.”


“Aku sudah di bawah, kamu sudah siap kan?” tanyanya Nina.


“Sudah kok, kamu tunggu di bawah aja aku segera turun.” Ujarku sambil menutup pintu.


Karena nanti di susul oleh Sam, aku dan Nina pergi ke mall menggunakan Taxi.


Sesampainya di sana, kami langsung berbelanja beberapa gaun dan baju formal untuk di pakai pada besok hari.


Saat kami memasuki salah satu toko sepatu brand kesukaanku, aku


tidak sengaja bertemu Tomy bersama dengan Joan. Mereka sedang asyik berbelanja


bagaikan pasangan yang sangat serasi dan di tangan Tomy juga membawa beberapa


belanjaannya Joan.


Melihat keberadaan Tomy bersama dengan Joan, Nina marah besar dan ingin menyamperin mereka.


“Dasar cowok breng***!” ujar Nina dengan emosi.


“No Nina!” ujarku menahan lengan Nina.


“Tapi Ri, cowo itu”


“We’re end Nin. Sudah tidak ada hubungannya lagi denganku.”


“What? Kapan itu terjadi? Kenapa gue gak tau?”


“Hm.. nanti aku ceritain sama kamu, sekarang kita pergi ke tempat lain aja yok.”


Nina mengerti maksudku dan dia pun tidak bertanya lagi langsung


Kami berdua kembali pergi ke toko lain mencari sepatu yang tidak


terlalu tinggi untuk di pakai saat interview besok.


Setelah menemukan sepatu yang aku suka, kami berdua ke supermarket


untuk berbelanja kebutuhan rumah.


“Lo gak papa Ri?” tanya Nina dengan ragu sambil mendorong dorongan supermarket.


“Gue gakpapa kok Nin.” Ujarku dengan meyakinkan.


“Kapan kalian putusnya?” tanya Nina dengan hati-hati sambil memerhatikan wajahku.


“Kemarin saat aku menjenguk papanya di Rumah Sakit, aku langsung mengajaknya untuk berbicara.”


“So done already?”


“Yup.” Ujarku sambil memilih beberapa sayur dan daging.


Tidak lama Sam juga sudah tiba.


“Wih, banyak banget belanjaan kalian?” Ujar sam sambil melihat isi dorongan.


“Tentu dong, kan hari ini kamu yang jadi kokinya.” Ujarku sambil terkekeh.


“Apa sajalah asal bisa membuatmu bahagia” ujar Sam sambil mengambil beberapa minuman.


Aku dan Nina tertawa melihat wajah Sam yang memelas sambil


mendorong dorongan. Kami berdua memilih beberapa bahan lagi setelah itu baru ke kasir.


Aku membuka tas dan mengeluarkan kartuku untuk membayar tapi di tahan oleh Sam.


“Biar aku yang membayarnya.” Ujarnya sambil memberikan kartu kepada kasir.


Setelah mengambil barang-barang dan memasukkannya ke dalam bagasi


mobil, kami bertiga kembali ke apartemenku untuk makan malam.


Setiba di rumah, aku menyuruh Nina dan Sam untuk duduk saja karena


hari ini aku akan masak untuk mereka berdua.


“Yakin lo bisa masak?” tanya Nina dengan meragukan.


“Percayalah setelah bertahun-tahun hidup sendiri di luar, semua


hal yang gak bisa menjadi bisa.” Ujarku sambil mempersiapkan barang-barang.


“Sudahlah Nin, biarkan dia mencoba.” Ujar Sam sambil berjalan ke ruang tamu.


Sam dan Nina mengobrol di depan sana sedangkan aku memasak


beberapa hidangan untuk di santap.


Tiba-tiba dari belakang Sam mengangetkanku.


“Apa perlu bantuan?”


“Tidak, mengapa kamu kesini? Temanilah Nina di depan.”


“Aku dengar dari Nina bahwa kamu melamar kerja di DRAGON EMPIRE. Kenapa?”


“Untuk belajar supaya menambah ilmu dan pengalaman mungkin.”


“Tapi kan kamu bisa belajar di perusahaan kamu sendiri. Sudah


waktunya untuk kamu mengambil alih perusahaanmu sendiri.”


“Belum Sam, masih banyak yang harus aku pelajari.”


“Bagaimana jika papa tau? Aku akan di bunuhnya.”


“Dia tidak akan tau jika aku tak memberitahu dan kamu juga tidak memberitahunya.”


Sam menghela napas kemudian membantuku menaruh lauk ke meja makan


setelah itu baru kembali ke dapur.


“Oh iya, papa ada titipkan kartu kredit untukmu dan aku juga sudah


memesan mobil untukmu. Mungkin lusa dia akan mengantarkannya ke sini.”


“Iya, ayo kita makan.”


Nina berlari kecil ke meja makan.


“Wah, harum banget! Aku gak nyangka temanku yang satu ini bisa masak juga.”


“Siapa dulu dong!” ujarku dengan terkekeh.


“Sudah-sudah! Buruan di makan ntar keburu dingin.” Ujar Sam langsung memulai makan.