Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 39



Aku menghabiskan makanan sambil memikirkan masalah om Nathan.


Aku ragu untuk memberitahu masalah ini ke Sam.


“kamu kenapa Ri?”


“Hah? Aku kenapa?” tanyaku dengan pura-pura.


“Kamu seperti ada yang mengganggu pikiranmu, apa kamu tidak suka kerja di sana?”


“Siapa bilang! Aku gak ada mikir apa-apa kok, aku kepikiran kerjaan yang ku tinggal tadi.”


“Sudah, tidak usah di pikirkan lagi. Cepat habiskan makananmu aku akan mengantarmu kembali ke kantor.”


“Baiklah.”


Setelah menghabiskan makanannya, Sam mengantarku kembali ke kantor sedangkan dia sendiri kembali ke rumah sakit.


aku menatap mobil Sam yang perlahan menghilang.


"Sorry Sam, aku gak tau apakah aku harus memberitahumu soal perusahaan Om Nathan." Gumamku.


Aku kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan yang di berikan Ethan tadi.


Beberapa orang yang lain sibuk dengan kerjaannya dan ada beberapa orang yang terus berbisik mengataiku.


Tiba-tiba datang seorang perempuan dengan wajah polos dan cantik mendekatiku dan berkata.


“Tidak perlu menghiraukan mereka kak. Kenalkan namaku Jolin, kamu bisa memanggilku dengan panggilan Jojo.”


“Oh, Hallo Jo, namaku Riana. Mohon bimbingannya ya.”


Setelah perkenalan itu, aku kembali melanjutkan pekerjaanku hingga waktu menunjukkan waktu untuk pulang.


Aku membereskan meja dan pulang dengan tepat waktu.


Setiba di apartemen aku melewati hari dengan memikirkan ucapan dokter itu dan masalah om Nathan.


Aku mulai menghubungi kenalanku yang kebetulan adalah pengurus sekaligus kepala proyek yang di incar oleh Martin itu.


Esok harinya baru saja tiba di kantor, Ethan sudah menunggu di mejaku.


“Selamat pagi Riana.”


“Selamat pagi juga Ethan.” Ujarku dengan tersenyum lembut.


“Riana, kamu langsung ikut aku aja ke ruangan presdir.”


Ethan tidak menjawab pertanyaanku melainkan dia langsung meninggalkanku dan berjalan ke depan pintu lift  khusus.


Melihat kepergian Ethan yang begitu saja, mau tidak mau aku harus berlari kecil kearahnya dan mengikutinya masuk ke dalam lift khusus.


“Ethan, mengapa kamu membawaku ke ruangan Presdir?” tanyaku dengan penasaran.


“Mulai hari ini kamu akan menjadi sekretaris pribadi Presdir.”


“Apa?! Tapi bukankah dia sudah punya kamu? Dan seingatku kemarin bukankah aku.”


Belum selesai bicara, suara lift sudah terdengar dan pintu lift pun terbuka.


“Masuklah ke dalam ruangan Presdir, dia akan memberitahumu tugasmu.”


“Baiklah.”


Aku berjalan masuk ke dalam ruangan Martin.


Ruangan yang memiliki interior minimalis ini terlihat begitu besar dan luas.


Di ruangan ini terdapat sofa dan meja untuk tamu sedangkan di tengah-tengah ruangan ada meja kerjanya Martin yang terlihat sangat besar dan di penuhi oleh kertas-kertas putih yang berserakan di hadapannya.


Martin terlihat sangat sibuk dengan berkas-berkas yang ada di hadapannya itu.


Bahkan meja yang ada di hadapan sofa itupun di penuhi oleh kertas.


aku sudah berdiri di depan meja Martin, Dia tidak melirik ataupun melihatku.


Dengan pelan aku bersuara.


“Presdir, apakah ada yang bisa ku bantu?”


Martin menghentikan pekerjaan yang ada di tangannya itu kemudian baru mengangkat wajahnya.


“Apa Ethan sudah memberitahu pekerjaanmu?”


“Dia hanya mengatakan bahwa saya akan menjadi sekretaris pribadi anda. terus terang  saya tidak


mempunyai pengalaman di bidang ini jadi mohon bantuan anda untuk mendidik saya.”


“Baiklah, kamu buatkan aku kopi kemudian bantu aku bereskan berkas-berkas yang ada di meja sana.” Ujarnya sambil melihat kearah meja di depan sofa.


“Baik, kalau begitu saya permisi dulu.”