Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
52



Riana mengirimkan kontrak kerja sama proyek yang ia incarkan selama ini.


“Bagaimana mungkin wanita ini bisa mendapatkannya begitu saja?” gumam Martin.


Martin mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Ethan


“Apa tadi nyonya ada hubungi kamu?” tanya Martin.


“Tidak ada Boss, kenapa?”


“Tidak ada.” Ujar Martin kemudian mematikan panggilan.


Esok hari Riana terbangun dari tidur nyenyaknya.


“Astaga, aku ketiduran saat si Boss ajak makan bersama.” Ujarku sambil tepuk jidat.


Dengan buru-buru aku bersiap-siap dan berlari kecil ke kamar Martin.


Riana mengetuk pelan kamar Martin.


“Hm.. sepertinya masih tidur.” Ujarku dengan pelan.


Baru saja berbalik badan, Martin membuka pintu kamarnya dengan masih menggunakan balutan handuk kimono.


“Ka..kamu kenapa tidak memakai baju?” ujarku saat menatap tubuh Martin.


“Bukankah kau mengetuk pintuku?”


“Iya tapi bisakan kamu pake baju dulu.”


“Tunggu aku di ruang tamu, kita akan sarapan bersama.”


“Baiklah.”


Aku kembali ke ruang tamu sambil menunggu Martin yang sedang bersiap-siap.


Aku dan Martin tinggal di President Suite dimana terdapat dua kamar di dalam ruangan ini.


“Kamu sudah baikan?” tanya Martin yang tiba-tiba muncul dari belakang.


“Hm, sudah berkat obat dari Sam.”


“Baguslah kalo begitu.”


“Barusan aku dapat kiriman dari Ethan jadwal kamu hari ini, apakah kamu akan bertemu dengan om Nathan hari ini?”


“Bukankah itu tujuan kita kemari?”


“Aku harap kamu merahasiakan soal.”


“Tenang saja, aku tidak akan memberitahu siapapun jika kamu tidak mengijinkannya.”


“Terima kasih.”


Aku beranjak dari sofa dan berjalan ke arah Martin yang sedang mengikat dasinya.


“Bolehkah aku yang mengikatnya?” tanyaku dengan hati-hati.


“Sebagai ucapan terima kasihku.” Ujarku lagi.


“Baiklah.” Martin memberikan dasi tersebut ke Riana.


Riana membantu mengikatkan dasi dan memakaikannya di leher Martin.


Tiba-tiba Riana keingat dengan Tomy.


Dulu waktu masih bersamanya, Riana sering membantu Tomy memakaikan dasi.


Sepertinya ini pertama kalinya Riana membantu seorang pria memakai dasi selain Tomy.


Melihat Riana yang termenung, Martin berdeham pelan.


“Maaf.” Ujar Riana dengan cepat memakaikan dasinya.


Setelah selesai, Martin dan Riana pergi ke restoran untuk sarapan bersama.


Selesai sarapan, Martin kembali bertemu dan meeting dengan beberapa orang sampai pada waktunya bertemu dengan om Nathan.


“Tuan, acara makan ini bolehkah saya tunggu di tempat lain?”


Martin menatapku dengan heran.


“Om Nathan tidak tau jika saya bekerja sebagai sekretaris anda.” Tambahku lagi.


“Baiklah, kamu tunggu saja di dalam mobil.”


“Terima kasih.”


Riana berjalan ke mobil, di pertengahan jalan Riana bertemu dengan Sam.


“Kamu mau kemana?” tanya Sam.


“Aku gak mau om tau kalo aku bekerja di tempat Martin jadi tadi aku izin sama Martin untuk nunggu di mobil.”


“Haiss, kalo begitu aku ke dalam dulu.”


“em, bye.”


Riana kembali ke mobil dan menunggu sekitar 1,5 jam di dalam mobil.


“Kok lama banget sih?” gumam Riana.


Baru saja Riana keluar dari mobil, dia bertemu dengan om Nathan dan Martin yang baru saja keluar dari pintu keluar.


Mereka bertemu dan dengan kaget Om Nathan dan tante Mischa bertanya kepada Riana.


“Kenapa kamu bisa keluar dari mobil Tuan Martin?” tanya om Nathan.


“A..anu om..Aku..aku..” ujar Riana dengan gugup.


“Tuan Nathan, Dia adalah pacar saya.” Ujar Martin dengan tenang.


Deg!! Jantungku hampir berhenti berkat Martin.