Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 14



“Aku tidak mau mendengar penjelasanmu lagi Tom.” Ujarku dengan


memotong pembicaraannya.


“Kamu harus mendengarnya sayang!”


“Aku tidak mau lagi!! dan aku tidak butuh penjelasanmu lagi!


Semuanya sudah berakhir Tom! Aku kesini bukan untuk meminta penjelasanmu!.”


“Kamu egois Riana! Kamu bahkan tidak mau mendengarkannya terlebih


dahulu! Apa artinya hubungan kita selama 6 tahun ini, kamu bahkan tidak memberiku


kesempatan!”


“Ya, apa artinya hubungan 6 tahun ini?” tanyaku dengan sangat


pelan.


“Apa maksudmu?”


“Perlukah sampai aku mengatakannya semua baru kamu puas Tom? Tidak


bisakah cukup sampai disini saja?”


“Aku tidak mau hubungan kita berakhir seperti ini Riana, Kenapa


kamu tidak mau mendengar penjelasanku? Kenapa kamu tidak mau mempercayaiku? Kenapa


Ri??” tanya Tomy dengan suara serak.


 “Kenapa? Harusnya kamu yang paling tau kenapa Tom! Percaya? Iya,


aku pernah dengan bodohnya mempercayaimu.” Ujarku sambil menertawakan diri


sendiri.


“Apa maksudmu?!”


“Apa maksudku?! Seharusnya kamu yang paling tau apa maksudku! Apa


kamu mau menjelaskan bagaimana kalian melewati malam saat berada di Dubai


kemarin? Apa kamu juga mau menjelaskan bagaimana dia selalu ada di sisimu saat


aku menelpon? Atau bagaimana perasaan saat kamu menemani dia belanja tapi yang


kamu katakan kepadaku adalah saudaramu? Atau mungkin aku harus mendengar


penjelasan sejak kapan kamu mulai berbohong?!” ujarku dengan penuh penekanan.


Tomy terdiam dengan membulatkan matanya.


Dia sangat kaget mendengar ucapanku barusan,.


“Ba..Bagaimana? I..Itu aku bisa menjelaskannya kepadamu Riana”


ujar Tomy.


“Sudah tidak ada yang perlu di jelaskan lagi Tom.” Ujarku dengan


pelan.


“Terima kasih sudah pernah hadir di hidupku. Kita cukup sampai


disini saja.” Ujarku lagi sambal beranjak meninggalkan Tomy yang masih duduk disana.


Setelah berjalan cukup jauh, aku menekuk kedua lututku dan


memeluknya dengan erat.


Tubuhku bergetar dan aku terisak karena hati ini terasa sangat


perih.


Dari jauh ada seorang nenek dan cucu laki-lakinya sedang menatap


kearah Riana.


Mereka menyaksikan kejadian antara Riana dan Tomy barusan.


“Kasian anak perempuan itu. Walaupun dia di sakiti oleh pacarnya


tapi dia begitu tegar dan tenang saat berhadapan dengan pacarnya. Hatinya pasti


sangat terluka.” Ujar nenek itu dengan tatapan iba.


“Siapa suruh dia mau di sakiti padahal udah tau semuanya.!” Ujar


laki-laki itu dengan aura dingin dan angkuh.


“Setidaknya dia lebih tegar dalam menghadapi masalah ketimbang


kamu yang selalu melarikan diri saat berhubungan dengan wanita itu.” Ujar


nenek.


Wajah lelaki itu berubah, aura yang dia pancarkan semakin dingin


dan angkuh.


“Jangan di bahas lagi Nek. Ayo kita pergi dari sini.” Ujar lelaki


itu.


Riana masih tetap berada di posisinya untuk beberapa saat sampai


ponselnya berdering.


“Kamu dimana Ri? Kamu sama Tomy?” Tanya Sam dengan hati-hati.


“Aku ditaman rumah sakit Sam, apa kamu sudah selesai?” Ujarku


dengan lirih.


Mendengar suaraku yang habis menangis, Sam segera beranjak dari


kursinya.


Dengan buru-buru dia segera melepas jubah putihnya kemudian dia


langsung berlari dari ruangannya dan berkata.


“Kamu tunggu aku di sana!”


“Emm”


yang pada akhirnya dia menemukan Riana yang sedang terjongkok di salah satu


sudut taman.


Sam mendekati Riana dan bertanya dengan pelan.


“Are you okay?”


Mendengar suara Sam, aku mengangkat kepalaku dengan pelan.


Sam melihat keadaanku yang sangat menyedihkan, ia membantu ku berdiri.


Baru saja berdiri tegap, aku terjatuh di genggaman Sam.


“Sudah berapa lama kamu seperti ini di sini?” Tanya Sam kemudian


langsung menggendongku ke kursi yang ada di sekitar.


“Aku tidak tau.” Ujarku dengan lirih.


Aku tertunduk dan tidak berani membalas tatapan Sam, karena aku


tau kalo saat ini dia pasti sedang marah karena kebodohanku. Melihat aku yang


seperti ini, Sam menelan kembali kata-kata marah yang mau dia lontarkan.


Perlahan aku pun mengangkat kepalaku untuk menatap wajah Sam, melihat dia diam


saja tanpa mengeluarkan satu katapun dengan mata berkaca-kaca aku langsung


memeluk pinggangnya dan menangis tersedu-sedu.


“Aku yang mengakhiri ini semua, tapi kenapa hati ini terasa sakit banget!”


Sam terdiam, dia hanya memelukku dengan erat dan mengelus rambutku


dengan pelan.


“Jika itu terlalu menyakitkan untukmu, mengapa kamu mengakhirinya?” tanya Sam.


Aku menangis sampai tidak peduli lagi dengan orang-orang yang


berada di sekitar.


Sam merasa sedih melihat aku menangis seperti itu, dia mendorongku


keluar dari pelukannya dan berkata.


“Kita cari Tomy saja untuk mendengarkan penjelasannya! Daripada kamu


bersedih seperti ini di sini, berilah ia satu kesempatan lagi.”


“Tidak! Aku tidak mau!!”


 “Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari aku Ri? Ini bukan


seperti kamu, apakah kamu memutuskan hubungan kalian karena permintaan


mamanya?!”


“Bukan! Bukan karena Tante Clara.”


“Jadi apa kalo bukan karena itu? Apakah karena ciuman di villa


itu?”


“Bukan Sam, please jangan di tanya lagi.”


“Oke, aku tidak akan memaksamu. Janganlah menangis lagi.”


Aku merasa bersalah karena tidak menceritakannya kepada Sam.


“Sebenarnya aku tidak mau cerita kepadamu karena aku tau kamu akan


membencinya jika kamu mengetahui semuanya.” Gumamku dalam hati.


Baru saja menghapus air mataku, datang seorang suster menghampiri Sam.


“Hallo Dok, ini pasien dokter ya? Apakah dokter butuh bantuan?”


Aku menyembunyikan wajahku di dalam jas putih Sam.


Sam merangkulku dan berkata dengan wajah tersenyum.


“Bukan, ini tunangan saya. Maaf dia hari ini sedang sedih jadi


tidak saya perkenalkan dulu ya.”


“Oh begitu, maaf sudah mengganggu Dok.”ujar suster itu sebelum pergi


meninggalkan kami.


Aku mencubit pinggang Sam setelah melihat kepergian suster itu.


Aku kesal karena  Sam selalu menjadikanku tameng ketika dia menolak Wanita yang mendekatinya.


“Kamu mau sampai kapan menolak para wanita?”


“Sampai aku menemukan pujaanku. Haha..” ujarnya dengan geli.


Aku tersenyum dengan ucapan Sam barusan.


“Ri, janjilah kepadaku untuk tidak bersedih lagi ya… I’ll always be with you.”


“Thank you Sam.”


Sam menarik tanganku menuju ke mobilnya.


Ia mengantarkanku pulang ke rumah untuk istrirahat, dia juga tidak


lupa membelikanku makan siang untukku.


Setelah memastikan aku sudah makan siang, dia baru kembali ke


rumah sakit.


Hari ini aku istrirahat lebih cepat karena kepalaku terasa sangat berat.


“Riana, hari ini semuanya sudah berakhir dan mulai besok kamu akan


memulai hidup kamu dalam lembaran baru! so jiayo Riana!” ujarku untuk


menyemangati diri sendiri dan setelah itu aku pun tertidur hingga esok hari.