
“Aku tidak mau mendengar penjelasanmu lagi Tom.” Ujarku dengan
memotong pembicaraannya.
“Kamu harus mendengarnya sayang!”
“Aku tidak mau lagi!! dan aku tidak butuh penjelasanmu lagi!
Semuanya sudah berakhir Tom! Aku kesini bukan untuk meminta penjelasanmu!.”
“Kamu egois Riana! Kamu bahkan tidak mau mendengarkannya terlebih
dahulu! Apa artinya hubungan kita selama 6 tahun ini, kamu bahkan tidak memberiku
kesempatan!”
“Ya, apa artinya hubungan 6 tahun ini?” tanyaku dengan sangat
pelan.
“Apa maksudmu?”
“Perlukah sampai aku mengatakannya semua baru kamu puas Tom? Tidak
bisakah cukup sampai disini saja?”
“Aku tidak mau hubungan kita berakhir seperti ini Riana, Kenapa
kamu tidak mau mendengar penjelasanku? Kenapa kamu tidak mau mempercayaiku? Kenapa
Ri??” tanya Tomy dengan suara serak.
“Kenapa? Harusnya kamu yang paling tau kenapa Tom! Percaya? Iya,
aku pernah dengan bodohnya mempercayaimu.” Ujarku sambil menertawakan diri
sendiri.
“Apa maksudmu?!”
“Apa maksudku?! Seharusnya kamu yang paling tau apa maksudku! Apa
kamu mau menjelaskan bagaimana kalian melewati malam saat berada di Dubai
kemarin? Apa kamu juga mau menjelaskan bagaimana dia selalu ada di sisimu saat
aku menelpon? Atau bagaimana perasaan saat kamu menemani dia belanja tapi yang
kamu katakan kepadaku adalah saudaramu? Atau mungkin aku harus mendengar
penjelasan sejak kapan kamu mulai berbohong?!” ujarku dengan penuh penekanan.
Tomy terdiam dengan membulatkan matanya.
Dia sangat kaget mendengar ucapanku barusan,.
“Ba..Bagaimana? I..Itu aku bisa menjelaskannya kepadamu Riana”
ujar Tomy.
“Sudah tidak ada yang perlu di jelaskan lagi Tom.” Ujarku dengan
pelan.
“Terima kasih sudah pernah hadir di hidupku. Kita cukup sampai
disini saja.” Ujarku lagi sambal beranjak meninggalkan Tomy yang masih duduk disana.
Setelah berjalan cukup jauh, aku menekuk kedua lututku dan
memeluknya dengan erat.
Tubuhku bergetar dan aku terisak karena hati ini terasa sangat
perih.
Dari jauh ada seorang nenek dan cucu laki-lakinya sedang menatap
kearah Riana.
Mereka menyaksikan kejadian antara Riana dan Tomy barusan.
“Kasian anak perempuan itu. Walaupun dia di sakiti oleh pacarnya
tapi dia begitu tegar dan tenang saat berhadapan dengan pacarnya. Hatinya pasti
sangat terluka.” Ujar nenek itu dengan tatapan iba.
“Siapa suruh dia mau di sakiti padahal udah tau semuanya.!” Ujar
laki-laki itu dengan aura dingin dan angkuh.
“Setidaknya dia lebih tegar dalam menghadapi masalah ketimbang
kamu yang selalu melarikan diri saat berhubungan dengan wanita itu.” Ujar
nenek.
Wajah lelaki itu berubah, aura yang dia pancarkan semakin dingin
dan angkuh.
“Jangan di bahas lagi Nek. Ayo kita pergi dari sini.” Ujar lelaki
itu.
Riana masih tetap berada di posisinya untuk beberapa saat sampai
ponselnya berdering.
“Kamu dimana Ri? Kamu sama Tomy?” Tanya Sam dengan hati-hati.
“Aku ditaman rumah sakit Sam, apa kamu sudah selesai?” Ujarku
dengan lirih.
Mendengar suaraku yang habis menangis, Sam segera beranjak dari
kursinya.
Dengan buru-buru dia segera melepas jubah putihnya kemudian dia
langsung berlari dari ruangannya dan berkata.
“Kamu tunggu aku di sana!”
“Emm”
yang pada akhirnya dia menemukan Riana yang sedang terjongkok di salah satu
sudut taman.
Sam mendekati Riana dan bertanya dengan pelan.
“Are you okay?”
Mendengar suara Sam, aku mengangkat kepalaku dengan pelan.
Sam melihat keadaanku yang sangat menyedihkan, ia membantu ku berdiri.
Baru saja berdiri tegap, aku terjatuh di genggaman Sam.
“Sudah berapa lama kamu seperti ini di sini?” Tanya Sam kemudian
langsung menggendongku ke kursi yang ada di sekitar.
“Aku tidak tau.” Ujarku dengan lirih.
Aku tertunduk dan tidak berani membalas tatapan Sam, karena aku
tau kalo saat ini dia pasti sedang marah karena kebodohanku. Melihat aku yang
seperti ini, Sam menelan kembali kata-kata marah yang mau dia lontarkan.
Perlahan aku pun mengangkat kepalaku untuk menatap wajah Sam, melihat dia diam
saja tanpa mengeluarkan satu katapun dengan mata berkaca-kaca aku langsung
memeluk pinggangnya dan menangis tersedu-sedu.
“Aku yang mengakhiri ini semua, tapi kenapa hati ini terasa sakit banget!”
Sam terdiam, dia hanya memelukku dengan erat dan mengelus rambutku
dengan pelan.
“Jika itu terlalu menyakitkan untukmu, mengapa kamu mengakhirinya?” tanya Sam.
Aku menangis sampai tidak peduli lagi dengan orang-orang yang
berada di sekitar.
Sam merasa sedih melihat aku menangis seperti itu, dia mendorongku
keluar dari pelukannya dan berkata.
“Kita cari Tomy saja untuk mendengarkan penjelasannya! Daripada kamu
bersedih seperti ini di sini, berilah ia satu kesempatan lagi.”
“Tidak! Aku tidak mau!!”
“Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari aku Ri? Ini bukan
seperti kamu, apakah kamu memutuskan hubungan kalian karena permintaan
mamanya?!”
“Bukan! Bukan karena Tante Clara.”
“Jadi apa kalo bukan karena itu? Apakah karena ciuman di villa
itu?”
“Bukan Sam, please jangan di tanya lagi.”
“Oke, aku tidak akan memaksamu. Janganlah menangis lagi.”
Aku merasa bersalah karena tidak menceritakannya kepada Sam.
“Sebenarnya aku tidak mau cerita kepadamu karena aku tau kamu akan
membencinya jika kamu mengetahui semuanya.” Gumamku dalam hati.
Baru saja menghapus air mataku, datang seorang suster menghampiri Sam.
“Hallo Dok, ini pasien dokter ya? Apakah dokter butuh bantuan?”
Aku menyembunyikan wajahku di dalam jas putih Sam.
Sam merangkulku dan berkata dengan wajah tersenyum.
“Bukan, ini tunangan saya. Maaf dia hari ini sedang sedih jadi
tidak saya perkenalkan dulu ya.”
“Oh begitu, maaf sudah mengganggu Dok.”ujar suster itu sebelum pergi
meninggalkan kami.
Aku mencubit pinggang Sam setelah melihat kepergian suster itu.
Aku kesal karena Sam selalu menjadikanku tameng ketika dia menolak Wanita yang mendekatinya.
“Kamu mau sampai kapan menolak para wanita?”
“Sampai aku menemukan pujaanku. Haha..” ujarnya dengan geli.
Aku tersenyum dengan ucapan Sam barusan.
“Ri, janjilah kepadaku untuk tidak bersedih lagi ya… I’ll always be with you.”
“Thank you Sam.”
Sam menarik tanganku menuju ke mobilnya.
Ia mengantarkanku pulang ke rumah untuk istrirahat, dia juga tidak
lupa membelikanku makan siang untukku.
Setelah memastikan aku sudah makan siang, dia baru kembali ke
rumah sakit.
Hari ini aku istrirahat lebih cepat karena kepalaku terasa sangat berat.
“Riana, hari ini semuanya sudah berakhir dan mulai besok kamu akan
memulai hidup kamu dalam lembaran baru! so jiayo Riana!” ujarku untuk
menyemangati diri sendiri dan setelah itu aku pun tertidur hingga esok hari.